"Soekarno Yakin Pancasila dan NASAKOM Adalah Masa Depan Indonesia"

Bagi mahasiswa Jerman yang mengambil jurusan studi Indonesia/Asia Tenggara, nama Bernhard Dahm bukan nama asing. Editor DW Hendra Pasuhuk berbicara dengan peneliti senior berusia 84 tahun ini tentang toleransi.

Profesor Bernhard Dahm sudah mengkuti perkembangan Indonesia sejak tahun 1960an. Dia mewawancarai Presiden Soekarno, juga setelah peristiwa pembantaian anti komunis 1965-1966 dan ketika Soekarno keluar istana dan digantikan oleh Jendral Suharto. Dia kemudian melakukan penelitian tentang masalah identitas, adat dan budaya pada berbagai kelompok etnis di Indonesia.

Bukunya Sukarnos Kampf um Indonesiens Unabhängigkeit, yang merupakan bahan disertasinya, terbit tahun 1966 dan hingga kini menjadi buku standar bagi mahasiswa Jerman yang mengambil jurusan studi Indonesia/Asia Tenggara. Tahun 1987 buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh LP3ES dengan judul: Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan.

Bukunya yang lain: Indonesien. Geschichte eines Entwicklungslandes 1945–1971 (Indonesia, Sejarah Sebuah Negara Berkembang 1945-1971) menerangkan perkembangan politik dan budaya yang terjadi sampai pergantian kekuasaan dari apa yang disebut Orde Lama ke era Orde Baru. Tahun 1984, Dahm menjadi Guru Besar dan Dekan Jurusan Studi Kawasan Asia Tenggara di Universitas Passau sampai memasuki masa pensiun 1997.

Bernhard Dahm yakin bahwa Indonesia tetap akan menjadi masyarakat yang pluralistis. Berbagai kekalutan politik saat ini dilihatnya sebagai proses pencarian di masa transisi. Seperti juga Soekarno, dia percaya bahwa Pancasila dan gagasan NASAKOM adalah jalan tengah yang bisa menjadi landasan kuat bagi Indonesia menghadapi berbagai tantangan globalisasi. Dahm menerjemahkan NASAKOM sebagai nasionalisme, agama dan sosialisme, yang pada jaman Soekarno memang disuarakan dengan lantang oleh gerakan komunisme.

Setelah Malaysia terbentuk September 1963, Indonesia langsung memutuskan hubungan diplomatik. Beberapa hari kemudian massa merusak gedung Kedutaan Besar Inggris dan Singapura. Sebagai reaksi, pemerintah Malaysia menangkapi agen rahasia Indonesia. Ribuan penduduk juga berunjuk rasa di depan kedutaan besar Indonesia di Kuala Lumpur.

Militer Inggris tidak cuma membantu pembentukan angkatan bersenjata Malaysia, melainkan juga mendidik anggota suku-suku lokal buat bertempur melawan penyusup Indonesia di utara Kalimantan. Tapi menyusul sikap keras Jakarta yang bersikukuh menyusupkan milisi bersenjata ke Malaysia, Inggris kemudian menggelar kampanye militer yang disebut Operasi Claret.

Tema

Profesor Bernhard Dahm sudah mengkuti perkembangan Indonesia sejak tahun 1960an. Dia mewawancarai Presiden Soekarno, juga setelah peristiwa pembantaian anti komunis 1965-1966 dan ketika Soekarno keluar istana dan digantikan oleh Jendral Suharto. Dia kemudian melakukan penelitian tentang masalah identitas, adat dan budaya pada berbagai kelompok etnis di Indonesia.

Bukunya Sukarnos Kampf um Indonesiens Unabhängigkeit, yang merupakan bahan disertasinya, terbit tahun 1966 dan hingga kini menjadi buku standar bagi mahasiswa Jerman yang mengambil jurusan studi Indonesia/Asia Tenggara. Tahun 1987 buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh LP3ES dengan judul: Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan.

