1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Senjakala Otoritarianisme

Andy Budiman6 Mei 2013

Hasil Pemilu Malaysia menunjukkan Barnas kembali menang dengan catatan soal kecurangan dan raihan suara terburuk sepanjang sejarah kekuasaan mereka. Angka-angka memperlihatkan keinginan rakyat atas perubahan.

https://p.dw.com/p/18SpP
Foto: Getty Images

Pemilu Malaysia adalah sangkakala bagi politik otoritarianisme.

Koalisi yang berkuasa, yakni Barisan Nasional, kembali menang dengan perolehan suara terburuk sepanjang sejarah, dan sejumlah pertanyaan tentang kecurangan.

Sepekan sebelum pemilihan, hampir semua polling menunjukkan bahwa oposisi Pakatan Rakyat unggul tipis. Meski ada catatan bahwa sekitar 20 persen pemilih masih belum menentukan sikap.

Itulah yang menyebabkan Anwar Ibrahim mempersoalkan hasil penghitungan suara. Tentang temuan kotak suara mencurigakan dan pengerahan ”pemilih gelap“ untuk memenangkan Barnas.

Bisa jadi memang ada kecurangan. Untuk kontroversi hasil akhir itu, kita hanya bisa menunggu.

Selama setengah abad, Barisan Nasional berkuasa dengan cara otoriter, sambil menjalankan politik primordialisme.

Hasil penghitungan menunjukkan para pemilih ingin itu diakhiri.

Dari raihan Barnas, terlihat hanya pemilih Melayu yang tetap solid mendukung UMNO. Sementara etnik Cina dan India yang selama ini mendukung Barnas lewat Asosiasi Cina-Malaysia MCA, Kongres Malaysia-India MIC serta Partai Gerakan Rakyat Malaysia suaranya turun signifikan.

Keturunan Cina dalah etnik terbesar kedua, dan kini suara itu menyeberang ke oposisi. Aspirasi atas kebebasan yang lebih luas, pemberantasan korupsi dan diakhirinya kebijakan yang hanya menguntungkan pebisnis Melayu, kini mereka lihat ada di kelompok oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim.

Kalaupun nanti Barisan Nasional dinyatakan sebagai pemenang, kita akan melihat sebuah perubahan drastis. Pemerintah akan dipaksa membuka keran kebebasan lebih besar dan menghapus kebijakan ekonomi yang hanya menguntungkan etnik Melayu.

Inilah senjakala bagi setengah abad politik otoritarianisme dan primordialisme di Malaysia.