Tahun 2018 Adalah Tahun Bencana Terparah Sejak Satu Dekade

BNPB mencatat jumlah korban jiwa akibat bencana alam di Indonesia selama tahun 2018 jauh melebihi tahun-tahun sebelumnya. Gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menjadi yang paling banyak menyebabkan angka kematian.

Di penghujung 2018 ini Indonesia menutup tahun bencana paling parah selama satu dekade terakhir, klaim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hingga kini tercatat 4.231 korban meninggal dunia dan hingga tiga juta penduduk terpaksa mengungsi menyusul 2.426 bencana alam yang terjadi di sepanjang tahun.

Jumlah bencana alam tahun 2018 sebenarnya lebih rendah ketimbang 2017 yang mencatat 2.862 peristiwa alam. Namun angka korban pada tahun lalu jauh lebih rendah, yakni 378 kasus kematian dan pada 2016 tercatat 578 kasus kematian.

Baca juga: Natal Duka Tutup Tahun Bencana

"Tahun ini adalah tahun yang penuh bencana untuk Indonesia," kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho seperti dilansir Jakarta Post. "Ini adalah angka kematian paling tinggi sejak 2007," imbuhnya.

Rangkaian bencana di Indonesia diawali dengan gempa bumi di Lebak, Banten, pada 23 Januari, yang turut menggoyang Jakarta, dan memuncak pada gempa berkekuatan 6,4 pada skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok dan gempa 7,4 SR di Sulawesi Tengah.

Kilas 2018: Nestapa Indonesia di Tahun Bencana

Tsunami Selat Sunda

Tanpa adanya peringatan dini, gelombang tsunami menghantam pesisir Banten dan Lampung pada malam 22 Desember. Lebih dari 280 orang dinyatakan meninggal dunia. Letusan gunung Anak Krakatau yang memicu longsor bawah laut diyakini sebagai penyebab gelombang maut tersebut. Bencana ini melengkapi nestapa yang dialami Indonesia selama 2018.

Kilas 2018: Nestapa Indonesia di Tahun Bencana

Kecelakaan Lion Air

Tak usai dirundung bencana alam, Indonesia ikut ditimpa kecelakaan penerbangan. Pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT610 jatuh ke laut Jawa setelah lepas landas dari Jakarta, 29 Oktober. Sebanyak 189 penumpang dan kru kapal meninggal dunia. Dalam kesimpulan awal, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi menyebut Boeing 737 Max mengalami kerusakan sensor yang berakibat jatuhnya pesawat.

Kilas 2018: Nestapa Indonesia di Tahun Bencana

Gempa Bumi dan Tsunami Palu

Gempa Bumi berkekuatan 7,5 skala Richter yang menghantam Palu, Sulawesi Tengah, pada September silam ikut memicu gelombang tsunami. Angka korban jiwa tercatat 2.000 orang, namun bisa membengkak menjadi 5.000 orang lantaran banyaknya korban yang tertimbun tanah menyusul fenomena likuifaksi pasca gempa bumi. Pemerintah menaksir kerugian yang tercipta mencapai Rp. 16 triliun.

Kilas 2018: Nestapa Indonesia di Tahun Bencana

Gempa Bumi Lombok

Lebih dari 500 orang meninggal dunia dan 1.000 mengalami luka-luka ketika serangkaian gempa bumi mengguncang Lombok antara 29 Juli hingga akhir Agustus silam. Akibatnya 417.000 penduduk terpaksa mengungsi dari kediaman sendiri. Adalah dua gempa bumi yang masing-masing berkekuatan 6,4 dan 6,7 pada skala Richter yang menimbulkan kerusakan terbesar. Total kerugian ditaksir mencapai Rp. 12 triliun.

Kilas 2018: Nestapa Indonesia di Tahun Bencana

Karamnya Feri di Danau Toba

Hampir 170 orang menghilang dan diyakini meninggal dunia akibat karamnya kapal feri di Danau Toba, 19 Juni. Para korban gagal menyelamatkan diri lantaran terperangkap di tubuh kapal. Karamnya KM Sinar Bangun ditengarai akibat kelebihan muatan. Namun ketiadaan manifes mempersulit kepastian jumlah penumpang dan kendaraan yang terangkut saat pelayaran. (rzn/ap: dari berbagai sumber)

Bencana di Palu dan Donggala tercatat sebagai yang paling mematikan. Tercatat 2.256 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.000 orang masih dinyatakan hilang. Kebanyakan korban hilang diyakini tertimbun tanah akibat fenomena likuifaksi yang melumerkan lapisan teratas tanah dan menelan bangunan di atasnya.