Bukunya yang lain: Indonesien. Geschichte eines Entwicklungslandes 1945–1971 (Indonesia, Sejarah Sebuah Negara Berkembang 1945-1971) menerangkan perkembangan politik dan budaya yang terjadi sampai pergantian kekuasaan dari apa yang disebut Orde Lama ke era Orde Baru. Tahun 1984, Dahm menjadi Guru Besar dan Dekan Jurusan Studi Kawasan Asia Tenggara di Universitas Passau sampai memasuki masa pensiun 1997.

Bernhard Dahm yakin bahwa Indonesia tetap akan menjadi masyarakat yang pluralistis. Berbagai kekalutan politik saat ini dilihatnya sebagai proses pencarian di masa transisi. Seperti juga Soekarno, dia percaya bahwa Pancasila dan gagasan NASAKOM adalah jalan tengah yang bisa menjadi landasan kuat bagi Indonesia menghadapi berbagai tantangan globalisasi. Dahm menerjemahkan NASAKOM sebagai nasionalisme, agama dan sosialisme, yang pada jaman Soekarno memang disuarakan dengan lantang oleh gerakan komunisme.

Peneliti yang kini berusia 84 tahun itu menjawab pertanyaan seputar perkembangan Indonesia yang diajukan DW (Hendra Pasuhuk). Berikut petikan wawancaranya:

Ganyang Malaysia: Manuver Terakhir Sukarno

Manuver Politik Berbuah Isolasi

"Soal pengganyangan Malaysia adalah soal nasional," teriak Sukarno saat berpidato membela politik konfrontasinya pada 1964. Setahun sebelumnya dia menentang niat Inggris membentuk negara federal Malaysia yang menggabungkan Serawak. Sebagian menulis Sukarno ingin mengalihkan publik dari kisruh politik dalam negeri. Akibat konflk Malaysia, Indonesia semakin terisolasi dari dunia internasional

Ganyang Malaysia: Manuver Terakhir Sukarno

Krisis Diplomasi Disambut Amuk Massa

Setelah Malaysia terbentuk September 1963, Indonesia langsung memutuskan hubungan diplomatik. Beberapa hari kemudian massa merusak gedung Kedutaan Besar Inggris dan Singapura. Sebagai reaksi, pemerintah Malaysia menangkapi agen rahasia Indonesia. Ribuan penduduk juga berunjuk rasa di depan kedutaan besar Indonesia di Kuala Lumpur.

Ganyang Malaysia: Manuver Terakhir Sukarno

Perang Kecil demi Gagasan Besar

Sukarno pun memerintahkan RPKAD buat menyusup ke Serawak buat membina sukarelawan lokal. TNI juga mendukung upaya kudeta di Brunei Darussalam dengan mendidik 4000 milisi bersenjata. Akibatnya Inggris yang saat itu masih memiliki pangkalan tempur di Singapura mengirimkan pasukannya ke Kalimantan Utara.

Ganyang Malaysia: Manuver Terakhir Sukarno

Menyusup dan Takluk

TNI berulangkali menggelar operasi penyusupan dengan mengirimkan sukarelawan dan serdadu ke utara Kalimantan. Pada September 1964, militer Indonesia bahkan menerjunkan pasukan gerak cepat ke semenanjung Malaysia. Dari 96 pasukan terjun payung, 90 di antaranya berhasil ditangkap atau dibunuh oleh serdadu Malaysia dan Inggris.

Ganyang Malaysia: Manuver Terakhir Sukarno

Kalimantan Berdarah

Militer Inggris tidak cuma membantu pembentukan angkatan bersenjata Malaysia, melainkan juga mendidik anggota suku-suku lokal buat bertempur melawan penyusup Indonesia di utara Kalimantan. Tapi menyusul sikap keras Jakarta yang bersikukuh menyusupkan milisi bersenjata ke Malaysia, Inggris kemudian menggelar kampanye militer yang disebut Operasi Claret.

