1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Tantangan Pengembangan Vaksin Corona AstraZeneca

29 Oktober 2020

Vaksin Oxford ChAdOx1 adalah salah satu kandidat vaksin virus corona yang menjanjikan. Tetapi para kritikus mengatakan penelitian vaksin berjalan terlalu cepat dan menyepelekan risiko. Apakah tuduhan itu benar?

https://p.dw.com/p/3ka0N
Deutschland | Coronavirus | Impfstoff Schott
Foto: Schott

Saat ini terdapat lebih dari 200 kandidat vaksin virus corona yang sedang dikembangkan di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sembilan di antaranya dianggap sebagai yang terdepan karena sudah mencapai uji klinis tahap 3.

Salah satu vaksin yang menarik perhatian khusus adalah vaksin Oxford ChAdOx1 atau juga dikenal AZD1222. Vaksin dari perusahaan bioteknologi Vaccitech ini dikembangkan oleh perusahaan farmasi Inggris-Swedia AstraZeneca, bekerja sama dengan Universitas Oxford.

Respon kekebalan pada orang tua dan muda

The Guardian, dengan mengutip seorang pengembang vaksin yang tidak disebutkan namanya, melaporkan pada 27 Oktober bahwa penelitian terbaru menunjukkan vaksin "menghasilkan respons kekebalan pada orang tua begitu pun dengan yang muda".

Laporan itu menambahkan bahwa "baik Universitas Oxford maupun mitra komersialnya AstraZeneca tidak akan merilis data dari uji coba awal yang menunjukkan efek positif, yang saat ini sedang dikirimkan ke jurnal peer-review". Laporan itu juga menyebut bahwa AstraZeneca baru-baru ini membagikan temuannya pada pertemuan akademik tertutup. 

Uni Eropa percepat peninjauan

Badan Pengawas Obat Eropa (European Medicines Agency/EMA) telah memulai peninjauan terhadap AZD1222. Peninjauan ini menjadi yang pertama kalinya dilakukan oleh Uni Eropa untuk kandidat vaksin virus corona.

Mengingat situasi yang mendesak saat ini, maka peninjauan dilakukan dengan prosedur yang dipercepat. Untuk menghemat waktu, otoritas memeriksa data pengujian di saat yang bersamaan ketika data itu masih dikumpulkan. Biasanya pengujian harus diselesaikan terlebih dahulu, baru setelahnya semua hasil pengujian diserahkan ke EMA sekaligus.

Di bawah prosedur saat ini, dapat dibayangkan bahwa vaksin bisa dirilis hanya beberapa hari setelah pengujian akhir - jika otoritas yakin bahwa vaksin itu manjur dan aman. Namun, EMA sejauh ini menolak mengatakan berapa lama peninjauan dan evaluasi tersebut akan berlangsung. EMA hanya mengatakan bahwa tes dengan ribuan relawan sedang dilakukan dan hasilnya diharapkan ada dalam beberapa minggu atau bulan mendatang.

Pesanan di awal yang berisiko

Meskipun belum jelas apakah vaksin itu akan disetujui pada akhirnya, banyak pemerintah, termasuk Jerman, sudah memesan puluhan juta dosis vaksin. Dan AstraZeneca telah menandatangani perjanjian yang mengikat dengan Serum Institute of India untuk memproduksi setidaknya 300 juta dosis.

Bagi negara yang sudah memesan vaksin, dan bagi AstraZeneca sendiri, pemesanan awal semacam ini adalah pertaruhan ekonomi. Jika vaksin pada akhirnya disetujui dan pabrik dapat memproduksi sejumlah besar dosis vaksin ke pasar pada tahap awal, keuntungan yang didapat akan sangat besar. Tetapi risiko ketika vaksin tidak disetujui juga sangat besar. 

Diserang kritikus

Kritikus seperti ahli ekologi kesehatan Austria Clemens Arvay, melihat semua ini sebagai konfirmasi dari keyakinan mereka bahwa industri farmasi besar, yang didukung oleh sponsor seperti Bill Gates dan dengan “persetujuan politik diam-diam”, ingin menghasilkan vaksin dengan biaya berapa pun untuk mengejar keuntungan.

