1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Untuk Damai atau Senjata Pemusnah Massal?

16 Februari 2012

Tim pengawas Badan Atom Internasional IAEA, telah melakukan pemeriksaan atas fasilitas nuklir Iran. Kunjungan yang dilakukan sejak akhir Januari lalu itu melahirkan banyak keraguan.

https://p.dw.com/p/144FE
Fasilitas Nuklir Arak milik Iran ini punya kapasitas memproduksi senjata pemusnah massalFoto: AP

IAEA menyebut masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan apakah Teheran memang sedang mengembangkan senjata nuklir. Program nuklir Iran dibangun dari berbagai sistem atom dengan fungsi dan tahapan operasi yang berbeda-beda.

Di sekitar Bushehr di Teluk Persia, ada pembangkit listrik tenaga nuklir yang menjadi satu-satunya pemasok energi ke jaringan pipa Iran. Instalasi ini menggunakan dua reaktor air dengan kapasitas 1,000 megawatts. Tapi bukan ini yang dicurigai sebagai proyek pembangunan senjata nuklir Teheran.

Kecurigaan atas Iran, terutama karena program pengayaan uranium, yang dioperasikan di reaktor Natanz. Di sana, pada tahun 2007 ada 3,000 sentrifugal untuk menghasilkan bahan bakar atom dari uranium-235. Untuk reaktor nuklir, cukup dibutuhkan kadar tiga sampai lima persen, dan untuk sebuah bom nuklir diperlukan 85 persen. Hari Rabu (15/2), media Iran mengumumkan operasi sentrifugal baru di Natanz yang jauh lebih besar.

Tahun 2010, Iran memulai dengan 20 persen pengayaan uranium di Natanz. Sebelumnya Iran gagal dalam negosiasi internasional untuk mendapatkan pasokan uranium. Pejabat Iran mengklaim, pengayaan uranium yang lebih tinggi di Natanz, dibutuhkan untuk keperluan riset reaktor di Teheran.

Untuk mendukung proyek itu, mereka mendapatkan uranium dari Argentina. Tapi pasokan itu kini semakin menipis. Reaktor penelitian itu diklaim memproduksi radio isotop untuk keperluan medis dan pertanian. Hari Rabu (15/2), untuk pertama kalinya, Iran mengklaim bisa merakit sendiri batang bahan bakar reaktor. Presiden Mahmoud Ahmadinejad, hadir dalam acara perayaan atas keberhasilan itu yang disiarkan langsung oleh Televisi milik pemerintah.

Pengayaan uranium 20 persen dianggap sebagai titik kritis. Secara teknis, mudah untuk menaikkan dari 20 ke 85 persen, yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.

Pengayaan 20 persen uranium itu akan dipindahkan ke reaktor pengayaan Fordo, yang terletak di dekat kota suci bagi kaum Syiah yakni Qom. Fasilitas nuklir bawah tanah dengan bunker ini, terletak sekitar 140 kilometer sebelah selatan Teheran. Keberadaan fasilitas nuklir itu baru diumumkan oleh Iran kepada dunia pada September 2009. Pada awal tahun ini, Badan Tenaga Atom Internasional IAEA, mengkonfirmasi bahwa fasilitas Fordo milik Iran telah melakukan pengayaan uranium sebesar 20 persen.

Sekitar 200 kilometer sebelah barat Fordo, terletak reaktor air berat bernama Arak, yang hanya berkekuatan 40 megawatts, dan digunakan sebagai reaktor penelitian. Pada akhir tahun 2002, Amerika mempublikasikan gambar-gambar satelit mengenai reaktor itu. Ketika tim IAEA datang ke sana pada tahun 2010, reaktor itu diklaim sedang menjalani perbaikan. Reaktor air berat bisa dipakai memproduksi bahan plutonium untuk senjata pemusnah massal.

Di Pusat Penelitian Nuklir Ishafan, Iran membuat fasilitas untuk memproses uranium lebih lanjut. Fasilitas ini tidak hanya bisa mengubah senyawa uranium yang disebut yellowcake ke dalam bentuk gas, tapi juga metal, yang sejauh ini tidak digunakan oleh reaktor milik Iran, tapi bisa dibuat untuk bom nuklir.


Andy Budiman

Editor: Hendra Pasuhuk