1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Seni

Film Korea Selatan 'Parasite' Raih Empat Piala Oscar

10 Februari 2020

Ada yang luar biasa dalam penghargan piala Oscar pada Minggu (09/02) malam di Los Angeles: Film asal Korea Selatan yaitu Parasite meraih Oscar dalam empat kategori sekaligus.

https://p.dw.com/p/3XX7l
Sutradara film Parasite, Bong Joon-ho
Foto: Reuters/E. Gaillard

Kemenangan ini menjadikan Parasite sebagai film pertama yang tidak berbahasa Inggris yang memenangkan Oscar pada kategori Film Terbaik. Ini adalah kategori penghargaan yang paling diidamkan para insan perfilman Hollywood.

Parasite juga memperoleh Oscar untuk kategori Naskah Asli Terbaik dan menjadikannya film pertama dari Asia yang meraih penghargaan kategori ini. Selain itu, piala untuk kategori Film Internasional Terbaik dan Sutradara Terbaik juga berhasil diraih. Parasite pun menjadi bintang pada malam penganugerahan Oscar yang diselenggarakan di Dolby Theater di Los Angeles, Amerika Serikat.

Cerita universal tentang ketimpangan sosial

Film komedi satir besutan sutradara Bong Joon-ho asal Korea Selatan ini bercerita tentang ketimpangan sosial antara orang miskin dan kaya di dunia modern. Film ini berhasil meruntuhkan batas-batas hambatan bahasa.

"Saya merasa seperti akan segera bangun dan mendapati semua ini hanya mimpi. Semuanya terasa sangat surreal," ujar sutradara Bong Joon-ho setelah filmnya dinyatakan menang penghargaan tertinggi.

Sebelumnya, Parasite juga telah memenangkan Palme d'Or pada festival film Cannes tahun lalu dan menjadi film pertama dari Korea Selatan yang memenangkan kategori film asing terbaik pada Golden Globes bulan lalu.

Film ini bercerita tentang keluarga dari kelas bawah asal Korea Selatan yang merencanakan penipuan. Mereka berkomplot untuk mendapatkan pekerjaan, baik sebagai tutor, supir maupun pekerja rumah tangga, di keluarga dari kalangan berada. 

Adegan film Parasitekarya sutradara Bong Joon-ho
Adegan dalam film Parasite yang memenangkan piala Oscar pada empat kategori.Foto: picture-alliance/dpa/Koch Film

Film diawali dengan penggambaran kehidupan empat orang yang tinggal di apartemen bawah tanah yang gelap, lembab dan penuh kecoak. Meski tinggal di Korea Selatan, yang merupakan salah satu negara dengan teknologi paling canggih di dunia, mereka tidak punya akses WiFi.

Mereka lantas memalsukan ijazah universitas dan mengatur kebohongan yang kemudian membawa mereka pada serangkaian kekerasan di rumah orang kaya tempat mereka bekerja.

Film ini mendapat kritik yang sangat positif. Di film itu ada saat ketika seorang ibu menyatakan: "Uang itu ibarat setrika, bisa memuluskan semua kerutan."

John Lie, seorang profesor di bidang sosiologi pada Universitas Berkeley, California, mengatakan bahwa kemiskinan yang dialami oleh karakter dalam film tersebut bersifat relatif tapi juga absolut. Film ini "dengan baik (menunjukkan) bagaimana kemiskinan dan kekayaan saling terkait; orang kaya menjadi parasit bagi orang miskin, dan sebaliknya," ujar Lie.

Tembus batasan bahasa

Selama ini, nominasi piala Oscar banyak dikritik karena masih didominasi oleh film-film berbahasa Inggris dan aktor pria berkulit putih, tetapi pada tahun ini Parasite dapat meraih sukses.

Sutradara Bong Joon-ho mengatakan bahwa "Setelah Anda mengatasi penghalang setinggi satu inci yang bernama subtitle, Anda akan diperkenalkan pada begitu banyak film yang lebih menakjubkan."

Deborah Shaw, profesor pada bidang studi perfilman di Universitas Portsmouth, Inggris, mengatakan suksesnya film Parasite dapat "membuat produsen dan distributor internasional lebih mungkin berinvestasi dalam film-film yang tidak berbahasa Inggris."

Hal ini membuktikan "bahwa kisah yang kuat yang diceritakan dengan sangat baik dan dengan daya tarik universal dapat mengatasi kendala bahasa," ujarnya.

ae/hp (AFP)