1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Topan Filipina: Mayat Berserakan, Warga Depresi

14 November 2013

Pemerintah Filipina kesulitan menguburkan para korban topan super akibat kekurangan kantung mayat. Kelaparan, ancaman penyakit, rasa putus asa dan marah berkembang diantara warga yang selamat.

https://p.dw.com/p/1AHN1
Foto: picture-alliance/dpa

Hampir sepekan setelah topan super Haiyan menyapu wilayah tengah negeri itu, menghancurkan perumahan dan menyisakan puing di wilayah yang sebelumnya sudah miskin, sementara bau mayat busuk menyengat di udara.

“Saya merasa kita telah mengecewakan orang-orang,” demikian pengakuan kepala bantuan kemanusiaan PBB Valerie Amos, ketika mengunjungi Tacloban.

Mayat masih berserakan

“Mereka yang bisa pergi (wilayah), telah melakukannya. Masih banyak yang sedang mencoba. Orang-orang sangat putus asa membutuhkan bantuan,” kata dia kepada para wartawan di Manila.

"Kita perlu membantu mereka sekarang. Mereka telah bilang bahwa itu (bantuan) terlalu lama datangnya. Memastikan pengiriman yang cepat adalah… prioritas segera.”

Di Tacloban, pulau Leyte, sekitar 200 mayat yang sebelumnya diletakkan berjajar di gedung pemerintah lokal, dipindahkan ke sebuah kuburan besar.

“Ada begitu banyak mayat di begitu banyak tempat. Itu mengerikan,” kata Walikota Tacloban Alfred Romualdez, sambil menambahkan bahwa mereka masih berjuang untuk mengumpulkan mayat-mayat korban yang berserakan.

“Sempat ada permintaan dari kelompok warga untuk mengumpulkan lima hingga sepuluh mayat dan ketika kami tiba di sana, ternyata ada 50,” kata Romualdez, sambil mengatakan bahwa respon badan-badan bantuan untuk menolong warga yang semakin putus asa, terlalu lambat.

Enam hari setelah topan super Haiyan mengamuk, Presiden Barack Obama menyerukan kepada Amerika untuk memberikan bantuan lebih banyak bagi bekas koloni mereka di Asia tersebut. Para pejabat AS mengatakan, saluran bantuan secara perlahan terbuka saat kapal induk memimpin sebuah armada kecil kapal perang menuju Filipina.

Tapi di lapangan, bantuan masih belum menjangkau mereka yang berjuang untuk bertahan di tengah rasa haus dan kelaparan.

Orang yang sakit atau terluka berbaring tak berdaya di antara reruntuhan bangunan, sementara mereka yang masih kuat mencoba untuk meninggalkan lokasi bencana yang kini menyerupai neraka.

Suasana ketakutan dan depresi

Efren Nagrama, area manajer di sebuah maskapai penerbangan sipil, mengatakan bahwa kondisi “sangat mengerikan saat ini“ ketika ia mengamati arus manusia di bandara Tacloban yang berteriak-teriak meminta bisa diterbangkan ke luar dari wilayah itu.

“Anda bisa menyakiskan ratusan orang datang ke kompleks (bandara) ini setiap hari. Orang-orang yang berkalan kaki berhari-hari tanpa makan, hanya untuk tiba di sini dan dibuat menunggu berjam-jam atau berhari-hari (menanti diterbangkan),“ kata dia.

“Orang-orang didorong ke titik kritis – mereka melihat pesawat-pesawat bantuan tapi tidak bisa mendapat makanan atau keluar dari tempat ini. Terjadi kekacauan.”

Walikota Romualdez mengatakan rakyat Tacloban memerlukan sebuah “tanggapan yang luar biasa” dari berbagai organisasi bantuan dan pemerintah.

”Kami perlu lebih banyak orang dan peralatan,” kata Romualdez.

“Saya tidak bisa menggunakan sebuah truk untuk mengangkut mayat di pagi hari dan kemudian menggunakannya lagi untuk mendistribusikan makanan pada sore hari,“ tambah dia.

“Mari singkirkan mayat-mayat dari jalanan. Mereka menciptakan atmosfir ketakutan dan depresi.“

Pejabat kota memperkirakan mereka telah mengumpulkan 2.000 mayat. PBB mengkhawatirkan, di kota Tacloban saja, jumlah korban bisa mencapai 10.000 jiwa. Tapi Presiden Benigno Aquino menggambarkan angka itu ”terlalu berlebihan”.

Bantuan besar tiba

Janji bantuan terus berdatangan dari luar negeri, dengan presiden Obama pada Rabu lalu menyerukan kepada rakyat Amerika bahwa ”bahkan kontribusi kecil bisa menciptakan perbedaan besar dan menolong menyelamatkan nyawa”.

Bersama dengan kapal-kapal dan pesawat yang dikirim oleh berbagai negara termasuk Australia, Inggris dan Jepang, Amerika telah lebih dulu menempatkan pasukan Marinir yang dilengkapi pesawat pengangkut barang dan pesawat Osprey serbaguna.

Kapal induk USS George Washington serta kapal-kapal angkatan laut lainnya tiba di Filipina hari Kamis dan Washington telah berjanji menggelontorkan 20 juta euro, yang kira-kira setengahnya berupa makanan dan sisanya adalah obat-obatan untuk mencegah penyebaran wabah penyakit.

ab/hp (afp,ap,rtr)