Soal Yerusalem, Indonesia Berniat Tunda Ratifikasi Perjanjian Dagang Australia

Indonesia dikabarkan bakal menunda ratifikasi perjanjian dagang dengan Australia selama PM Scott Morrison belum mengurungkan niatnya memindahkan kedutaan besar ke Yerusalem. Kini tekanan terhadap Morrison kian menguat.

Indonesia mempertimbangkan akan perjanjian dagang dengan Australia kecuali pemerintahan Scott Morrison membatalkan niatnya memindahkan kedutaan besar ke Yerusalem, Israel. Hal ini dilaporan harian SBS News yang mengutip lingkaran diplomat Australia yang terlibat dalam proses perundingan.

Menurut laporan SBS, Indonesia akan urung menandatangani perjanjian yang telah digodok selama hampir satu dekade tersebut tanpa kepastian pembatalan pemindahan kedutaan dan pengakuan Yerusalem sebagai ibukota resmi Israel.

Sedianya kesepakatan dagang itu akan ditandatangani pekan depan, namun kini ratifikasi menjadi tidak pasti menyusul perkembangan politik teranyar di Jakarta. 

Baca juga: Indonesia dan Australia Tandatangani Kesepakatan Kerjasama Ekonomi Baru

Niat memindahkan kedutaan diungkapkan Perdana Menteri Morrison di hadapan parlemen pertengahan Oktober silam. "Kita berkomitmen pada solusi dua negara. Tapi sejujurnya kebijakan tersebut tidak banyak membuahkan terobosan dan Anda tidak ingin melakukan hal yang sama berulang-ulang dan menginginkan hasil yang berbeda," kata dia seperti dikutip dari the Australian.

Saat itu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengecam pernyataan Morrison dan menilai pemindahan kedutaan akan mengubur proses damai di Timur Tengah.

Meski demikian kedua pihak tetap menginginkan perjanjian ditandatangani sebelum akhir tahun. Kesepakatan antara kedua negara ditaksir bernilai hingga Rp. 173 triliun atau lebih dari 16 miliar dolar Australia.

Live
01:56 menit
Iptek | 16.10.2018

Cuaca Kering di Australia Ancam Eksistensi Kangguru

PM Morrison sendiri meyakini ketegangan terkait Yerusalem tidak akan menghalangi ratifikasi. "Ada komunikasi langsung antara saya dan Presiden Indonesia serta antara menteri luar negeri kami dan menteri perdagangan,” ujar Morrison seperti dilansir Reuters awal November silam. Namun tekanan  dari dalam negeri terhadap niat Morrison kian menguat.

Kritik antara lain datang dari Ketua Umum Partai Buruh Australia, Bill Shorten, yang menanggapi sikap gamang Indonesia terkait perjanjian dagang dan kebijakan pemerintah Canberra terhadap Israel.

"Batalkan saja rencananya," kata dia kepada kanal berita 9News, "bukan karena Indonesia menilainya buruk, tetapi karena idenya dari awal memang buruk." Kritik terhadap rencana Morrison juga datang dari bekas Perdana Menteri Kevin Rudd dan Malcolm Turnbull. Pemerintah Australia hingga kini belum menentukan tenggat kapan pemindahan kedutaan akan dilakukan.

Baca juga: Meski Indonesia Geram, Australia Tetap Akan Tanda Tangani Perjanjian Dagang Dengan Indonesia

Pengakuan terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel menjadi sumber ketegangan teranyar di Timur Tengah. Sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya memindahkan kedutaan dari Tel Aviv, sejumlah negara mulai mempertimbangkan hal serupa, antara lain Australia dan Brazil.

Namun kedua negara mulai mendapat tekanan dari negara-negara bermayoritaskan muslim terkait rencana tersebut. Presiden terpilih Brazil Jair Bolsonaro misalnya mempertimbangkan ulang rencana kepindahan setelah terlibat dalam cekcok diplomatik dengan Mesir. Pemerintah Kairo sebelumnya membatalkan kunjungan kenegaraan Presiden Abdel Fattah el-Sisi ke Brasilia.

rzn/hp (sbs, theaustralian, 9news, rtr, haaretz, jpost)

Saat Kegersangan Jadi Karya Seni Abstrak

Komposisi dengan sebatang pohon dan tempat minum ternak

Kegersangan di provinsi New South Wales saat musim dingin menyebabkan kawasah itu tampak seperti padang pasir coklat. Dari udara, tampak seperti lukisan abstrak.

Saat Kegersangan Jadi Karya Seni Abstrak

Kekeringan ibaratnya kanker

Sebuah batang pohon kering tampak tergeletak di daerah pertanian milik Tom dan Margo Wollaston. Pemilik pertanian itu mengatakan "Kegersangan ibaratnya kanker, ia memasuki tubuh dengan memakannya, dan cuaca akan semakin kering dan semakin serius dan mempengaruhi hidup." Menurut pemerintah, 95% provinsi itu menderita kekeringan.

Saat Kegersangan Jadi Karya Seni Abstrak

Hewan juga menderita

Seekor kanguru minum dari tangki air di sebuah lahan pertanian di Gunnedah, New South Wales. Bagi hewan di kawasan itu, kegersangan mengancam keselamatan. Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran hutan, pohon eukaliptus di kawasan itu banyak yang ditebang. Akibatnya, koala di kawasan itu tidak punya makanan cukup.

Saat Kegersangan Jadi Karya Seni Abstrak

Hasil kerja seumur hidup terancam

Jimmie McKeown menatap lahan pertaniannya. Ia melihat sebuah tempat minum hewan, dan tiga tangki air, dan tanah berwarna merah dan penuh debu. Tahun ini lahan pertanian mereka terancam krisis ekonomi terbesar, sejak didirikan kakeknya tahun 1901. Sejak 2010 di kawasan itu sudah jarang turun hujan.

Saat Kegersangan Jadi Karya Seni Abstrak

Seuntai makanan

Padang rumput tidak punya rumput lagi, sehingga domba-domba menyerbu gandum yang ditempatkan petani seperti garis panjang. Pemerintah Australia berjanji akan mengucurkan bantuan darurat senilai lebih dari satu miliar Dollar Australia.

Saat Kegersangan Jadi Karya Seni Abstrak

Cabang-cabang hijau untuk sapi yang lelah

Petani Bauer Ash Whitney memanjat pohon kurrajong untuk memotong cabang-cabangnya. Itulah satu-satunya makanan yang bisa diberikannya kepada sapi-sapinya. Sejumlah bagian Australia mengalami musim panas paling panas dalam sejarah (Desember hingga Februari), dan musim gugur yang sangat kering dan hangat (Maret hingga Mei).

Saat Kegersangan Jadi Karya Seni Abstrak

Lingkaran dari butir-butir pasir

Di lahan ini, di Gunnedah Provinsi New South Wales tampak alur-alur yang diukir mesin pembajak. Setelah itu kegersangan ikut memberikan aksen tersendiri. Bentuk-bentuk lingkaran ini mengingatkan pada lukisan penduduk asli Aborigin. Penulis: David Ehl, Florian Mayer


Ikuti kami