1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

SIPRI: Belanja Militer Global Cetak Rekor Baru

26 April 2021

Kelesuan ekonomi akibat wabah corona tidak menyurutkan rencana negara-negara di dunia meningkatkan anggaran pertahanan. Menurut laporan SIPRI, belanja militer global tahun lalu mencapai USD dua triliun.

https://p.dw.com/p/3saGO
Militer Rusia
Militer RusiaFoto: Alexey Kudenko/Sputnik/dpa/picture alliance

Sepanjang tahun lalu, anggaran pertahanan internasional tercatat sebesar USD 1,981 triliun, setelah naik sebanyak 2,6% dibandingkan tahun 2019.

Lima negara terbesar adalah Amerika Serikat, Cina, India, Rusia dan Inggris. Kelima negara mewakili sekitar 62 persen anggaran belanja militer di seluruh dunia. Terutama Cina mencatatkan kenaikan berturut-turut dalam 26 tahun terakhir.

"Kita bisa katakan bahwa pandemi tidak berdampak signifikan terhadap anggaran belanja pertahanan pada tahun 2020," kata Diego Lopes da Silva, peneliti di program anggaran militer dan persenjataan di SIPRI. "Tapi masih harus dilihat apakah negara-negara di dunia mempertahankan level belanja ini pada tahun kedua pandemi," imbuhnya.

Namun tidak semua negara mencatatkan fenomena serupa. Di Korea Selatan dan Chile, pemerintah menggeser sebagian anggaran pertahanan untuk membiayai penanggulangan pandemi. Sementara negara lain, terutama Brasil dan Rusia, membelanjakan lebih sedikit ketimbang yang dianggarkan pada 2020.

AS saat ini memimpin daftar negara dengan anggaran militer terbesar. Pada 2020, militer AS mendapat anggaran sebesar USD 778 miliar, atau meningkat sebanyak 4,4% dari 2019. Ini merupakan tahun ketiga, di mana AS menambah anggaran pertahanan tahunannya, terutama di masa kepresidenan Donald Trump.

Adapun belanja pertahanan Cina yang terbesar kedua di dunia, diperkirakan mencapai USD 252 miliar pada 2020 siilam. Menurut SIPRI, sejak 2011, anggaran militer Cina meroket sebesar 76%, sebagai bagian dari upaya Beijing memodernisasi sistem persenjataannya.

Ekspansi NATO

Saat ini anggaran pertahanan Cina jauh lebih tinggi ketimbang Rusia yang sebesar USD 61,7 miliar, Inggris dengan 59,2 milliar dan Arab Saudi yang menganggarkan USD 57,5 miliar pada tahun lalu.

Jerman yang menaikkan anggaran pertahanan sebesar 5,2% menjadi USD 52,8 miliar pada 2020 mendarat di atas Prancis di posisi ketujuh. Jerman yang sejak lama didesak untuk mengimbangi ambang batas belanja militer NATO sebesar 2% dari APBN, tercatat sudah menaikkan anggaran sebesar 28% sejak 2011.

"Kita menyaksikan tren kenaikan anggaran militer di Jerman sudah sejak beberapa tahun terakhir," kata Alexandra Marksteiner, salah seorang peneliti SIPRI. "Menurut data kami, Jerman mulai menaikkan lagi anggaran militernya baru sejak 2014." Menurut SIPRI, hampir semua negara NATO menambah anggaran pertahanan pada 2020.

Saat ini sebanyak 12 negara anggota NATO membelanjakan lebih dari 2% anggaran tahunan untuk keperluan militer. Pada 2019, hanya sembilan negara yang memenuhi ambang batas tersebut. Namun menurut da Silva, kenaikan prosentase anggaran bisa diakibatkan menyusutnya produk domestik brutto akibat pandemi corona, ketimbang komitmen untuk memenuhi target belanja pertahanan NATO.

Tren kenaikan anggaran belanja militer pada negara NATO akan terus berlanjut, kata Niklas Schörnig, peneliti konflik Jerman. "Setidaknya di bawah pemerintahan Biden, tekanan terhadap negara sekutu untuk menaikkan anggaran pertahanan tidak akan mengendur."

Laporan tahunan SIPRI menyimpan koleksi paling lengkap seputar belanja alutsista dan pertahanan di seluruh dunia.

rzn/hp (dpa, rtr)

Kepemilikan hulu ledak nuklir di dunia
Kepemilikan hulu ledak nuklir di dunia