Terakhir tsunami Selat Sunda yang dipicu longsor bawah laut dari gunung Anak Krakatau menewaskan sekitar 430 orang, sementara 159 lainnya masih dinyatakan hilang. Peristiwa ini tergolong langka dan sulit diprediksi. Akibatnya hingga ombak menggulung kawasan pesisir, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) belum mengeluarkan peringatan dini bahaya tsunami.

Baca juga:Ilmuwan Sudah Prediksi Tsunami Anak Krakatau Enam Tahun Silam 

Atas dasar itu Presiden Joko Widodo kini memerintahkan BMKG melengkapi sistem pemantauan bencana tsunami dengan membeli pendeteksi gelombang baru pada 2019. Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pihaknya telah mengajukan pengadaan perlengkapan kebencanaan sejak awal Januari 2018. Saat ini permohonan tersebut sedang digodok di Kementerian Keuangan.

"Harus saya akui, kami gagal meyakinkan bahwa potensi ancaman tsunami dan bencana lain itu nyata sehingga keberadaan berbagai peralatan untuk deteksi dini itu amat mendesak," katanya kepada Detik.com.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Korban tewas bertambah

Seorang ayah menggendong jenazah anaknya yang tewas akibat tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Tsunami lebih dari 2 meter menyapu pesisir Palu dan Donggala. Sebagian besar korban yang ditemukan awalnya hanya di Palu, Sementara lokasi terparah di Donggola, Sigi dan Parigi sulit dicapai tim evakuasi, sehingga perkiraan jumlah korban jiwa diduga mencapai ribuan.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Terjebak di bawah reruntuhan

Diperkirakan banyak korban yang terjebak bangunan yang roboh akibat gempa. Di Palu, fokus pencarian di antaranya Hotel Roa-Roa, Mal Ramayana, Restoran Dunia Baru, Pantai Talise dan Perumahan Balaroa. Di Balaroa, akibat proses likuifaksi ada bagian jalanan yang naik dan perumahan warga yang ambles sedalam 5 meter. Sekitar 90 warga diduga terjebak di dalam reruntuhan.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Identifikasi korban

Meski jumlah korban tewas yang dievakuasi mencapai ratusan korban, namun yang dapat diidentifikasi melalui lima rumah sakit di Palu menurut catatan BNPB terbatas. "Jumlah itu juga sebagian karena tsunami, sebagian karena gempa sebelumnya yang mengakibatkan tsunami itu. Misalnya saat gempa itu tertimpa reruntuhan," papar juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Ratusan terluka

Ratusan orang terluka dan terpaksa dirawat di luar rumah sakit. Sebagian besar terluka akibat tertimpa reruntuhan, atau saat menyelamatkan diri. Saat gempa banyak tembok bangunan yang roboh. Komang Adi Sujendra, Direktur Rumah Sakit Palu meminta bantuan. "Kami membutuhkan rumah sakit lapangan, tim medis, obat-obatan dan selimut."

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Pemakaman massal

Banyaknya jumlah korban serta demi mencegah penyebaran penyakit menyebabkan pemakaman massal menjadi pilihan. 18 jenazah yang dimakamkan pada tahan awal telah diidentifikasi sebelumnya di RS Bhayangkara Polri.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Ratas di Palu

Joko Widodo langsung memimpin rapat terbatas setibanya di Palu, Sulawesi Tengah. Proses evakuasi, pembenahan akses jalan dan komunikasi jadi prioritas utama tanggap darurat saat Jokowi mengunjungi lokasi terdampak bencana gempa dan tsunami.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Mengantre BBM

Antrean panjang terjadi di berbagai SPBU di Palu. Aliran listrik yang terputus, membuat warga terpaksa mengantre hingga malam. Selain warga, tempat yang juga mendesak membutuhkan pasokan BBM adalah rumah sakit.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Tanpa listrik

