1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ekonomi

Inilah 7 Pengusaha Yang Untung Besar Selama Pandemi Corona

1 Desember 2020

Sementara banyak industri terpukul selama krisis virus corona, yang lain bisa mengeruk keuntungan besar. Inilah beberapa pengusaha dan bisnis yang untung besar selama pandemi Covid-19.

https://p.dw.com/p/3m3em

Banyak industri yang terpukul oleh krisis virus corona. Tetapi ada juga bisnis yang mengeruk keuntungan besar di masa pandemi. Beberapa orang yang sudah kaya menjadi lebih kaya lagi, ada juga yang mendadak untung besar, termasuk beberapa orang pengusaha Jerman. Inilah tujuh orang yang untung besar di tengah pandemi Covid-19.

1. Jeff Bezos, Amazon

Pendiri Amazon Jeff Bezos (berfoto dengan pasangannya Lauren Sanchez di depan Taj Mahal) tentu bermain di kelas tersendiri. Perusahaan e-commerce miliknya dengan cepat melejit selama pandemi Covid-19. Nilai saham Amazon terus menerus mencatat rekor baru, membuat Jeff Bezos menjadi orang terkaya, yang makin kaya lagi selama krisis virus corona, dengan nilai kekayaan USD 193 miliar menurut majalah Forbes.

2. Elon Musk, Tesla

Elon Musk di saat pandemi corona kekayaanya terus meroket
Elon Musk pemilik Tesla di saat pandemi corona kekayaanya terus meroketFoto: Getty Images/M. Hitij

Perusahaan Tesla milik Elon Musk memang membuat mobil, tetapi di bursa saham, perusahaannya melejit seperti roket yang meluncur ke antariksa. Tesla termasuk perusahaan yang mengeruk keuntungan dari antusiasme seputar saham teknologi selama pandemi. Beberapa waktu lalu, Elon Musk menyalip Bill Gates (Microsoft) dalam daftar orang terkaya dunia dan kini menempati peringkat kedua, dengan kekayaan sekitar USD 132 miliar.

3. Eric Yuan, Zoom

Meningkatnya jumlah orang yang bekerja dari rumah di masa pandemi, menjadi keuntungan besar bagi Eric Yuan. Pendiri Zoom ini pindah dari Cina ke AS ketika dia berusia 27 tahun. Setelah beberapa tahun bekerja dengan WebEx, dia meluncurkan platform komunikasi videonya sendiri, Zoom yang dluncurkan di pasar bursa pada 2019. Sejak pecahnya krisis virus corona, nilai sahamnya ibarat meledak. Eric Yuan diperkirakan memiliki kekayaan sekitar USD 19 miliar.

4. John Foley, Peloton

Tahun 2013, John Foley masih berkeliling kesana-kemari mempromosikan peralatan fitnesnya. Di saat pandemi, ketika banyak orang harus tinggal di rumah dan banyak tempat olahraga ditutup, makin banyak orang yang membeli peralatan olahraga rumah dari Peloton. Saham perusahaan ini melonjak tiga kali lipat selama pandemi, dan membuat John Foley yang berusia hampir 50 tahun menjadi miliarder.

5. Tobias Lütke, Shopify

Shopify memungkinkan pedagang membuat toko online mereka sendiri - sebuah konsep yang dikembangkan oleh Tobias Lütke. Lahir di Koblenz, Jerman, dia beremigrasi ke Kanada pada 2002 dan mulai mengembangkan bisnisnya dari garasi. Saat ini, Shopify adalah perusahaan paling berharga di Kanada, dengan harga sahamnya naik dua kali lipat sejak Maret 2020. Majalah Forbes menaksir kekayaan Tobias Lütke yang berusia 39 tahun sekitar USD 9 miliar.

Ugur Sahin dan istrinya Özlem Türeci pendiri BioNTech yang sukses temukan vaksin corona ampuh
Ugur Sahin dan istrinya Özlem Türeci pendiri BioNTech yang sukses temukan kandidat vaksin corona dengan efsiensi 95%Foto: Stefan F. Sämmer/imago images

6. Ugur Sahin, BioNTech

Awal Januari tahun ini, Ugur Sahin mulai mengembangkan vaksid Covid-19, dengan perusahaan yang dia dirikan bersama istrinya, Özlem Türeci: BioNTech. Ketika itu belum ada orang yang terdeteksi terinfeksi Covid-19 di Jerman dan Eropa. Tapi insting bisnis suami-istri keturunan Turki ini ternyata membuahkan hasil. Nilai saham yang mereka miliki di BioNTech, yang bekerjasama dengan raksasa farmasi AS Pfizer, diperkirakan mencapai USD 2,4 miliar.

7. Dominik Richter, HelloFresh

Perusahaan layanan makanan HelloFresh langsung berkembang pesat di masa pandemi Covid-19. Keuntungannya naik lebih dari tiga kali lipat, menurut laporan pendapatan kuartalan terbaru yang dirilis awal November. Salah satru pendiri dan pemegang sahamnya, Dominik Richter, berhasil memanfaatkan situasi, di mana banyak restoran harus ditutup atau hanya bisa melayani penjualan makanan untuk dibawa pulang. Dominik Richter memang belum berada di liga para milarder, tetapi dia sedang menuju ke sana.

hp/as (dwnews/Nicolas Martin)