Ganyang Malaysia: Manuver Terakhir Sukarno

Operasi Claret

Dalam operasi tersebut Inggris dan Malaysia memindahkan garis pertahanan ke wilayah Indonesia buat menghadang penyusup. Karena kehawatir menyulut perang terbuka dengan Indonesia, Inggris melaksanakan operasi secara terbatas dan sangat rahasia. Kampanye militer ini berlangsung antara 1964 hingga 1966.

Ganyang Malaysia: Manuver Terakhir Sukarno

Berakhir di Era Suharto

Politik Ganyang Malaysia berakhir setelah kekuasaan Sukarno dilucuti setelah peristiwa G30SPKI. Suharto yang kemudian berkuasa tidak berniat melanjutkan kebijakan pendahulunya itu. Walhasil penguasa baru Indonesia menggelar berbagai perundingan rahasia yang berujung pada kesepakatan damai Agustus 1966. Sebanyak 590 tentara Indonesia tewas, sementara di pihak Inggris tercatat 114 serdadu.

DW: Sejak tahun 1960an Anda meneliti tentang Indonesia, dan belakangan lebih banyak tentang kawasan Asia Tenggara. Kalau ingin menyimpulkan perkembangan politik dan budaya di Indonesia secara singkat dari 1945 hingga kini, bagaimana Anda akan menggambarkannya?

Bernhard Dahm: Sejarah modern Indonesia bisa dirangkum dengan dua nama: Soekarno dan Pancasila. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa dan begitu banyak budaya lokal yang terkandung dalam adat. Pancasila adalah gagasan yang bisa menyatukan bangsa-bangsa di Indonesia, dengan motto utamanya: Bhinneka Tunggal Ika. Pada prinsipnya, Pancasila adalah gagasan tentang toleransi dan keadilan sosial.

Soekarno dan para pemikir lain ketika itu mencari formula yang bisa menjadi falsafah kebangsaan, katakanlah sebagai motor utama nation building. Lalu Soekarno memperkenalkan konsep Pancasila. Jangan lupa, gagasan para pendiri Republik Indonesia ketika itu tidak hanya berkaitan dengan negaranya.

Kita harus ingat, tugas kemerdekaan Indonesia bukan hanya ditujukan untuk memerdekaan rakyatnya dari penjajahan Belanda, melainkan memerdekakan seluruh bangsa-bangsa yang terjajah dari kolonialisme dan imperialisme, membebaskan manusia dari eksploitasi. Jadi Soekarno dan rekan-rekannya mencari gagasan yang bisa berlaku universal.

Gagasan toleransi Pancasila bisa dibilang cukup berhasil saat itu. Tahun 1955, Indonesia yang baru sepuluh tahun merdeka menggelar konferensi Asia Afrika. Gagasan Pancasila ketika itu diakui dan bahkan diadopsi oleh gerakan Asia Afrika.

Dan Soekarno juga membawa Pancasila ke PBB..

Tahun 1960, Soekarno memperkenalkan konsep Pancasila kepada dunia dalam pidatonya yang terkenal di hadapan Sidang Umum PBB di New York. Judulnya: To Build The World a New. Dia menawarkan prinsip toleransi Pancasila diterapkan bagi perdamaian dunia, yang ketika itu sedang terpecah antara blok Barat dan blok Timur. Soekarno menawarkan sebuah konsep tata dunia yang baru.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Dari Portugis ke VOC

Awal abad ke 16 Portugis memasuki nusantara, berdagang dan mencoba menguasainya. Rakyat di beberapa wilayah melakukan perlawanan. Awal abad ke-17 giliran perusahaan Belanda, VOC yang mencari peruntungan di nusantara. Nusantarapun jatuh ke tangan Belanda, sempat direbutkan Perancis dan Inggris, lalu kembali dalam genggaman negeri kincir angin itu.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Pecah belah dan jajahlah