Pasca gempa, infrastruktur hancur dan saluran komunikasi terputus. Warga bertahan di lapangan terbuka, karena takut berada di dalam bangunan bila gempa susulan terjadi.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Akses jalan terputus

Akibat gempa dan tsunami, jalanan di Palu, Sulawesi Tengah, sulit diakses akibat jalan yang menghubungkan Poso dan Palu terputus. Bukan hanya di dalam kota, akses di wilayah perbatasan dengan kota tetangga juga terdampak gempa. Donggala, wilayah yang terkena dampak terparah sulit dicapai, sehingga evakuasi korban terhambat.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Evakuasi daerah terparah

Warga turut membantu proses evakuasi para korban pasca gempa mengguncang Sulawesi Tengah, Jumat (28/09). Presiden Jokowi juga memerintahkan Menko Polhukam untuk mengkoordinasi BNPB serta menginstruksikan TNI untuk melakukan penanganan darurat baik pencarian korban, evakuasi, maupun penyiapan kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan korban selamat.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Masjid Baiturrahman

Masjid Baiturrahman tak begitu jauh dari pesisir Pantai di Palu. Ketika gelombang tsunami terjadi, banyak umat yang bersiap melakukan sholat maghrib.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Jembatan Kuning Ponulele

Dari pantauan udara terlihat, jembatan setinggi 20,2 meter yang jadi ikon Kota Palu luluh lantak akibat terjangan tsunami yang dahsyat. Jembatan lengkung pertama di Indonesia yang membentang di atas Teluk Talisa itu roboh dan turut membawa mobil yang melintas di atasnya.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Tsunami 5 meter

BNPB menyebutkan tsunami yang menghantam Palu sempat mencapai ketinggian lima meter. Saat terjadi gempa yang disusul tsunami sebagian besar warga masih tetap melanjutkan aktivitas.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Tak segera lari

Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah, sebab diketahui ada "puluhan hingga ratusan" orang yang sedang berkumpul melakukan perayaan di pantai Talise, Palu saat tsunami terjadi. "Ketika peringatan tsunami terjadi kemarin, warga tetap melanjutkan aktivitas mereka di dekat pantai dan tidak segera berlari dan mereka menjadi korban," ungkap juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Peringatan tsunami

Sebelum gempa berkekuatan 7,7 SR yang memicu tsunami terjadi, sekitar tiga jam sebelumnya, gempa pertama terjadi di Donggala. Peringatan dini tsunami segera aktif saat gempa terjadi, namun sesudah setengah jam dan situasi dianggap kondusif, peringatan tsunami diakhiri. Peringatan dicabut berdasarkan pemantauan visual dan peralatan di laut.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Penyebab gempa dan tsunami Donggala dan Palu

Gempa 7,7 SR yang mengguncang Donggala memicu gelombang tsunami di Kabupaten tersebut dan Kota Palu. Gempa bumi tersebut merupakan gempa tektonik yang dangkal akibat aktivitas Sesar Palu-Koro. Patahan Palu-Koro merupakan patahan dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia, setelah patahan Yapen, dengan pergerakan mencapai 46 mm/tahun.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Gempa dan tsunami pernah terjadi

Bukan pertama kali gempa dan tsunami terjadi, baik di Donggala maupun Palu. Lokasinya yang berada di Sesar Palu-Koro menjadikan wilayah itu rawan gempa dan tsunami. BNPB merilis gempa dan/atau tsunami pernah terjadi 10 kali. Gempa pertama tercatat terjadi 1 Desember 1927 di Teluk Palu. Sedangkan tsunami setinggi 3,4 meter pernah terjadi tahun 1996 di Donggala. (Ed: ts/yp)

"Padahal potensi ancaman tsunami di tanah air sebetulnya sudah dipetakan sejak 2001. Tapi di tengah keterbatasan anggaran negara, pengadaan berbagai peralatan deteksi dini itu harus melewat prosedur pengkajian dan pembahasan yang panjang," kata dia lagi.

