1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Situasi di Aleppo Semakin Parah

1 Agustus 2012

Militer Suriah kini gunakan pesawat tempur untuk tindak pemberontak di Aleppo, demikian PBB. Sedangkan pemberontak kini juga punya senjata berat. Sementara itu, situasi pengungsi, terutama di Aleppo semakin dramatis.

https://p.dw.com/p/15hb0
A woman carries her child while walking through the rubble in Attarib, on the outskirts of Aleppo province July 30, 2012. REUTERS/Zohra Bensemra (SYRIA - Tags: POLITICS CONFLICT CIVIL UNREST)
Foto: Reuters

Risiko besar menghadang tim penolong, ketika memberikan selimut, tenda, bahan pangan dan air. Tetapi warga Aleppo sangat membutuhkan bantuan, demikian dikatakan Melissa Fleming, juru bicara Badan urusan Pengungsi PBB, UNHCR. Mereka, yang tidak dapat meninggalkan Aleppo mencari perlindungan di mesjid, sekolah dan universitas.

“Kami berusaha sebaik mungkin untuk menolong warga yang mengungsi di 32 sekolah. Di setiap sekolah ada sekitar 250-350 pengungsi, keluarga dan anak-anak. Di sejumlah universitas ditampung 7.000 orang. Mereka mencari perlindungan dari tembakan tak kunjung henti dan kekerasan di jalan-jalan kota Aleppo.“

A Free Syrian Army member stands by his anti-aircraft machine gun during their patrol in Attarib, on the outskirts of Aleppo province July 30, 2012. REUTERS/Zohra Bensemra (SYRIA - Tags: POLITICS CONFLICT CIVIL UNREST)
Seorang pemberontak berdiri di samping senapan mesin anti jet tempur, ketika berpatroli di dekat Aleppo (30/07)Foto: Reuters

Upaya Penyelesaian

Mengingat adanya ancaman bencana kemanusiaan, politisi kembali berusaha mencari jalan keluar dari konflik Suriah. Di Kairo Sekretaris Jenderal Liga Arab, Nabil al Arabi, mengatakan, sejumlah perkembangan berarti sudah tercapai. Menurut al Arabi, Perancis meminta diadakannya sidang darurat DK PBB di tingkat menteri luar negeri. "Kemungkinan besar akan ada diskusi soal tindakan menyangkut situasi saat ini di Suriah. Perancis ingin adanya diskusi tentang fase peralihan di Suriah." Itu dikatakannya setelah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Bulgaria.

Dengan Menteri Luar Negeri Bulgaria, al Arabi juga membicarakan kekerasan yang terjadi, terutama di Aleppo. Banyak pihak berpendapat, yang terjadi di Aleppo bisa disamakan dengan kejahatan perang, dan dapat dihukum sesuai hukum internasional.

This image made from amateur video released by the Ugarit News and accessed Monday, July 30, 2012, purports to show Free Syrian Army soldiers in Anadan 16 kilometers (10 miles), from Aleppo, Syria. Syrian government forces mounted new ground attacks against rebel-controlled neighborhoods in Syria's commercial hub of Aleppo, the state media said Monday, July 30, but failed to dislodge the opposition from their strongholds, according to activists. (Foto:Ugarit News via AP video/AP/dapd) THE ASSOCIATED PRESS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS HANDOUT PHOTO
Pasukan Pembebasan Suriah ketika bertempur di Anadan, dekat Aleppo (30/07)Foto: dapd

Pertempuran di Aleppo

Sementara itu, di Aleppo pertempuran terus terjadi. Di sekitar markas angkatan udara terjadi pertempuran paling besar, demikian keterangan oposisi. Ditambahkan, dalam serangan terhadap dua pos polisi 40 aparat keamanan tewas. Informasi lebih akurat yang kemungkinan dapat diuji kebenarannya, tidak ada. Kedua partai yang berseteru sudah berhari-hari menyatakan kesuksesan dalam pertempuran di Aleppo, dan menampik berita yang melaporkan kekalahan.

Misalnya, ketika pemerintah menyatakan berhasil menguasai kembali bagian kota Salahheddin, pemberontak tidak menunggu lama untuk memberikan reaksi. Seorang komandan pemberontak mengatakan, "Tiga hari pasukan pemerintah berusaha untuk mengambil alih daerah pemukiman itu, dan gagal. Militer kehilangan banyak tentara, panser dan senjata, sehingga terpaksa menyerah.“

Dalam konflik di Suriah, berita yang benar dan tidak sulit dipastikan. Pertempuran tidak hanya berlangsung dengan senjata, melainkan dengan kata-kata.

Peter Steffe / Marjory Linardy

Editor: Ayu Purwaningsih.