1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialCina

Skandal Terbaru Alibaba Picu Diskusi soal Pelecehan Seks

William Yang
18 Desember 2021

Perusahaan teknologi Alibaba dikecam karena memecat karyawan yang melaporkan serangan seksual. Menurut kritikus, pelecehan terhadap perempuan biasa terjadi di tempat kerja dengan budaya minum-minum.

https://p.dw.com/p/44StQ
Logo grup Alibaba
Logo grup AlibabaFoto: Fan Jiashan/Costfoto/picture alliance

Raksasa teknologi asal Cina, Alibaba, dilaporkan memecat seorang karyawan perempuan yang menuduh mantan bosnya telah melecehkan dan memerkosanya dalam perjalanan bisnis pada awal tahun ini. Pengungkapan ini memperbarui pengawasan publik atas pelecehan di tempat kerja yang banyak menimpa karyawan perempuan di Cina.

Menurut media Dahe Daily yang dikelola pemerintah Cina, karyawan perempuan bermarga Zhou dipecat oleh Alibaba pada 25 November karena diduga menyebarkan informasi palsu dan menciptakan publisitas negatif bagi perusahaan.

Dalam surat pemecatannya, Alibaba mengkritik Zhou karena telah melakukan protes di kafetaria perusahaan dengan membawa spanduk dan mikrofon, serta memposting ulang kisahnya atas insiden tersebut ke sistem obrolan internal perusahaan.

Zhou, yang bekerja di unit pengiriman bahan makanan Alibaba City Retail, mengatakan kepada Dahe Daily bahwa dia tidak pernah mendapatkan dukungan atau kompensasi apa pun dari Alibaba dan pemecatan itu membuatnya "sangat kecewa."

"Alasan mengapa semua ini mengeskalasi dan menimbulkan dampak negatif bagi perusahaan adalah karena kelambanan personel terkait dalam menangani situasi, bukan kesalahan korban," kata Zhou.

Setelah Zhou diberhentikan, mantan Presiden City Retail yang bernama Li Yonghe, mengajukan gugatan pencemaran nama baik di pengadilan. Li Yonghe mengklaim bahwa dia tidak mengabaikan keluhan Zhou. Dia telah mengundurkan diri pada bulan Agustus tidak lama setelah Zhou mengungkapkan peristiwa ini.

Dalam gugatan tersebut, Li Yonghe meminta pengadilan untuk memerintahkan Zhou mengeluarkan permintaan maaf tertulis kepadanya, yang akan diposting selama 15 hari berturut-turut di posisi yang mencolok di laman internet skala nasional.

Perdebatan memanas di media sosial

Zhou menekankan lagi bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa pun dan akan memakai cara hukum untuk membela haknya. Berita pemecatannya memicu perdebatan sengit di platform media sosial populer Cina, Weibo.

Sejumlah netizen menuduh Zhou tidak jujur dengan tuduhannya, sementara yang lain membelanya dengan menunjuk pada pemberitahuan yang dikeluarkan oleh polisi, yang menyatakan bahwa serangan seksual terhadapnya telah terjadi pada malam yang ia sebutkan. 

Alibaba kemudian memutuskan untuk memecat manajernya atas dugaan penyerangan seksual terhadap Zhou pada bulan Agustus. Selain presiden City Retail saat itu, kepala bidang sumber daya manusia juga telah mengundurkan diri.

Yaqiu Wang, peneliti senior Human Rights Watch di Cina, mengatakan kepada DW bahwa dia terkejut dengan keputusan Alibaba memecat Zhou. Ia sempat berpikir bahwa raksasa teknologi itu akan lebih peduli dengan citranya. "Meski banyak publisitas negatif, mereka masih memilih untuk memecatnya," ujar Yaqiu Wang.

Minimnya perlindungan hukum bagi perempuan

Human Rights Watch mencatat bahwa pada 2018 setidaknya 40% perempuan di Cina mengatakan mereka pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja.

"Dalam budaya tempat kerja di Cina, terlalu sering perempuan dianggap sebagai alat hiburan pria dan alat untuk meningkatkan moral dan produktivitas organisasi," kata Jieyu Liu, Wakil Direktur China Institute di Universitas London. "Karyawan perempuan rutin menjadi sasaran sindiran seksual di tempat kerja," tulisnya dalam sebuah artikel di situs berita The Conversation.

Aktivis lain menunjukkan bagaimana minimnya jumlah kasus pelecehan seksual di pengadilan di Cina menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan di negara itu saat mencoba mencari keadilan.

Yaqiu Wang dari Human Rights Watch mengatakan bahwa meskipun undang-undang di Cina mengharuskan perusahaan bertanggung jawab untuk menangani kasus pelecehan seksual, tidak ada ketentuan khusus untuk mengimplementasikan hal itu.

"Jadi meskipun undang-undang mengatakan perusahaan bertanggung jawab, tidak ada aturan rinci tentangnya, dan ambang batas bagi seorang perempuan untuk membuktikan bahwa dia dilecehkan secara seksual sangat tinggi," katanya kepada DW.

Kritikus: budaya minum-minum sebabkan pelecehan

Budaya minum di tempat kerja di Cina dipandang sebagai salah satu penyebab utama pelecehan seksual di tempat kerja. Menyusul tuduhan Zhou pada bulan Agustus, mantan atasannya mengakui bahwa dia telah berperilaku terlalu dekat dengan Zhou saat dia mabuk.

Segera setelahnya, CEO Alibaba yakni Zhang Yong mengatakan dalam sebuah memo bahwa perusahaan "dengan tegas menentang budaya minum yang buruk." 

Nie Huihua, profesor ekonomi Universitas Renmin di Cina, menggambarkan budaya minum di negara itu sebagai "kebiasaan buruk" yang hanya ada karena perusahaan Cina tidak memiliki struktur organisasi yang jelas. Ini menjadikan budaya minum sebagai cara utama bagi orang-orang untuk menjalin hubungan dan membangun rasa saling percaya di tempat kerja.

Nie yakin bahwa ketergantungan pada budaya minum sebagai metode untuk membangun rasa saling percaya di tempat kerja temah menempatkan perempuan pada posisi rentan.

"Budaya minum Cina memperkuat posisi laki-laki dalam organisasi dan biasanya sangat didominasi laki-laki," kata Nie kepada DW. "Karena perempuan biasanya tidak minum banyak, situasi ini biasanya mencerminkan hubungan kekuasaan yang sangat tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan."

Wang percaya bahwa protes dan perlawanan adalah beberapa taktik terbaik para perempuan untuk menyelesaikan masalah yang berasal dari budaya minum ini.

"Mereka tidak bisa hanya mengandalkan janji yang dibuat oleh pria atau perusahaan Cina untuk menyelesaikan masalah yang melebar akibat budaya minum," katanya. "Hanya setelah Zhou menarik perhatian dunia pada masalah ini, Alibaba lantas mengkritik budaya minum di tempat kerja di Cina."

Wang percaya bahwa berbicara lewat media daring juga merupakan cara yang efektif bagi perempuan di Cina untuk menarik perhatian publik atas insiden pelecehan seksual. (ae/hp)