Terapung Dua Minggu, Puluhan Warga Rohingya Diselamatkan Nelayan Aceh

Sebuah kapal motor berpenumpang 20 warga Rohingya terapung selama 15 hari di laut sebelum akhirnya mendarat darurat di Aceh. Mereka sebenarnya hendak menuju Malaysia untuk mencari pekerjaan.

Nelayan Aceh kembali menyelamatkan 20 warga Rohingya yang kapalnya ditemukan terapung sekitar 3 kilometer dari pesisir pantai Aceh, pada hari Selasa (04/12). Warga Rohingya, yang mengungsi dari pembantaian etnis yang terjadi di Myanmar tersebut, telah berada di laut selama 15 hari dan dalam kondisi lemah akibat kelaparan.

"Seluruh laki-laki, berusia antara 14 hingga 29 tahun, dalam kondisi lemah akibat kelaparan dan dehidrasi setelah 15 hari perjalanan di laut. Mereka dibawa ke pantai dan diserahkan ke rumah penampungan milik Angkatan Laut di distrik Aceh Timur,” ungkap Syahrial Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur seperti dikutip dari AP.

Sosial

Diangkut Truk

Pengungsi Rohingya yang diselamatkan dan berhasil tiba dengan kapal di pelabuhan desa Julok di provinsi Aceh diangkut dengan kendaraan truk terbuka ke tempat penampungan sementara pengungsi.

Sosial

Menunggu

Sebelum memasuki tempat penampungan sementara, para pengungsi Rohingya dikumpulkan di lapangan terbuka terlebih dahulu. Identitas mereka didata oleh para relawan.

Sosial

Tenda Medis Darurat

Dalam perjalanan dengan kapal, banyak pengungsi yang jatuh sakit. Di Kuala Langsa, Aceh, didirikan tenda pengobatan darurat.

Sosial

Anak-anak Kelaparan

Ada banyak anak-anak yang tiba di Aceh dengan pengungsi Rohingya. Mereka datang dalam kondisi kelaparan. Beberapa relawan membagikan biskuit bagi anak-anak di pelabuhan desa Julok.

Sosial

Mandi Bersama

Tempat membersihkan diri bagi para pengungsi, juga disediakan di desa Julok. Bak besar penuh air, lengkap dengan belasan gayung.

Sosial

Tidur di Lapangan Bulutangkis

Tidak ada kasur yang nyaman. Cukup beralaskan tikar di gedung olahraga (GOR) di Lhoksukon, para pengungsi Rohingya berusaha untuk beristirahat.

Mengapa bisa terdampar?

Kapal kayu berukuran 3X12 meter tersebut digiring hingga akhirnya berlabuh di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Idi, Kabupaten Aceh Timur.

"Kapal tidak mengalami masalah mesin dan mereka juga memiliki 400 liter bahan bakar di kapal," kata Abdul Musafir,  Pejabat SAR Aceh pada dpa.

Politik | 18.09.2017

Para penumpang beretnis Muslim Rohingya tersebut telah mendapat bantuan makanan dan pakaian. Mereka pun segera mendapat ditangani petugas imigrasi.  Kepada petugas, para penumpang kapal mengaku hendak menuju Malaysia untuk mencari kerja.

"Kami bertanya pada mereka ke mana mereka hendak pergi dan mereka jawab mereka hendak pergi ke Malaysia,” kata Komandan Angkatan Laut di Idi Rayeuk, Razali. "Mungkin karena arus mereka justru akhirnya terdampar di sini,” ungkapnya lebih lanjut seperti dikutip dari AFP.

Politik

Presiden Lepas Bantuan Kemanusiaan

Presiden Joko Widodo berbicang sejenak tentang masalah pengiriman bantuan yang dibawa oleh pesawat milik Angkatan Udara Indonesia, dari bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 13 September 2017.

Politik

Ditujukan Agar Secepat Mungkin Diterima

Barang bantuan diberangkatkan dengan menggunakan empat pesawat Hercules. Berbeda dengan bantuan lain yang sudah pernah diberikan Indonesia bagi Rohingya akhir tahun lalu, yang dibawa dengan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Politik

Membawa Barang Yang Diperlukan

Dalam empat pesawat Hercules diangkut beras, makanan siap saji, family kit, tangki air, tenda pengungsi, pakaian anak dan selimut. Demikian dikatakan Presiden Joko Widodo saat melepas keberangkatan pesawat.