Untuk menguasai nusantara, Belanda memanfaatkan persaingan di antara kerajaan-kerajaan kecil. Berbagai pertempuran terjadi di bumi nusantara. Di Jawa, Perang Diponegoro (1825-1830) menjadi salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami Belanda selama pendudukannya di bumi Nusantara. Jendral de Kock memanfaatkan suku-suku lain berusaha menaklukan Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Pengorbanan darah dan nyawa

Wilayah-wilayah di luar Jawa pun tak ketinggalan mengalami berbagai pertempuran sengit. Salah satunya pertempuran di Bali tahun 1846 yang tergambar dalam lukisan ini, dimana Belanda mengerahkan batalyonnya dalam upaya menaklukan pulau Dewata tersebut.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Bersatu melawan penjajahan

Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia didirikan September 1926 oleh para mahasiswa. Organisasi ini bermaksud untuk menyatukan organisasi –organisasi pemuda yang tadinya terpecah-pecah dan dari berbagai perguruan tinggi seperti Stovia dan THS dan RHS. Perhimbunan besar ini memiliki pemikiran bahwa persatuan Indonesia merupakan senjata paling ampuh dalam melawan penjajahan.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Dijajah saudara tua

Dalam perang dunia ke-2, Jepang memerangi Tiongkok dan mulai menaklukan Asia Tenggara, termasuk Indonesia tahun 1941. Peperangan juga terjadi di berbagai belahan dunia. Ketika Jepang kalah dalam PD II, tokoh nasional merencanakan kemerdekaan Indonesia.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Teks bersejarah bagi bangsa Indonesia

Teks Proklamasi dipersiapkan. Dirumuskan oleh Tadashi Maeda, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo, dll. Teks tersebut digubah oleh Mohammad Hatta dan RM. Achmad Soebardjo Djodjodisoerjo dan ditulis tangan oleh Soekarno. Teks Proklamasi yang telah mengalami perubahan, yang dikenal dengan sebutan naskah "Proklamasi Otentik", diketik Sayuti Melik.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Proklamasi di Pegangsaan

Dengan didampingi Drs. Mohammad Hatta, Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Pembacaan naskah proklamasi dilakukan di Jalan Pegangsaan Timur no 56. Jakarta, pada pukul 10.00 pagi.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Sang Saka Merah Putih berkibar

Sesaat setelah teks proklamasi diumumkan, bendera Sang Saka Merah Putih pun di kibarkan di halaman Pegangsaan Timur 56. Bendera bersejarah ini dijahit oleh istri Bung Karno, Fatmawati Soekarno. Kini tiap tanggal 17 Agustus, bendera Merah Putih berkibar dan menjadi bagian dari peringatan detik-detik kemerdekaanj Indonesia.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Dari Sabang sampai Merauke

Perang terus berkobar. 10 November 1945 di Surabaya, rakyat melawan sekutu. Di penghujung tahun yang sama, sekutu menyerbu Medan. Hampir semua wilayah Sumatera, berperang melawan Jepang, sekutu dan Belanda. Mulai dari Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua, para pejuang mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Perjanjian Renville

Peperangan terus berkobar di berbagai wilayah di tanah air. berbagai diplomasi digelar. Perjanjian Renville disepakati Januari 1948, di atas kapal Amerika, USS Renville yang berlabuh di Tanjung Priok. Indonesia diwakili PM. Amir Syarifuddin. Saat itu, dissetujui garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan wilayah pendudukan Belanda.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Penyerahan kedaulatan

Tak semua mematuhi perjanjian Renville. Perlawanan terhadap Belanda terus berlanjut. Politik Indonesia terus bergejolak. usaha Belanda meredam kemerdekaan Indonesia dikecam masyarakat internasional. Akhirnya penyerahan kedaulatan Indonesia dtandatangani di Belanda, tanggal 27 Desember 1949. Tampak pada gambar, Ratu Belanda, Juliana tengah menandatangani dokumen tersebut.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Peta Hindia Belanda dan sekitarnya

