1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ukraina Tergeser Masalah Penting Lain

22 September 2014

Pertemuan para pemimpin dunia di PBB pekan ini diskusikan cara meredam sepak terjang brutal ISIS, cegah perluasan epidemi Ebola dan negosiasi nuklir dengan Iran. Bagaimana dengan Ukraina?

https://p.dw.com/p/1DGjz
Demonstrasi perdamaian bagi Ukraina di Roma (21/0972014)Foto: DW/I. Kaschej

Topik-topik lain kemungkinan begitu mendesak sehingga perhatian terhadap masalah Ukraina berkurang. Ini tentu disambut baik Presiden Rusia Vladimir Putin, walaupun ia tidak akan hadir. Rusia akan diwakili Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov. Rusia sekarang melancarkan upaya aneksasi Krimea. Rusia juga sangat berperan dalam kerusuhan yang terjadi di bagian timur serta selatan Ukraina. Sementara Eropa dan AS menegaskan bahwa negara berdaulat Ukraina harus punya kebebasan menentukan sikapnya sendiri.

Rusia sudah murka akibat langkah NATO yang menerima beberapa negara Eropa Timur dan negara Baltik, yang dulu termasuk Uni Soviet, jadi anggotanya dalam 20 tahun terakhir. Menurut Kremlin, itu melanggar janji yang pernah diberikan. Kini Rusia berusaha mencegah Ukraina mengambil langkah sama. Lagi pula Rusia punya argumentasi lain sebagai alasan tindakannya, kata Profesor Keith Darden dari American University.

Wladimir Putin
Vladimir PutinFoto: picture-alliance/dpa/D. Sinyakov

Langkah Rusia normal bagi negara berkuasa

"Strategi mereka dari dulu adalah berargumentasi bahwa tindakan mereka di Krimea normal bagi negara yang berkuasa. AS kerap melakukannya di Amerika Latin. Bagi Rusia, Ukraina adalah bagian kepentingan mereka," jelas Daren. Mengingat besarnya masalah-masalah lain di dunia, kemungkinan isu tantangan dari Rusia memang bukan isu yang paling utama, kata Andrew Weiss, dari tangki pemikir Carnegie Endowment.

Kemungkinan Rusia akan menolak langkah AS yang mengancam akan membom Suriah untuk menghancurkan ISIS. Tetapi karena fokus di Suriah sudah bergeser dari upaya melawan Presiden Bashar al Assad dan brutalitasnya, kemungkinan sikap Rusia yang mendukung Assad tidak akan ditekankan lagi.

Walaupun AS sudah memberikan bantuan bagi Ukraina, pemerintah AS sejauh ini menolak mengirimkan peralatan militer berbahaya yang mungkin akan memperkuat Kiev dalam upaya memerangi pemberontak di bagian Timur yang berusaha menggabungkan wilayah itu dengan Rusia. Tidak diragukan, Moskow senang melihat sikap Washington di Ukraina, tetapi mereka merasakan efek sanksi berat yang dijatuhkan AS serta Uni Eropa.

Putin tidak bersedia ubah langkahnya

Sejauh ini Putin menyatakan tidak bersedia mengubah arah langkahnya di Ukraina. Ia juga berhasil mengubah dampak sanksi yang dirasakan rakyatnya, menjadi propaganda agar rakyatnya membenci AS dan Eropa. Lebih jauh lagi, para penasehat Putin mendorong niatnya untuk menjaga atau bahkan menganeksasi lagi negara-negara yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia. Itu mencakup bukan saja bagian timur Ukraina, melainkan juga misalnya Latvia, Lithuania dan Estonia. Negara-negara Baltik itu baru dikunjungi Presiden AS Barack Obama. Di sana ia berjanji akan memberi perlindungan, jika negara-negara itu diserang Rusia.

"Ini perhitungan salah, karena Rusia jauh lebih kuat, dan Barat jauh lebih lemah dari bayangan banyak orang." Begitu ditulis penasehat politik luar negeri Putin, Sergey Karaganov. Kata-kata seperti itu disambut baik Putin dan rakyat Rusia. Xenofobia dan rasa tidak percaya yang mendalam terhadap Barat menyebar luas di negara, di mana Putin semakin populer karena menentang Washington dan negara-negara sekutunya di Eropa.

ml/vlz (ap)