1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Singapura Luncurkan Bank Otak Pertama, Siapa Mau Jadi Donor?

28 November 2019

Singapura baru saja meresmikan bank otak yang memungkinkan para ilmuwan meneliti otak manusia setelah meninggal dunia. Bank ini mencari donor karena sejauh ini baru ada tiga orang yang bersedia menyumbangkan otaknya.

https://p.dw.com/p/3TsUB
Symbolbild Modell des menschlichen Gehirns
Foto: picture-alliance/dpa/A. Weigel

Meski ditentang oleh sanak keluarga, Lovely Fernandez (41) tetap mendaftarkan diri sebagai donor di bank otak pertama di Singapura. Dengan demikian, Fernandez merelakan otaknya untuk diteliti oleh para ilmuwan setelah dirinya meninggal dunia nanti.

"Saya didiagnosis menderita multiple sclerosis, penyakit yang belum bisa disembuhkan yang membuat bagian kiri tubuh saya mati rasa selama 10 tahun terakhir. Saya berharap dengan menyumbangkan otak saya, para ilmuwan dapat menemukan obat untuk orang lain," katanya, Rabu (27/11).

Dia menghadiri peluncuran Brain Bank Singapore di Novena, yang akan memungkinkan para peneliti mendapatkan akses ke jaringan otak orang-orang Asia, dan diharapkan dapat meningkatkan pengobatan penyakit akibat gangguan otak di benua ini.

Fasilitas penelitian yang menelan biaya sebesar 500.000 dolar Singapura (Rp 5,2 miliar) dan terletak di lantai 11 Sekolah Kedokteran Lee Kong Chian ini sepenuhnya bergantung pada donor yang memberikan otak mereka setelah kematian untuk kepentingan penelitian.

Baca juga: Belajar Musik atau Bahasa Lain Buat Otak Lebih Efisien

Untuk target awalnya, mereka berharap bisa mendapatkan 1.000 orang yang mendaftar sebagai donor dalam empat tahun ke depan. Namun dengan angka kematian seperti saat ini, diperkirakan pusat riset ini hanya akan memperoleh sekitar 20 hingga 30 donor otak per tahun.

Beda ras, beda proses dalam otak

Bank otak ini diyakini sebagai yang pertama di Asia Tenggara, sementara pusat-pusat serupa sudah didirikan di Cina, Eropa dan Amerika Serikat.

Para ilmuwan mengatakan bank itu penting karena ada perbedaan signifikan dari pengaruh gangguan neurologis seperti penyakit Alzheimer dan Parkinson kepada otak orang-orang dari ras Kaukasia dan Asia. Ini berarti bahwa pengobatan dan perawatan dari dunia barat tidak dapat serta-merta diterapkan di Asia.

"Kita sekarang tahu bahwa latar belakang genetik sangat penting dalam menentukan timbulnya dan berkembangnya gangguan tersebut. Sangat penting bahwa ahli saraf di Singapura memiliki akses ke jaringan otak dari pasien dengan latar belakang genetik dan etnis yang sesuai," kata Profesor Richard Reynolds, direktur bank otak baru. 

Profesor Lim Kah Leong, wakil dekan penelitian di sekolah kedokteran ini, mencatat bahwa donor dengan latar belakang Cina, Melayu, dan India mewakili wilayah besar di benua itu. "Penelitian kami bisa menjadi penting bukan hanya di Singapura, tetapi juga di kawasan dan benua," katanya.

Baca juga: Ilmuwan Pulihkan Ingatan Pasien Alzheimer

Identitas donor dirahasiakan

Butuh waktu dua tahun untuk mendirikan bank otak yang merupakan kolaborasi antara Universitas Teknologi Nanyang, National Neuroscience Institute (NNI) dan National Healthcare Group (NHG). Ini masih dalam tahap awal. Fokus saat ini adalah membuat orang Singapura merasa nyaman dengan ide untuk menyumbangkan otak mereka. 

Namun, survei kecil-kecilan tentang sikap warga Singapura terhadap pendonoran otak yang dilakukan NNI di kliniknya ini "memberikan hasil yang sangat positif," kata NNI. Lebih dari 50 persen responden menyatakan kesediaan untuk terlibat.

Setelah donor dinyatakan meninggal dunia, Profesor Reynolds mengatakan otak akan diekstraksi dalam waktu 24 jam. Prosesnya cukup cepat sehingga jenazah dapat dikembalikan ke pihak keluarga untuk proses pemakaman.

Jaringan otak kemudian akan disimpan dalam ruangan bersuhu minus 80 derajat Celsius yang dapat mengawetkan "hadiah yang sangat berharga" selama beberapa dekade, tambah Profesor Reynolds.

Brain Bank Singapore mengatakan jaringan otak yang telah dikumpulkannya akan menjadi anonim dan data pribadi donor dijaga kerahasiaannya.

"Itu tidak akan ada di Internet, melainkan disimpan dalam komputer mandiri yang hanya dapat diakses oleh direktur dan manajer bank," kata Profesor Reynolds. Latar belakang para peneliti yang mendaftar untuk menggunakan jaringan otak donor juga harus diperiksa terlebih dahulu oleh komisi etika.

Hingga saat ini, sudah ada tiga orang, termasuk Lovely Fernandez, yang mendaftar. "Jika saya mati pada usia 55 atau 60 tahun, otak saya akan relatif masih muda. Daripada tubuh saya hanya berbaring, saya akan merasa jauh lebih berguna jika itu dapat membantu para ilmuwan," ujarnya.

ae/hp (straitstimes.com)