Peta Pinkerton untuk Hindia Timur: Mencakup dari Burma selatan ke Jawa, dari Andaman ke Filipina & New Guinea. Peta ini mencatat kota-kota, rawa-rawa, pegunungan, dan sistem sungai. Digambar oleh L. Herbert dan digravir oleh Samuel Neele di bawah arahan John Pinkerton. Sumber gambar: Pinkerton’s Modern Atlas, yang diterbitkan oleh Thomas Dobson & Co di Philadelphia pada tahun 1818.

Republik di Ujung Bedil Kolonialisme

Mencari makna kemerdekaan

Kini lebih dari 70 tahun merdeka, Indonesia memasuki tantangan baru: Memerdekaan diri dari berbagai belenggu penjajahan atas hak asasi manusia,pola pikir dan berekspresi serta memperjuangkan demokrasi.

Soekarno ketika itu merangkum konsepsi politiknya sebagai NASAKOM: nasionalisme, agama, komunisme. Kita harus memahami komunisme di sini sebagai sosialisme, karena dasar pemikirannya adalah prinsip keadilan sosial, yang juga menjadi dasar pemikiran politik Karl Marx.

Jadi Soekarno yakin, perbedaan dan perpecahan dunia dalam persaingan ideologis saat itu bisa dijawab dengan menghormati nasionalisme, agama dan prinsip sosialisme.

Tapi politik Soekarno akhirnya gagal..

Ya, secara menyedihkan dan mengerikan. Dimulai dengan penculikan dan pembunuhan brutal para Jendral. Lalu aksi pembalasan yang dilancarkan Suharto dan kubu militer secara lebih mengerikan lagi. Kekejaman luas yang terjadi saat itu menjadi semacam negasi dari tesis toleransi yang mau ditawarkan Indonesia sebagai solusi perpecahan dunia. Dan sampai sekarang, Indonesia belum sembuh dari luka dalam itu. Banyak kejadian mengerikan yang terjadi saat itu, keluarga-keluarga terpisahkan, begitu banyak orang terbunuh..

Semua itu terjadi di tengah ketegangan dunia memasuki era perang dingin..

Betul. Saat itu Amerika sedang bersiap melakukan intervensi di Vietnam untuk membendung komunisme, dan Amerika Serikat begitu naif untuk percaya, bahwa jika mereka masuk ke Vietnam, semuanya akan berjalan lancar sesuai skenario mereka. Tapi yang terjadi kemudian sangat lain, baik di Vietnam, di mana AS mengalami kekalahan besar untuk pertama kalinya, maupun di kawasan-kawasan lain seperti misalnya Irak. Di sana AS juga membawa bencana, ketika mereka melakukan intervensi.

Kembali ke Indonesia, Soekarno waktu itu sangat terpukul dengan terjadinya aksi kekerasan dalam skala luas. Karena hal itu sangat bertentangan dengan citra toleransi Indonesia yang sering dia gembar-gemborkan. Saya sendiri sempat bertemu dengan Soekarno setelah peristiwa itu, saya mengunjungi dia di Istana. Dia sudah membaca buku saya. Ketika itu saya bertanya, apakah perkembangan terakhir itu berarti bahwa Indonesia telah kehilangan jiwa toleransinya, bahwa semangat toleransi sudah berakhir di Indonesia.

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Kapitulasi Jepang, September 1945

12 Agustus 45, tiga hari setelah bom atom menghancurkan Nagasaki, Panglima Militer Jepang, Jendral Terauchi Hisaichi mengundang Soekarno dan Radjiman Wedyodiningrat ke Da Lat, Vietnam. Kepada keduanya Hisaichi mengindikasikan Jepang akan menyerah kepada sekutu dan membiarkan proklamasi kemerdekaan RI. Baru pada 2 September Jepang secara resmi menyatakan kapitulasi di atas kapal USS Missouri.

