1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kerusuhan Pecah di Kairo

3 Februari 2011

Situasi di Kairo Rabu (02/02) tidak terkuasai. Di Lapangan Tahrir di pusat Kairo, ribuan pendukung Presiden Mubarak dan pendukung pihak oposisi terlibat bentrokan kekerasan hebat. Tiga orang tewas dan 1500 luka-luka.

https://p.dw.com/p/109b2
Massa pendukung Mubarak menggunakan lempeng besi untuk melindungi dirinya dari serangan batu demonstran pro oposisiFoto: AP

Pendukung Presiden Husni Mubarak hari Rabu (02/02) kemarin dengan mengendarai kuda dan unta menyerbu ke Lapangan Tahrir di pusat ibukota Mesir Kairo, dan menyerang demonstran anti pemerintah dengan cemeti dan tongkat pemukul. Di pinggir Lapangan Tahrir, di dekat museum Mesir yang termashur, dari atap bangunan-bangunan para pendukung Mubarak melempari massa dengan batu dan bom molotov. Di halaman museum sebuah pohon terbakar. Di jalan-jalan, kelompok yang terlibat bentrokan berlindung di balik kendaraan-kendaraan yang dipasang dan saling melempari dengan kepingan beton dan botol.

Dalam pertempuran jalanan selama berjam-jam itu menurut keterangan pemerintah lebih dari 400 orang luka-luka. Seorang tentara tewas akibat jatuh dari jembatan. Meskipun adanya permintaan dari pemimpin oposisi Mohammed El Baradei, militer tidak mengambil tindakan. Para demonstran anti pemerintah yang berlumuran darah dibawa ke klinik darurat di mesjid-mesjid dan langgar. Beberapa di antaranya meminta perlindungan tentara yang berjaga. Tapi tentara hanya melepaskan tembakan peringatan ke udara. Menurut keterangan pihak oposisi di antara para penyerang yang pro Mubarak, juga terdapat polisi berpakaian sipil.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon mengecam eskalasi kekerasan di Kairo sebagai hal yang tidak dapat diterima

“Saya sangat prihatin akan kerusuhan yang berlanjut di Mesir. Saya sekali lagi meminta semua pihak untuk menahan diri. Setiap bentuk serangan terhadap pelaku demonstrasi damai tidak dapat diterima dan saya mengecamnya dengan keras.“

Lebih lanjut sekjen PBB itu mengatakan kita tidak boleh meremehkan bahaya instabilitas di Timur Tengah. PBB siap untuk menyediakan berbagai bentuk bantuan untuk upaya reformasi di Mesir dan negara Arab mana pun serta untuk menghormati dan merefleksikan keinginan masyarakat. Demikian dikatakan Ban Ki Moon usai pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron Rabu (02/02) kemarin di London. Sementara Cameron menyampaikan, kerusuhan di Kairo menunjukkan bahwa pemerintah Mubarak kurang cepat memenuhi permintaan demonstran.

Amerika Serikat kembali menekankan agar dilakukan perubahan demokratis tanpa penundaan di Mesir. Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pembicaraan telefon selama 30 menit dengan Presiden Mesir Husni Mubarak Selasa (01/02) malam telah menegaskan bahwa waktu untuk transisi sudah tiba. Permintaan senada datang dari Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan.

Gambar-gambar yang menayangkan situasi dramatis di Mesir menyebabkan utusan tinggi urusan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton juga meminta semua pihak bersikap tenang, menahan diri dan meminta Mubarak untuk melakukan dialog dengan pihak oposisi.

"Bapak Mubarak harus menjawab keinginan rakyat. Demonstrasi-demonstrai itu adalah gambaran keinginan ini. Dan ia harus mempertimbangkan dengan sangat baik, bagaimana ia dapat menunjukkannya dimana ia melakukan tindakan.“

Lebih lanjut Ashton mengatakan kami meminta Presiden Mubarak secepatnya untuk bertindak.

Sementara itu sejak dimulainya kerusuhan di Mesir 10 hari lalu, Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle untuk pertama kalinya melakukan pembicaraan telefon dengan pimpinan oposisi Mohammed el Baradei. Westerwelle merasa prihatin dan meminta pihak keamanan di Mesir tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran.

Dyan Kostermans/dpa/AP/AFP/DW

Editor: Christa Saloh