1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Suriah Sebar Ranjau di Kawasan Perbatasan

13 Maret 2012

Militer Suriah menyebar ranjau darat di sepanjang perbatasannya dengan Turki dan Libanon. Walaupun terancam bahaya maut para pengungsi tetap berusaha melintasi perbatasan.

https://p.dw.com/p/14K3H
Foto: dapd

Organisasi pembela hak asasi "Human Rights Watch" yang bermarkas di New York, sesuai laporan saksi mata serta petugas penyapu ranjau Suriah melaporkan Selasa (13/3), militer pro-rezim menyebar ranjau darat di sepanjang rute yang biasa dilalui pengungsi di perbatasan ke Turki dan Libanon. Sedikitnya seorang pengungsi cedera akibat menginjak ranjau.

Tim penyapu ranjau dari kelompok oposisi Suriah menambahkan, ratusan ranjau darat anti-personal dan anti kendaraan yang disebar di sepanjang perbatasan itu hampir semuanya buatan Rusia.

Di provinsi rusuh Idlib, ranjau darat itu terutama dipasang di rute yang biasa digunakan pengungsi untuk memasuki Turki. "Di desa Hasaniyeh, militer pro-Damaskus bulan Februari lalu memasang ranjau dalam formasi dua jajaran, sekitar tiga meter dari perbatasan sepanjang sekitar 500 meter", kata saksi mata.

Syrien Flüchtlinge Türkei Saleh Aufstand Flüchtlingslager
Kamp pengungsi Suriah di Turki.Foto: picture-alliance/dpa

Warga desa tidak diberi informasi mengenai hal itu. Mereka hanya diberitahu, tidak boleh memasuki kawasan itu tanpa izin militer.

Sementara pemasangan ranjau di sekitar perbatasan ke Libanon dilaporkan sudah dilakukan sejak November tahun lalu. Human Rights Watch menuntut rezim di Damaskus untuk segera menghentikan penggunaan senjata yang dilarang secara internasional itu. Suriah merupakan salah satu negara yang tidak meratifikasi traktat Ottawa mengenai pelarangan ranjau anti-personal.

Arus pengungsi terus mengalir

Tanpa mengindahkan bahaya ranjau yang dipasang di sepanjang perbatasan, arus pengungsi terus mengalir meninggalkan Suriah. Aktivis oposisi melaporkan, puluhan pengungsi dari kota Homs berhasil mencapai kota pelabuhan Tripoli di Libanon hari Senin malam (12/3).

"Warga mengalami trauma dan ketakutan. Mereka menyaksikan apa yang terjadi pada warga lainnya di Homs, dan memutuskan untuk melarikan diri guna melindungi diri dan keluarganya", kata Abu Imad, aktivis oposisi kepada kantor berita DPA.

Syrien Kämpfe in Idlib
Pertempuran terus berkobar di IdlibFoto: dapd

Sementara itu, pertempuran antara tentara pro Bashar al Assad melawan kelompok desersi dan pemberontak lainnya dilaporkan terus berkobar. Walaupun tentara pemerintah dilaporkan berhasil merebut Idlib, namun kontak senjata terus berlanjut.

Sejak pecahnya konflik di Suriah setahun lalu, sedikitnya 230.000 warga mengungsi dari kawasan krisis. Sekitar 30.000 warga mengungsi ke negara tetangga Turki, Libanon dan Yordania. Sisanya sekitar 200.000 menjadi pengungsi domestik di Suriah.

Annan tuntut pernyataan sikap Suriah

Sementara itu utusan khusus Liga Arab untuk masalah Suriah, Kofi Annan menyatakan menunggu reaksi Damaskus terkait usulannya untuk mengakhiri aksi kekerasan hari Selasa (13/3). "Jika jawabannya sudah ada, kita tahu, bagaimana kita harus bereaksi", kata Annan yang sedang berada di Turki.

Annan juga menggelar pertemuan dengan ketua kelompok oposisi Dewan Nasional Suriah, Burhan Ghaliun di Ankara. PM Turki, Recep Tayyip Erdogan dalam kesempatan itu mengumumkan, pertemuan sahabat Suriah akan digelar di Istanbul 2 April mendatang.

Turki juga mengharapkan kehadiran Rusia dan Cina dalam konferensi itu. Kedua negara pro rezim Assad itu tidak hadir dalam pertemuan membahas konflik Suriah di Tunisia belum lama ini.

Agus Setiawan (dpa,dapd,afp,rtr)

Editor : Vidi Legowo