Memulihkan Kecanduan Narkoba Lewat Bertinju

Tonton video 01:00
Live
01:00 menit
09.09.2016

Lepas Dari Narkoba Dengan Bertinju

Sebuah pusat rehabilitasi kecanduan narkoba menawarkan pada mantan pengguna narkoba untuk meredam kecanduan mereka melalui olahraga tinju. Ini menjadi bagian dari terapi alternatif.

Genderang perang terhadap narkoba yang ditabuh Pemerintah Indonesia setelah melihat tingginya pengguna obat bius dalam beberapa tahun terakhir disambut Rumah Cemara yang merupakan pusat rehabilitasi mantan pecandu narkoba di kota Bandung, Jawa Barat. Rumah ini mengantisipasi berbagai program pemerintah dengan menawarkan sebuah program unik untuk membantu meredam tingginya jumlah pengguna narkoba..

Dunia | 08.09.2016

Yakni dengan menawari bekas pecandu narkoba untuk menggeluti olahraga tinju sebagai bagian dari pengobatannya. Klub tinju ini dibuka pada tahun 2013. Rumah Cemara menggunakan program itu untuk sekaligus menarik mantan juara tinju nasional untuk menjadi sukarelawan di klub sebagai pelatih. Pelatihan di klub berlangsung lima malam dalam sepekan. Pada hari Selasa dan Kamis, sasana tinju diperuntukkan bagi atlet profesional.

"Tinju merupakan kegiatan yang menghasilkan endorphin, serotonin dan dopamin dalam tubuh manusia, menyediakan pengganti yang positif dan sehat atas efek obat bius pada mantan pengguna narkoba. Ini akan membantu mereka menjauhi narkoba," kata pendiri Rumah Cemara, Ginan Kusmayadi. Rumah Cemara didirikan oleh lima mantan pengguna narkoba.

Rumah Cemara ingin memberikan tempat yang aman dan nyaman, di mana pecandu narkoba yang tengah menjalani pemulihan dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (OHDA) bisa berbagi pengalaman dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Gaya hidup

Bebas Narkoba Cara Bhiksu

Di kuil Thamkrabok di dekat Phra Putthabat di Thailand, pecandu narkoba melakukan ritual keagamaan sembari menjalani detoksifikasi dengan cara Buddha. Program rehabilitasi yang ditawarkan para Bhiksu ini menjanjikan penyembuan mental dan fisik melalui pendekatan ritual dan spiritual.

Gaya hidup

Muntah lalu Terbebaskan

Semua peserta harus menjalani program rehabilitasi setidaknya selama 10 hari. Mereka juga bisa tinggal lebih lama jika mau. Program yang ditawarkan antara lain melibatkan ramuan herbal yang membuat pecandu muntah-muntah. Mereka juga dipaksa berjanji tidak akan menyentuh obat-obatan terlarang lagi ketika menyelesaikan rehabilitasi.

Gaya hidup

Bersih di Ketinggian

Ratusan pecandu narkoba menyambangi Pusat Penyembuhan Ayahuasca di Peru setiap tahun untuk mendapat terapi halusinogen alami. Suku setempat meyakini Ayahuasca mampu menyembuhkan mental dan fisik, serta mempromosikan spiritualitas. Namun organisasi doktor di Amerika Serikat mewanti-wanti metode ini bisa menyebabkan diare, gangguan mata hingga kematian. Ayahuasca kini dilarang di beberapa negara

Gaya hidup

Lewat Spiritualitas Mengalahkan Kecanduan

Pusat rehabilitas di Rio de Janeiro, Brasil ini menawarkan pendekatan spiritual. Para pecandu narkoba dikumpulkan di luar penginapan setiap pagi untuk berdoa, sembari meneriakkan "Tuhan maha Besar!". Semua peserta rehabilitasi mendapat akomodasi di sebelah gereja protestan, Love of God.

Gaya hidup

Rantai dan Borgol

Ketika spiritualitas tidak lagi membantu, Amanullah, pecandu narkoba di pusat rehabilitasi di Jalalabad, Afghanistan ini ditahan dengan rantai dan borgol. Penduduk Jalalabad meyakini, pecandu obat-obatan terlarang dirasuki oleh roh dan cuma bisa disembuhkan dengan cara dioborgol. Pasien rehabilitasi hidup dengan diet ketat, yakni air putih, merica hitam dan roti.

