Tekad Igib Prasetyaningsari Kembangkan Energi Angin dan Surya di Indonesia

Igib Prasetyaningsari, mahasiswi S-2 di Technische Hochschule Köln jurusan Manajemen Energi Terbarukan, bertekad akan menggunakan ilmu yang ia pelajari di Jerman untuk mengembangkan energi angin dan surya di nusantara.

Kebutuhan akan pasokan energi yang berkelanjutan menjadi semakin penting dengan menurunnya sumber energi fosil, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Bagaimana pentingnya studi yang dipelajari Igib untuk keberlangsungan bumi? Simak wawancara DW dengan mahasiswi asal Bogor, Jawa Barat tersebut.

DW: Pelajaran apa saja yang diajarkan di jurusan Manajemen Energi Terbarukan?

Igib Presetyaningsari: Di program ini saya belajar mengenai energi terbarukan sebagai salah satu instrumen pembangunan berkelanjutan di negara-negara tropis dan sub-tropis. Jadi institut ini menawarkan tiga master program, terkait dengan ketahanan air, ketahanan energi dan ketahanan pangan. Jadi permasalahan di abad 21 ini tidak sederhana, tapi menjadi lebih kompleks. Kami di sini dituntut untuk berpikir lebih sistemik atau menyeluruh dan juga berpikir dari bidang ilmu lain, tidak hanya dari bidang teknik, tapi juga dari bidang sosial dan ekonomi.

Apa yang paling disukai dari pelajaran di jurusan ini?

Yang saya suka, karena sumber energinya ini adalah terbarukan, energi ini sebenarnya sudah tersedia. Seperti matahari, air, angin itu sudah tersedia dari alam. Tidak seperti fosil atau energi minyak bumi yang kita memerlukan waktu untuk eksplorasi sebelum akhirnya bisa mengeksploitasi.

Seperti yang telah diketahui banyak orang, cadangan minyak bumi atau bahan bakar fosil semakin menipis, baik itu berupa batu bara atau gas. Dan ke depannya penggunaan energi yang bersih atau clean energy  akan menjadi suatu solusi untuk menciptakan energi yang lebih ramah lingkungan, untuk menghadapi masalah seperti perubahan iklim dan lain sebagainya.

Energi Masa Depan di Tangan Pemudi Masa Kini

Dari Bogor ke Köln

Igib Prasetyaningsari berasal dari Bogor, Indonesia dan berumur 28 tahun. Untuk kuliah S2, dia memutuskan datang ke Jerman di mana ada program "Manajemen Energi Terbarukan".

Energi Masa Depan di Tangan Pemudi Masa Kini

Menerapkan ilmu yang dapat di Jerman ke Indonesia

Dengan belajar di program S2 ini, Igib berharap dapat menyumbangkan ilmu yang didapat di Jerman untuk diterapkan di Indonesia, dan juga bisa berkontribusi untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, terutama energi surya di Indonesia.

Energi Masa Depan di Tangan Pemudi Masa Kini

Potensi EBT yang besar

Di Jerman, kebijakan mengenai energi terbarukan sudah ada sejak tahun 1970. Di Indonesia akses dan infrastruktur energi masih sangat terbatas, ini diakibatkan oleh kondisi geografis yang berupa kepulauan. Tetapi sebenarnya potensi pemanfaatan energi surya besar sekali, karena Indonesia berada di garis khatulistiwa.

Energi Masa Depan di Tangan Pemudi Masa Kini

Suasana Internasional

Program "Renewable Energy Management" di TH Köln merupakan program internasional, sehingga Igib belajar bersama teman-teman dari berbagai negara.

Energi Masa Depan di Tangan Pemudi Masa Kini

Ke Jerman dengan bantuan DAAD

Igib mendapat beasiswa dari DAAD (Dinas Pertukaran Akademis Jerman). Bila ingin melamar untuk progam beasiswa ini, Anda harus punya dua tahun pengalaman kerja. Tetapi pengalaman itu bisa di bidang yang tidak langsung berkaitan dengan program studi yang diinginkan. ra/yp

Apa Anda punya pengalaman bekerja di bidang energi terbarukan?

Sebelumnya saat saya masih studi sarjanasekitar tahun 2010 ada program proyek pemerintah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk membangun tenaga listrik tenaga hybrid di Pantai Pandansimo, Yogyakarta. Saya membantu pekerjaan di sana sebagai asisten supervisor dan saya terlibat dengan berbagai macam proyek seperti survei potensi energi terbarukan maupun kegiatan lainnya yang berhubungan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) baik langsung atau tidak langsung. Dari situ saya semakin tertarik bahwa energi terbarukan merupakan salah satu solusi yang sangat menjanjikan untuk menciptakan energi bersih di masa yang akan datang. Saat melakukan praktikum di PLTH saya juga pernah dikirim ke Jerman selama dua minggu untuk melakukan pelatihan tentang penggunaan off-grid energi terbarukan sebagai solusi pemanfaatan energi di Indonesia. Saat melakukan praktikum di PLTH saya semakin tertarik karena energi terbarukan adalah solusi yang menjanjikan untuk menjawab kebutuhan energi di masa yang akan datang.