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Proklamasi, Agustus 1945

Setibanya di Jakarta, Soekarno diculik oleh pemuda PETA ke Rengasdengklok. Di sana ia dipaksa mengumumkan kemerdekaan tanpa Jepang. Malam harinya Soekarno menyambangi Mayjen Nishimura Otoshi. Kendati tidak mendukung, Nishimura menawarkan rumahnya untuk dipakai merumuskan naskah proklamasi. Keesokan hari Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur No. 56

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Kabinet Sjahrir I, November 1945

Soekarno dan Hatta diangkat sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Keduanya memerintahkan Sutan Sjahrir, diplomat ulung yang kemudian menjadi perdana menteri pertama, buat mencari pengakuan internasional. Tugas Sjahrir adalah mempersiapkan Indonesia menghadapi pertemuan Linggarjati. Pidatonya yang legendaris di sidang umum PBB 1947 hingga kini masih tercatat sebagai momen paling menentukan

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Perundingan Linggarjati, November 1946

Dalam pertemuan yang dimediasi Inggris, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di Jawa, Madura dan Sumatera. Tapi Belanda nyaris bangkrut dan berniat mengamankan akses ke sumber daya alam Indonesia. Sjahrir yang ingin menghindari perang sempat menyetujui pemerintahan transisi di bawah kepemimpinan Belanda. Idenya ditolak Sukarno, dan Sjahrir harus mundur sebulan setelah penadatanganan perjanjian.

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Agresi Militer I, Juli 1947

Akibatnya Belanda menyerbu Sumatera dan Jawa demi merebut sumber daya alam dan lahan pertanian. Apa yang oleh Indonesia disebut sebagai Agresi Militer, dinamakan Belanda "misi kepolisian" untuk menghindari campur tangan internasional. Parlemen Belanda awalnya menginginkan perluasan agresi buat merebut ibukota Yogyakarta, tapi ancaman sanksi PBB membuat Den Haag menarik pasukannya dari Indonesia.

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Perjanjian Renville, Desember 1947

Di atas kapal USS Renville, Indonesia berhasil memaksakan gencatan senjata, tapi kehilangan sebagian wilayahnya. Belanda cuma mengakui kedaulatan RI di Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatera, serta meminta TNI menarik pasukannya dari wilayah pendudukan. Belanda kala itu sedang menunggu pemilu legislatif. Pemerintahan yang baru kemudian mengambil kebijakan yang lebih keras terhadap Indonesia.

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Agresi Militer II, Desember 1948

Belanda memanfaatkan masa liburan natal PBB buat menggelar Agresi Militer II. 80.000 pasukan diterjunkan. Soekarno, Hatta dan Sjahrir ditangkap. Akibatnya Sjafruddin Prawiranegara diperintahkan membentuk pemerintahan darurat. Uniknya operasi militer di Indonesia didukung 60% penduduk Belanda. Sembilan hari setelah dimulainya agresi, PBB menelurkan dua resolusi yang menentang serangan Belanda

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Konferensi Meja Bundar, Agustus 1949

Setelah menjalin kesepakatan dalam perjanjian Roem Roijen, Indonesia dan Belanda sepakat bertemu di Den Haag atas desakan internasional. Belanda bersedia menarik mundur pasukan dan mengakui kedaulatan RI di semua kepulauan, kecuali Papua barat. Sebagai gantinya Indonesia harus membayar sebagian utang pemerintahan kolonial, termasuk yang dipakai untuk agresi militer selama perang kemerdekaan.

Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia

Penyerahan Kedaulatan, Desember 1949

Ratu Juliana menandatangani akta penyerahan kedaulatan kepada RI di Amsterdam pada 27. Dezember 1949. Setelah kemerdekaan, Indonesia tenggelam dalam revolusi buat mengamankan kesatuan republik. Sementara Belanda menghadapi tekanan internasional. Sikap Den Haag soal Indonesia dan Papua bahkan nyaris membatalkan keanggotaan Belanda di NATO, yang kala itu mendukung kemerdekaan Indonesia.