Gaya hidup

Bantuan dari Atas

Penduduk Afghanistan meyakini mereka yang dirantai di dalam kuil akan mendapat bantuan dari Mir Ali Baba, sosok yang menjadi patron di kuil tersebut. Keyakinan semacam ini tidak cuma ada di Afghanistan, tapi juga di banyak negara lain. Dalam banyak kasus pecandu narkoba dihukum atau malah dibunuh.

Gaya hidup

Mendarat di Kamp Kerja

Menjadi pecandu narkoba di Cina tidak mudah. Jika ketahuan, mereka bisa dipaksa menjalani rehabilitasi atau malah dipenjara. Selain itu Cina juga mendirikan kamp kerja untuk para pecandu. Dalam gambar tampak pasien rehabilitasi di sebuah kamp kerja di Lanzhou, provinsi Gansu. Organisasi HAM mencurigai Cina memanfaatkan fasilitas rehabilitasi untuk menyembunyikan kamp kerja paksa.

Gaya hidup

Tidur Panjang

Salah satu metode rehabilitasi yang paling ekstrim adalah terapi koma. Dikembangkan oleh seorang dokter di Kirgistan, pasien mendapat suntikan yang menempatkan mereka dalam kondisi koma selama beberapa jam. Sang dokter percaya ketika pasien terbangun, mereka lantas terbebas dari kecanduan narkoba. Pakar mengecam praktik ini karena dianggap berbahaya dan tidak melalui proses uji coba klinis.

Gaya hidup

Bertabur Kemewahan

Selebriti sebaliknya cendrung memilih fasilitas mewah untuk mengobati kecanduan. Salah satu yang paling tersohor adalah Betty Ford Clinic di Amerika Serikat. Pete Doherty (gambar) adalah salah satu selebriti yang berulangkali berobat ke klinik tersebut. Betty Ford Clinic menyediakan fasilitas mewah layaknya hotel berbintang lima.

Gaya hidup

Tanpa Terapi

Sebagian besar pecandu narkoba di seluruh dunia tidak mampu membiayai rehabilitasi. Menurut suvery di Amerika Serikat saja, cuma 10,4 persen pecandu yang menjalani terapi medis. Sementara jumlah di negara-negara miskin dan berkembang lebih besar lagi.

Ratusan pecandu narkoba menyambangi Pusat Penyembuhan Ayahuasca di Peru setiap tahun untuk mendapat terapi halusinogen alami. Suku setempat meyakini Ayahuasca mampu menyembuhkan mental dan fisik, serta mempromosikan spiritualitas. Namun organisasi doktor di Amerika Serikat mewanti-wanti metode ini bisa menyebabkan diare, gangguan mata hingga kematian. Ayahuasca kini dilarang di beberapa negara

Penduduk Afghanistan meyakini mereka yang dirantai di dalam kuil akan mendapat bantuan dari Mir Ali Baba, sosok yang menjadi patron di kuil tersebut. Keyakinan semacam ini tidak cuma ada di Afghanistan, tapi juga di banyak negara lain. Dalam banyak kasus pecandu narkoba dihukum atau malah dibunuh.

Selebriti sebaliknya cendrung memilih fasilitas mewah untuk mengobati kecanduan. Salah satu yang paling tersohor adalah Betty Ford Clinic di Amerika Serikat. Pete Doherty (gambar) adalah salah satu selebriti yang berulangkali berobat ke klinik tersebut. Betty Ford Clinic menyediakan fasilitas mewah layaknya hotel berbintang lima.

Genderang perang terhadap narkoba yang ditabuh Pemerintah Indonesia setelah melihat tingginya pengguna obat bius dalam beberapa tahun terakhir disambut Rumah Cemara yang merupakan pusat rehabilitasi mantan pecandu narkoba di kota Bandung, Jawa Barat. Rumah ini mengantisipasi berbagai program pemerintah dengan menawarkan sebuah program unik untuk membantu meredam tingginya jumlah pengguna narkoba..

