Solusi Tumpang Tindih Lahan di Indonesia

Kebijakan Satu Peta diharapkan bisa menyelesaikan persoalan penggunaan lahan yang kerap terjadi selama 50 tahun terakhir di Indonesia.

Kebijakan Satu Peta diluncurkan di Jakarta Selasa(11/12), Peta yang berskala 1:50.000 ini memuat detil penggunaan lahan yang lebih spesifik dibanding peta sebelumnya yang berskala 1:250.000. Melalui peta ini kita bisa mempejari penggunaan lahan hingga perijinan yang dimilikinya.

‘‘Dengan pengaturan satu peta, perencanaan pengembangan akan lebih akurat. Dengan ini kita akan tahu dimana bendungan, dimana irigasi, termasuk perizinan dari timur ke barat dari utara ke selatan,‘‘ jelas Joko Widodo saat acara perluncuran Satu Peta di Jakarta.

Foto pembukaan Hutan di Sumatra tahun 2008 diambil dari handout Peter Pratje, Frankfurt Zoological Society (ZGF). Butuh 30 tahun untuk pohon tumbuh kembali.

Dalam pembuatan peta ini, ditemukan juga masalah tumpang-tindih penggunaan lahan yang lebih besar dari Korea Selatan. Darmin Nasution, Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Indonesia, menjelaskan terdapat sekitar 10.4 juta hektar tanah bermasalah di Kalimantan dan 6.4 juta hektar tanah bermasalah di Sumatra. Masih akan digelar rapat lanjutan lain untuk menyelesaikan masalah ini.

Lebih dari 74 juta hektar hutan hujan tropis Indonesia, menurut Greenpeace telah terpangkas dan terbakar untuk keperluan industri sawit, kertas, dan minyak. September 2018 lalu, lisensi untuk penanaman sawit telah ditangguhkan hingga tiga tahun kedepan. Penangguhan ijin untuk pembebasan lahan dan  tanah gambut sudah diberlakukan setelah 2011.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Berdampak buruk bagi masyarakat dan spesies langka

Proyek 'Save Your Souls' karya seniman Lithuania, Ernest Zacharevic ini merupakan bagian dari kampanye keprihatiannya atas dampak perkebunan kelapa sawit terhadap komunitas dan spesies langka di Indonesia. Huruf “SOS” membentang setengah kilometer di lahan seluas 100 hektar di Bukit Mas, Sumatera Utara, dekat ekosistem Leuser.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Tanda darurat di perkebunan sawit

"Saya ingin menyuarakan besarnya masalah dampak kelapa sawit," ujar Zacharevic yang membuat proyak tulisan tanda SOS raksasa di perkebunan di Sumatera Utara. "Proyek ini merupakan upaya untuk menarik kesadaran khalayak yang lebih luas." Proyek ini, bekerja sama dengan kelompok konservasi Sumatran Orangutan Society (SOS) yang berbasis masyarakat dan perusahaan kosmetik Lush.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Mengumpulkan dana kampanye

Mereka mengumpulkan dana untuk membeli perkebunan melalui penjualan 14.600 sabun berbentuk orangutan tahun lalu. Tujuannya adalah, benar-benar menghijaukan kembali lahan itu, yang sekarang dimiliki oleh sayap organisasi SOS di Indonesia, The Orangutan Information Center (OIC), dengan bibit pohon asli. Akhirnya menghubungkan kawasan itu dengan lokasi penghijauan OIC terdekat.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Mengolah konsep dan bertindak

Zacharevic berbagi ide kreatif yang sangat berani: Ia bersama kami saat itu dan kebetulan saja tanah yang baru kami beli itu adalah kanvas instalasi yang sempurna, tulis SOS di situsnya. Sekitar seminggu, seniman ini bekerja di lahan itu, menyusun konsep dan akhirnya menebang 1.100 sawit untuk menguraikan pesan ini.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Menanam kembali hutan

Setelah menghijaukan kembali lahan itu,sayap organisasi SOS di Indonesia, The Orangutan Information Center (OIC), menanaminya lagi dengan dengan bibit pohon asli di habitat tersebut sebagai upaya penghijauan.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Jadi sorotan dunia

Sementara itu sang seniman mewujudkan konsep yang digodok bersama sebagai penanda daruratnya kondisi hutan di Indonesia yang banyak digunduli: SOS. Indonesia telah menjadi pusat perhatian dunia dalam upaya mengendalikan emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh penggundulan hutan lahan gambut untuk dijadikan perkebunan bagi industri seperti minyak sawit, pulp dan kertas.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Komitmen perusahaan-perusahaan

Tanda SOS ini muncul di tengah tekanan yang terus bergulir pada perusahaan kelapa sawit. PepsiCo dan perusahaan kosmetik Inggris Lush telah berkomitmen untuk mengakhiri penggunaan minyak kelapa sawit - yang ditemukan dalam beragam produk mulai dari sabun hingga sereal .

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Meningkatkan transparansi

Sementara, awal tahun 2018 ini perusahaan raksasa Unilever mengatakan telah membuka informasi rantai pasokan minyak sawitnya untuk meningkatkan transparansi.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Masyarakat adat yang tersingkirkan

Hutan-hutan ini sering berada di daerah terpencil yang telah lama dihuni oleh masyarakat adat, yang mungkin tidak memiliki dokumen yang bisa membuktikan kepemilikan lahan atau dapat bersaing dalam akuisisi lahan di negara Asia Tenggara yang kaya sumber daya.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Flora dan fauna yang makin menghilang

Perluasan hutan juga menyebabkan berkurangnya populasi satwa liar. Cuma sekitar 14.600 orangutan yang tersisa di alam liar di Sumatera, demikian perkiraan para pemerhati lingkungan. "Kita semua berkontribusi terhadap dampak merusak dari minyak kelapa sawit yang tidak berkelanjutan, apakah itu dengan mengkonsumsi produk atau kebijakan pendukung yang mempengaruhi perdagangan," papar Zacharevic.

Muncul Tanda Bahaya SOS Raksasa di Perkebunan Sawit Sumatera

Tutupan hutan yang makin menurun

Para ahli lingkungan mengatakan pembukaan lahan untuk perkebunan pertanian di Indonesia, penghasil minyak sawit terbesar di dunia, bertanggung jawab atas kerusakan hutan. Penutupan hutan telah turun hampir seperempat luasnya sejak tahun 1990, demikian menurut data Bank Dunia. (ap/vlz/Ernest Zacharevic/SOS/rtr/leuserconservation/berbagai sumber)

Penerbitan peta ini sempat terhambat selama 3 tahun karena beragam konflik kepentingan yang timbul. Meski demikian pemerintah merencanakan pembuatan peta yang lebih rinci dengan skala 1:5000 pada tahun-tahun  mendatang.

sc/hp (The Strait Times, Jakarta Globe, Rreuters)

Tema

Ikuti kami