Soekarno menjawab, dia tidak percaya tesis itu. Dia bilang kepada saya, dia tetap percaya pada kekuatan tradisi dan adat. "Jika kamu ingin tahu tentang jiwa dan semangat ke-Indonesia-an, jangan datang ke Jakarta atau Surabaya atau Bandung, pergilah ke daerah-daerah, pergilah ke Tapanuli Selatan, ke Mandailing, pergilah ke Banyuwangi, atau ke Makasar dan daerah pelosok lain". Dan saya memang di kemudian hari melakukan penelitian di sana, tentang identitas dan adat, dengan bantuan asisten-asisten Indonesia saya. Kembali ke Soekarno, dia tetap yakin, bahwa Indonesia pada akhirnya akan kembali ke tradisi pluralisme dan toleransi, yang menurut dia sudah tertanam dalam adat istiadat bangsa-bangsa Nusantara.

Soekarno tetap yakin dan berpegang pada prinsip toleransi Pancasila..?

Dia sangat yakin, prinsip Pancasila dan NASAKOM, yang merupakan jalan tengah dan faktor penyatu antara kalangan agama dan kalangan sosialis, adalah masa depan Indonesia. Dia bilang, selalu akan ada pemikiran agama dan dasar-dasar sosialisme yang kuat di Indonesia, kedua prinsip itu saling bersaing.
Saya berikan mereka Pancasila, kata Soekarno. Saya yakinkan kaum Marxis, agar mereka menerima prinsip Ketuhanan. Lalu saya yakinkan kubu Islamis, bahwa ajaran Marx adalah analisa jitu yang memberi kita instrumen untuk mencapai keadilan sosial. Kalau mereka semua mau saling menerima dan melepaskan doktrin-doktrin yang ditolak pihak lain, maka Indonesia akan berjaya. Dan mereka semua, kubu Agama dan kubu sosialis, mau menerima Pancasila demi kepentingan nasional.

Bagaimana dengan Anda? Apa pandangan Anda tentang masa depan toleransi di Indonesia?

Saya mengikuti nasehat Soekarno dan melakukan penelitian tentang identitas dan peran adat pada masyarakat lokal, terutama generasi mudanya, itu tahun 1980an. Dan memang temuan kami adalah, 80 persen generasi muda saat itu mengenal baik istilah-istilah yang behubungan dengan adat lokalnya. Jadi ikatan adat itu memang kuat. Dan pada tingkat lokal, kita memang melihat ada kesediaan menerima perbedaan, ada prinsip toleransi dan keadilan. Pengaruh tradisi dan adat cukup kuat, walaupun sejak tahun 1970an ada pengaruh besar dari budaya barat melalui perkembangan media televisi. Jadi saya percaya, Soekarno benar.

Prinsip dasar kehidupan tradisional di Nusantara adalah toleransi dan pluralisme. Bahkan Suharto tidak menolak Pancasila. Dia malah menggunakan Pancasila sebagai instrumen untuk mengukuhkan kekuasaannya. Dan kita lihat sekarang, mayoritas rakyat Indonesia dan kelompok mainstream Islam tidak setuju dengan pembentukan negara Islam atau penerapan UU Syariah menggantikan konstitusi Republik Indonesia.

Tapi kita di Barat juga perlu menyadari, bahwa masyarakat Indonesia punya tradisi relijius yang kuat. Mereka percaya adanya Tuhan dan pada kehidupan setelah kematian. Ini faktor yang tidak bisa dipisahkan dari Indonesia. Tapi Indonesia bukan negara Islam. Ini adalah bukti paling kuat untuk tradisi toleransi dan pemikiran pluralisme.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Jauh dari kampung halaman

Jauh dari kampung halaman, tidak mengurangi semangat warga Indoensia di Berlin dan sekitarnya untuk merayakan dirgahayu Republik Indonesia.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

‘Indonesia Kerja Nyata‘.