Yakni dengan menawari bekas pecandu narkoba untuk menggeluti olahraga tinju sebagai bagian dari pengobatannya. Klub tinju ini dibuka pada tahun 2013. Rumah Cemara menggunakan program itu untuk sekaligus menarik mantan juara tinju nasional untuk menjadi sukarelawan di klub sebagai pelatih. Pelatihan di klub berlangsung lima malam dalam sepekan. Pada hari Selasa dan Kamis, sasana tinju diperuntukkan bagi atlet profesional.

"Tinju merupakan kegiatan yang menghasilkan endorphin, serotonin dan dopamin dalam tubuh manusia, menyediakan pengganti yang positif dan sehat atas efek obat bius pada mantan pengguna narkoba. Ini akan membantu mereka menjauhi narkoba," kata pendiri Rumah Cemara, Ginan Kusmayadi. Rumah Cemara didirikan oleh lima mantan pengguna narkoba.

Rumah Cemara ingin memberikan tempat yang aman dan nyaman, di mana pecandu narkoba yang tengah menjalani pemulihan dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (OHDA) bisa berbagi pengalaman dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Gaya hidup

Bebas Narkoba Cara Bhiksu

Di kuil Thamkrabok di dekat Phra Putthabat di Thailand, pecandu narkoba melakukan ritual keagamaan sembari menjalani detoksifikasi dengan cara Buddha. Program rehabilitasi yang ditawarkan para Bhiksu ini menjanjikan penyembuan mental dan fisik melalui pendekatan ritual dan spiritual.

Gaya hidup

Muntah lalu Terbebaskan

Semua peserta harus menjalani program rehabilitasi setidaknya selama 10 hari. Mereka juga bisa tinggal lebih lama jika mau. Program yang ditawarkan antara lain melibatkan ramuan herbal yang membuat pecandu muntah-muntah. Mereka juga dipaksa berjanji tidak akan menyentuh obat-obatan terlarang lagi ketika menyelesaikan rehabilitasi.

Gaya hidup

Bersih di Ketinggian

Ratusan pecandu narkoba menyambangi Pusat Penyembuhan Ayahuasca di Peru setiap tahun untuk mendapat terapi halusinogen alami. Suku setempat meyakini Ayahuasca mampu menyembuhkan mental dan fisik, serta mempromosikan spiritualitas. Namun organisasi doktor di Amerika Serikat mewanti-wanti metode ini bisa menyebabkan diare, gangguan mata hingga kematian. Ayahuasca kini dilarang di beberapa negara

Gaya hidup

Lewat Spiritualitas Mengalahkan Kecanduan

Pusat rehabilitas di Rio de Janeiro, Brasil ini menawarkan pendekatan spiritual. Para pecandu narkoba dikumpulkan di luar penginapan setiap pagi untuk berdoa, sembari meneriakkan "Tuhan maha Besar!". Semua peserta rehabilitasi mendapat akomodasi di sebelah gereja protestan, Love of God.

Gaya hidup

Rantai dan Borgol

Ketika spiritualitas tidak lagi membantu, Amanullah, pecandu narkoba di pusat rehabilitasi di Jalalabad, Afghanistan ini ditahan dengan rantai dan borgol. Penduduk Jalalabad meyakini, pecandu obat-obatan terlarang dirasuki oleh roh dan cuma bisa disembuhkan dengan cara dioborgol. Pasien rehabilitasi hidup dengan diet ketat, yakni air putih, merica hitam dan roti.

Gaya hidup

Bantuan dari Atas

Penduduk Afghanistan meyakini mereka yang dirantai di dalam kuil akan mendapat bantuan dari Mir Ali Baba, sosok yang menjadi patron di kuil tersebut. Keyakinan semacam ini tidak cuma ada di Afghanistan, tapi juga di banyak negara lain. Dalam banyak kasus pecandu narkoba dihukum atau malah dibunuh.

Gaya hidup

Mendarat di Kamp Kerja

Menjadi pecandu narkoba di Cina tidak mudah. Jika ketahuan, mereka bisa dipaksa menjalani rehabilitasi atau malah dipenjara. Selain itu Cina juga mendirikan kamp kerja untuk para pecandu. Dalam gambar tampak pasien rehabilitasi di sebuah kamp kerja di Lanzhou, provinsi Gansu. Organisasi HAM mencurigai Cina memanfaatkan fasilitas rehabilitasi untuk menyembunyikan kamp kerja paksa.