Menanggapi tsunami tak terduga di Selat Sunda, Karnawati menginstruksikan penggabungan data pengamatan gempa bumi milik BMKG dan erupsi gunung berapi milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Selain itu Badan Perencanaan dan Penerapan Teknologi (BPPT) dilibatkan dalam pengadaan alat pendeteksi tsunami.

Baca juga: Kisah-kisah Mereka yang Kehilangan Dalam Gempa Palu

Ahli Tsunami di BPPT, Wijdokongko berharap pemerintah serius memberikan dukungan finansial untuk menyempurnakan sistem pemantauan bencana di Indonesia. "Saya tidak tahu ini bagaimana prospek ke depannya, apakah ini akan lanjut apa tidak. Karena ini kan di penghujung tahun politik juga," kata dia kepada DW. "Tapi kalau itu jadi keniscayaan, maka kita siap mendukung."

Namun demikian pemerintah didesak untuk membangun kesadaran bencana dan melakukan pendidikan mitigasi terhadap masyarakat. "Harus ada latihan darurat tsunami, harus ada jalur evakuasi, harus ada pusat informasi tsunami yang membantu mengedukasi masyarakat. Karena kadang-kadang secara edukasi dan budaya (belum tercukupi). Ini tantangannya."

rzn/na (afp, ap, thejakartapost, kompas)

Potret Kerusakan di Lombok Pasca Gempa Bumi

Pencarian Manual

Tidak jelas berapa jumlah korban yang masih terjebak di balik reruntuhan gedung. Hingga kini tim SAR gabungan masih berupaya mencari korban secara manual atau dengan bantuan alat berat.

Potret Kerusakan di Lombok Pasca Gempa Bumi

Bencana di Tengah Ibadah

Lantaran gempa terjadi pada subuh ketika sebagian kaum Muslim masih menunaikan ibadah Sholat di Masjid, upaya pencarian kini diarahkan ke rumah-rumah ibadah. Jurubicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan pihaknya menemukan masih banyak sandal tercecer di depan masjid.

Potret Kerusakan di Lombok Pasca Gempa Bumi

Kerusakan Meluas

Data sementara menyebutkan gempa Lombok yang berkekuatan 7 SR mengakibatkan setidaknya 105 orang meninggal dunia dan 236 orang luka-luka. Ada ribuan rumah yang rusak, terutama di wilayah Lombok Utara dan Timur. Sebanyak 84.000 penduduk dikabarkan mengungsi ke kamp penampungan.

Potret Kerusakan di Lombok Pasca Gempa Bumi

Berpacu Dengan Waktu

Seorang korban dilaporkan berhasil diselamatkan oleh anggota TNI di masjid di Lading Lading, Lombok Utara. Sutopo meyakini masih ada belasan hingga puluhan korban lain yang tertimbun reruntuhan masjid. Regu penyelamat berpacu dengan waktu untuk mengeluarkan korban yang masih hidup.

Potret Kerusakan di Lombok Pasca Gempa Bumi

Tanpa Tenaga Medis

Dua jemaah dikabarkan berhasil diselamatkan dari reruntuhan masjid, termasuk seorang perempuan yang menderita patah kaki. Menurut Budhiawan, Kepala Desa Lading Lading, regu penyelamat harus merawat korban dengan cara tradisional lantaran rumah sakit yang membludak.

Potret Kerusakan di Lombok Pasca Gempa Bumi

Runtuhnya Rumah Tuhan

Runtuhnya masjid di Lombok menyita perhatian regu penyelamat. Sebanyak 90 personil dari TNI, Basarnas dan Kepolisian diterjunkan ke desa Lading Lading buat mencari korban yang tertimbun. Seorang saksi mata yang berhasil menyelamatkan diri mengaku melihat seratusan jemaah di dalam masjid sebelum disapu gempa.

Potret Kerusakan di Lombok Pasca Gempa Bumi

Rumah Sakit Kewalahan

Selain tenaga medis, hampir semua rumah sakit di Lombok mengalami kekurangan obat-obatan. Gempa yang melanda selama dua kali selama sepekan meluluhlantakkan kawasan Lombok Utara dan Timur yang kini nyaris rata dengan tanah. Rumah dan infratsruktur yang rusak atau roboh pun menjadi pemandangan lazim. rzn/yf (rtr,ap,dpa)


Ikuti kami