Politik

Mendekati Lokasi Pengungsi

Presiden mengatakan juga, diharapkan bantuan bisa dibawa hingga sedekat mungkin dengan pesawat ke lokasi tempat pengungsi berada di perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar. Dari pesawat barang bantuan akan diangkut dengan truk.

Politik

Sokongan Semua Pihak

Saat melepas bantuan, Presiden didampingi Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala BNPB Willem Rampangilei. (Penulis: ml/hp)

Kapal Rohingya di Aceh

Satu bulan lalu, di perairan Aceh juga terpantau kapal yang mengangkut etnis Rohingya. Namun, mereka tidak melakukan pendaratan di Aceh. Sementara, April 2018, 80 warga Rohingya yang menaiki kapal kayu juga terdampar di Aceh.

Menurut Organisasi Internasional untuk Mirgasi (IOM), lebih dari 1700 warga Rohingya dilaporkan telah mendarat secara darurat di Aceh dalam perjalanan mereka menuju negara ketiga dalam 10 tahun terakhir. Hingga kini ada sekitar 300 warga Rohingnya yang tinggal di kamp pengungsi di Aceh. Pemerintah Indonesia menerima pencari suaka asal Rohingya tapi biasanya mereka dilarang bekerja dan terkadang tinggal selama bertahun-tahun di tempat imigrasi.

Sejak konflik berujung kekerasaan terjadi di wilayah Rakhine, Myanmar tahun 2012, puluhan ribu warga Rohingya disebutkan mengungsi dan meninggalkan negara tersebut menggunakan kapal menuju Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Sosial

Pelayaran Maut

Setiap tahun, ribuan pengungsi Rohingya asal Myanmar dan pencari suaka asal Bangladesh berlayar menuju Malaysia dan Indonesia dengan kapal-kapal dari sindikat perdagangan manusia. Dalam tiga bulan pertama 2015, PBB memperkirakan ada 25.000 pengungsi yang berangkat, kebanyakan dari kamp-kamp gelap di Thailand.

Sosial

Lemah dan Kelelahan

Para pedagang manusia membawa pengungsi dengan kapal lalu meninggalkan mereka di laut, sering tanpa makanan dan minuman. Kelompok ini terdampar 10 Mei 2015 di daerah pesisir Aceh Utara, lalu diselamatkan otoritas Indonesia dan ditampung di sebuah stadion. Kebanyakan dalam kondisi lemah dan kelelahan.

Sosial

Perempuan dan Anak-Anak

Sekitar 600 pengungsi tiba di Aceh Utara dengan empat kapal. Pada saat yang sama, lebih 1000 pengungsi ditahan polisi Malaysia dekat Pulau Langkawi. Diantara pengungsi yang berhasil diselamatkan, banyak anak-anak dan perempuan.

Sosial

Tertindas dan Tanpa Kewarganegaraan

Myanmar menganggap warga Rohingya sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan menolak memberi mereka status warga negara, sekalipun mereka telah tinggal puluhan tahun di negara itu. Banyak warga Rohingya melihat pengungsian sebagai satu-satunya jalan untuk mendapat suaka politik di tempat lain. Tujuan akhir mereka adalah Australia.

Sosial

Perbudakan Modern

Para pengungsi Rohingya harus membayar sampai 200 dolar AS untuk sampai ke Malaysia kepada pedagang manusia. Mereka lalu dibawa dengan kapal yang penuh sesak, sering tanpa makanan dan minuman. Mereka biasanya dibawa lebih dulu ke kamp-kamp penampungan gelap di Thailand dan diperlakukan seperti budak.

Sosial

Gelombang Pengungsi

Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kawasan transit pengungsi, dipicu oleh konflik dan penindasan di beberapa tempat. Di kawasan Asia Pasifik diperkirakan ada sekitar 11,7 juta pengungsi yang jadi korban sindikat perdagangan manusia, terutama di kawasan Mekong Besar, Kamboja, Cina, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam.

ts/hp (AP,DPA, AFP, kanalaceh.com)

Konten terkait

Tema