Gaya hidup

Tidur Panjang

Salah satu metode rehabilitasi yang paling ekstrim adalah terapi koma. Dikembangkan oleh seorang dokter di Kirgistan, pasien mendapat suntikan yang menempatkan mereka dalam kondisi koma selama beberapa jam. Sang dokter percaya ketika pasien terbangun, mereka lantas terbebas dari kecanduan narkoba. Pakar mengecam praktik ini karena dianggap berbahaya dan tidak melalui proses uji coba klinis.

Gaya hidup

Bertabur Kemewahan

Selebriti sebaliknya cendrung memilih fasilitas mewah untuk mengobati kecanduan. Salah satu yang paling tersohor adalah Betty Ford Clinic di Amerika Serikat. Pete Doherty (gambar) adalah salah satu selebriti yang berulangkali berobat ke klinik tersebut. Betty Ford Clinic menyediakan fasilitas mewah layaknya hotel berbintang lima.

Gaya hidup

Tanpa Terapi

Sebagian besar pecandu narkoba di seluruh dunia tidak mampu membiayai rehabilitasi. Menurut suvery di Amerika Serikat saja, cuma 10,4 persen pecandu yang menjalani terapi medis. Sementara jumlah di negara-negara miskin dan berkembang lebih besar lagi.

Menghapus stigma sosial

Klub tinju Rumah Camara menyambut baik mereka yang ingin menjalani pengobatan untuk kecanduan narkoba dan orang lain yang juga tertarik ingin memasuki ring dan menggelutin olahrgan ini. Bagi manajemen klub, penting artinya untuk menghapus stigma sosial yang terkait dengan mantan pengguna narkoba.

Klub sejaun ini memiliki 200 anggota yang terdaftar, dan 80 orang di antaranya mantan pengguna narkoba. Anggotanya berkisar dari usia 12 sampai 45 tahun, dan berasal dari semua lapisan masyarakat, termasuk guru, siswa, musisi, seniman dan bahkan anak-anak jalanan.

"Tinju telah menjadi semacam tempat pelatihan bagi mantan pengguna narkoba untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat umum. Ketika mereka selesai pelatihan mereka, mereka akan memiliki beberapa pengalaman untuk berinteraksi di dunia nyata," tambah Ginan.

Jadi petinju profesional

Hasilnya juga cukup positif. Beberapa mantan pengguna narkoba kini menjadi petinju profesional. Resnu Sundava yang berusia 22 tahun telah menggunakan narkoba sejak ia berusia 10 tahun. Dia tinggal di lingkungan keras bersama dengan anggota geng motor, di mana ia diperkenalkan dengan rokok, minuman beralkohol dan shabu.

Olahraga

Petinju Terbesar Sepanjang Masa

Terlahir sebagai Cassius Clay tahun 1942 di Louisville, Kentucky. Ali terjun di dunia tinju pada usia 12 tahun – alasannya: marah karena sepedanya dicuri. Tahun 1960, Ali meraih medali emas kelas berat ringat pada Olimpiade Roma. Sebelumnya Ali telah mengumpulkan banyak gelar amatir di Amerika Serikat. Tidak lama setelah sukses di Olimpiade Roma, Ali memulai karirnya sebagai petinju profesional.

Olahraga

Si Mulut Besar

Clay menyadari, sangat sulit untuk melangkah maju sebagai petinju yang ramah dan rendah diri dalam bisnis tinju profisional. Ia lalu mengubah karakternya menjadi seorang petinju yang provokatif, yang gemar mengejek lawannya. 1964, setelah berhasil menjadi juara dunia dengan mengalahkan Sonny Liston, Clay mengitari ring tinju sambil berteriak, "I am the greatest!"

Olahraga

Gaya Tinju

“Menari bagai kupu-kupu, menyengat bagai lebah,” dikatakan Clay menggambarkan gaya bertarungnya. Dalam pertandingan ulang melawan Liston di tahun 1965, Clay berhasil merubuhkan Liston di Ronde 1. „Berdiri, pecundang!“ teriak Clay.