Tema untuk peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 : Mari wujudkan cita-cita bangsa dengan ‘Indonesia Kerja Nyata‘. Pada siang hari dalam acara Pesta Rakyat di Wisma Indonesia, Berlin, dari panggung musik ini, terdengar berbagai lagu Indonesia dimainkan, di antaranya 'Oh..oh Karmila.....'

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Tenda putih

Tenda-tenda putih berjejer rapi di halaman Wisma Indonesia nan astri, tempat terselnggaranya Pesta Rakyat di Berlin.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Dari musik sampai lomba

Selain musik, apa saja kegiatan warga Indonesia di Berlin saat 17 Agustus-an? Tentu tak beda dengan yang di tanah air, yakni perlombaan. Tak ketinggalan undian berhadiah.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Balapan, yuk

Lomba untuk kategori anak-anak, seperti tradisi 17 Asgustus-an pada umumnya: balap kelereng dalam sendok, memasukan pensil ke dalam botol, dan lain-lain. Pemenang masing-masing perlombaaan tentu saja mendapat bingkisan.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Lomba untuk yang dewasa

Untuk orang dewasa, juga disediakan berbagai macam lomba yang membawa keceriaan suasana. Para penonton berbahak-bahak ketika lomba makan digelar. Para peserta dibagi atas beberapa kelompok yang masing-masing terdri atas lima orang.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Bangun kebersamaan tim lewat makan

Lima piring tertutup disajikan, dan para anggota tim masing-masing kebagian satu piring yang dimakan bergantian. Isi dalam piring lomba makan, di antaranya kacang wasabi, beberapa potong wortel mentah sampai satu piring kecil coklat. Hati-hati tersedak ya….

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Anak-anak lebih tenang?

Lomba makan ini juga diadakan buat kategori anak-anak. Nampaknya, anak-anak lebih ‘kalem‘ ketimbang orang dewasa saat berlomba makan.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Makan-makan

Tak cuma lomba makan, tapi juga makan kenyang. Pesta Rakyat juga menggelar makan-makan seperti di Indonesia. Pesta Rakyat di Berlin menyedian makanan khas Indonesi bagi semua pengunjung. Apa saja jenisnya?

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Dari uduk sampai lontong

Mulai dari nasi uduk, semur daging sapi, sambal goreng kentang petai, tempe kering, lengkap dengan sate dan lontong tersedia di sini. Kerupuk dan sambal, tentunya tidak ketinggalan.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Serasa piknik

Tiada kebersamaan tanpa mengunyah dan makan bersama. Tradisi ‘mangan ora mangan ngumpul‘ juga tetap dipelihara warag Indonesia di Jerman.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Kue kecilnya apa?

Es buah jadi makanan penutup. Tapi ada juga penganan kecil khas Indonesia yang ikut memanjakan perut pengunjung tentunya.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Sang Merah Putih

Bendera Merah Putih menjadi ornamen dan warna yang mendominasi di lokasi kegiatan Pasar Rakyat di Berlin yang diadakan dalam rangka menyambut kemerdekaan RI.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Silaturahmi

Praktis, Pesta rakyat di Wisma Indonesia di Berlin ini sekaligus jadi ajang silaturahmi warga.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Mempertemukan dua budaya

Yang satu pakai peci dan sarung, yang lainnya pakai rok Bayern, Jerman. Pengunjungnya? Macam-macam, ada pula orang Jerman yang berkebaya.

Tradisi 17 Agustus Melekat Hingga ke Jerman

Tamu kecil tertidur

Cuaca bulan Agustus 2016 cukup hangat. Tepat di hari Pesta rakyat digelar temperaturnya mencapai 27 derajad Celsius. Ditiup angin sepoi-sepoi di bawah pohon kecil, tampak ada yang tertidur di acara ini.

Konten terkait