Arvay, seorang ahli biologi yang juga menjalankan blog YouTube, berpendapat bahwa dalam prosesnya, pengembangan vaksin corona mengabaikan kehati-hatian medis dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Dia berargumen dengan sejumlah poin: zat aktif tidak menciptakan perlindungan yang cukup terhadap infeksi, saat pengujian tahap praklinis pada primata, namun disetujui untuk percobaan gabungan tahap 1 dan 2. Pada tahap ini terjadi efek samping yang parah: demam dan penurunan sel darah putih (neutropenia).

Meskipun demikian, vaksin tersebut telah disetujui untuk tahap 3. Dan ada insiden serius pada tahap 3, dengan satu relawan menderita myelitis transversal. Penelitian sempat dihentikan sementara.

Survei menentang vaksinasi
Hasil survei tentang alasan paling umum menentang vaksinasi

Peneliti menanggapi kekhawatiran dengan serius

"Saya dapat memahami kekhawatiran bahwa orang-orang tidak bekerja dengan hati-hati karena tekanannya sangat besar," kata Prof Stephan Becker, ahli virus dari Universitas Marburg di Jerman. "Jadi, ada beberapa alasan untuk tetap memperhatikan berbagai hal," tambahnya.

Becker sendiri terlibat dalam studi gabungan uji klinis Tahap 1 dan 2. Institusinya melakukan pemantauan kekebalan dalam "uji netralisasi", atau tes untuk antibodi penetral. Ini berarti dia dan rekan-rekannya memeriksa apakah salah satu dari tiga respons kekebalan yang diinginkan terhadap vaksinasi berhasil.

"Saya tidak melihat bahwa industri memberikan ‘tekanan halus’ pada para ilmuwan dan otoritas regulator. Otoritas regulator sekarang sangat fokus pada vaksin COVID-19 dan memusatkan upayanya terhadap itu, tetapi ini bukan berarti bahwa orang-orang bekerja secara kurang hati-hati, "kata Becker. 

Professor Stephan BeckerI Direktor des Instituts für Virologie
Profesor Stephan Becker, ahli virus dari Universitas Marburg di JermanFoto: Markus Farnung/Philipps Universität Marburg

Apakah vaksin ini efektif?

Dalam kritiknya, Arvay mengacu pada pendapat para ahli seperti ahli genetika dan ahli biologi molekuler AS terkemuka William A. Haseltine. Pada Mei, Haseltine sempat menyatakan keraguannya tentang keefektifan vaksin dalam sebuah artikel di Forbes. Dia menulis bahwa dia kecewa dengan hasil tahap praklinis, saat vaksin itu diujikan pada hewan.

Namun Becker memiliki interpretasi yang berbeda terhadap hasil penelitian ini, yang dipublikasikan sebagai preprint di BioarXiv dan di Nature.

Vaksin ini pertama kali diujikan pada tikus, dan kemudian pada kera. Becker mengatakan penelitian tersebut menunjukkan bahwa semua tikus menunjukkan reaksi setelah vaksinasi, yakni menghasilkan tiga bentuk kekebalan yang diinginkan.

"Mereka memiliki titer penetral dan titer ELISA. Dan tampaknya respons sel-T juga bekerja," katanya. Dia melihat tes dengan kera menghasilkan hasil yang serupa.

Butuh komunikasi lebih baik

Beberapa hari setelah relawan Inggris yang mengalami sakit saat uji klinis tahap 3, diperbolehkan keluar dari rumah sakit, para ilmuwan melanjutkan studi uji klinis tahap 3.

Becker yang tidak terlibat dalam studi tahap 3, meyakini bahwa rekan-rekan medisnya akan melanjutkan penelitian dengan teliti dan hati-hati. "Mereka hanya berusaha untuk menjadi sangat cepat. Dan itulah yang diinginkan banyak orang. Beberapa tidak ingin divaksinasi - saya juga dapat memahaminya. Tetapi bagi banyak orang, vaksin mudah-mudahan merupakan kesempatan baik untuk kembali normal, " katanya.  (pkp/gtp) 

Fabian Schmidt
Fabian Schmidt Editor redaksi sains yang berfokus pada teknologi dan inovasi.