Apa energi terbarukan di Indonesia yang paling berpotensi besar?

Air merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai energi bersih. Potensi energi air di Indonesia sendiri juga cukup besar. Sementara potensi lainnya seperti energi surya juga sangat besar karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 79 tahun 2014, energi baru terbarukan (EBT) diharapkan mampu mengkontribusi sebesar 23% dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2025.  Dari 23% tersebut hanya sekitar 25% untuk potensi energi dari panas bumi dan air yang akan dimanfaatkan oleh pemerintah. Sementara dari bio-energi hanya 15% dan untuk energi surya dan energi angin hanya kurang dari 5%.

Tema

Pembangunan Sumber Energi Bersih di Indonesia

Kapasitas besar

Indonesia baru resmi mengoperasikan PLTB di Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin lalu. PLTB ini memiliki 30 kincir angin dengan tinggi tower 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter, masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 MW, sehingga total kapasitas yang dihasilkan oleh 30 turbin adalah 75 MW.

Pembangunan Sumber Energi Bersih di Indonesia

Menyerap ribuan tenaga kerja

Taman energi angin seluas 100 hektar ini menggunakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekitar 40%. Selain itu proyek ini juga diperkirakan akan menyediakan ribuan lapangan pekerjaan.

Pembangunan Sumber Energi Bersih di Indonesia

"Seperti di luar negeri"

Pada saat peresmian, presiden mengatakan dirinya serasa berada di luar negeri. PLTB di Sidenreng Rappang, atau biasa disingkat Sidrap, adalah yang pertama di Indonesia. Presiden Jokowi menyampaikan, pembangunan serupa juga akan dilakukan di berbagai tempat lainnya, seperti di Kalimantan dan Jawa.

Pembangunan Sumber Energi Bersih di Indonesia

Potensi pengembangan energi terbarukan

Selain tenaga angin, Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan energi terbarukan seperti energi matahari, panas bumi (geotermal) dan energi ombak. Panas bumi (geotermal) memiliki potensi sebanyak 29.000 MW dan baru dikerjakan kurang lebih 2.000 (MW).

Pembangunan Sumber Energi Bersih di Indonesia

Target ambisius

Selain meresmikan PLTB Sidrap, masih di tempat yang sama, Presiden juga meresmikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Punagaya berkapasitas 2x100 MW dan PLTU Jeneponto Ekspansi dengan kapasitas 2x135 MW. Pada 2025, Indonesia menargetkan proporsi pemakaian energi terbarukan mencapai 23 persen.

Mengapa pemanfaatan energi surya dan angin masih minim?

Ini karena faktor efisiensi untuk mengkonvensi energi surya dan angin menjadi energi listrik. Untuk itu saya berharap dengan belajar di Jerman mengenai energi terbarukan, saya dapat memberi kontribusi untuk membantu meningkatkan pemanfaatan energi surya dan angin di Indonesia.

Apa ada usaha Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan pemanfaatan energi surya atau angin?

Untuk mencapai target, pemerintah mewajibkan bangunan pemerintah maupun rumah mewah dan kompleks apartemen untuk dapat menggunakan panel surya sebagai sumber energi listrik disamping penggunaan energi primer dari PLN.

Tantangan untuk pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia?

Salah satunya adalah karena kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sehingga akses akan infrastruktur energi masih sangat terbatas. Seperti contoh transmisi listrik PLN yang belum cukup tersambung antar satu pulau dan pulau lainnya karena jaraknya yang sangat jauh. Selain itu harga bahan bakar minyak masih relatif lebih murah dibandingkan dengan harga listrik dengan menggunakan energi terbarukan. Sebagai contoh, untuk 1 kWh panel surya diperkirakan biayanya Rp 8000,-. Sementara listrik dari diesel harganya hanya Rp 1000,-. Sementara juga harga listrik yang bersumber dari pembangkit listrik tenaga gas uap sekitar Rp 1800,- per kWh.

Apa harapan kamu setelah belajar dari Jerman?

Saya berharap dapat menyumbangkan ilmu yang saya peroleh di Jerman untuk diterapkan di Indonesia. Dan selanjutnya berkontribusi untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, terutama energi surya di Indonesia. (yp/ts)

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.

Ikuti kami