Olahraga

Muhammad Ali

Tahun 1964, Clay memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali. Sampai pertenghan tahun 60, Ali merupakan bintang terkenal. Tapi kemudian karirnya merosot. Sebagai protes terhadap Perang Vietnam, Ali menolak dinas militer, Akibatnya, ia dijatuhi hukuman penjara, larangan bertanding dan pencabutan seluruh gelar yang dimilikinya.

Olahraga

Rumble in the Jungle

1970 – setelah 'istirahat' selama tiga tahun, Ali kembali tampil. 1974, ia bertanding memperebutkan gelar juara dunia di bekas ibukota Zaire, Kinshasa, melawan George Foreman. Ali bertanding dengan taktik bertahan, sambil sepanjang pertarungan mengejek dan menghina lawannya. Foreman, yang tidak terkalahkan dalam 40 laga sebelumnya, jatuh KO pada Ronde 8. Ali kembali merebut gelar juara dunia.

Olahraga

Pertandingan Terbaik dalam Sejarah

Sama legendarisnya dengan pertandingan melawan Foreman adalah pertaningan Ali melawan Joe Fraizer (kanan) pada tahun 1975 di Manila, Filipina, yang terkenal dengan Thrilla in Manila. Fraizer bertahan sampai Ronde 14, sampai pelatihnya menghentinkan pertarungan karena Fraizer hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi.

Olahraga

Turun Ring dan Kembali

1978, Ali kehilangan gelarnya, dikalahkan Leon Spinks. Pada pertandingan ulang, Ali berhasil merebut kembali gelar juara dunia. Ini merupakan gelar juara dunia ke tiga baginya. 1979, Ali mengundurkan diri. Atas saran tim dokternya, Ali kembali tampil. Tapi dalam dua pertandingan terakhirnya, melawan Lary Holmes (kiri) tahun 1980 dan Trevor Berbick (1981), Ali mengalami kekalahan.

Olahraga

Keluaraga

Muhammad Ali pernah menikah empat kali. Lonnie Williams merupakan pasangan terakhirnya sejak tahun 1985. Ali memiliki enam anak, dari empat pernikahannya, satu anak adopsi dan dua dari hubungan di luar nikah. Foto: Ali menggendong putrinya Hana dan Laila (kanan). Laila mengikuti jejak ayahnya, terjun sebagai petinju profesional.

Olahraga

Parkinson dan Aksi Amal

Tahun 1984, Ali (foto bersama Presiden Ronald Reagan) didiagnosis menderita Parkinson. Dianggap, penyakit ini diderita karena Ali mengalami gangguan sarag akibat banyaknya pukulan yang dideritanya di ring tinju. Tapi penyakit ini tidak menghentikan Ali untuk aktif dalam aksi amal, salah satunya dalam hubungan antara Barat dan dunia Islam.

Olahraga

Api Olimpiade

Pada Olimpiade musim panas di Atlanta tahun 1996, Ali mendapat kehormatan untuk menyalakan api Olimpiade. Ini merupakan salah satu momen paling emosional dalam Olimpiade ini.

Olahraga

Penghargaan

Tahun 1999, juara dunia tiga kali ini kembali mendapat satu penghargaan. Komitee Olimiade menobatkan Muhammad Ali sebagai "Atlet Abad Ini".

Olahraga

Pejuang Abadi

Muhammad Ali dengan pose favoritnya di depan para wartawan. Muhammad Ali diantaranya aktif dalam upaya memupuk komunikasi antara Barat dan Dunia Islam. Terutama sejak serangan teror 11 September 2001, Ali bertindak sebagai duta dari warga Islam AS dan menekankan sikap damai Islam.

Resnu sebelumnya sudah bertinju sebelum terjerumus narkoba. Oleh sebab itu ia memilih Rumah Cemara untuk terapi. Ia bergabung dengan klub tinju di sana dan kesehatannya meningkat. Kini bakatnya di bidang olahraga tinju makin bersinar. Dia telah memenangkan berbagai kompetisi lokal dan amatir selama tiga tahun terakhir.

Oktober 2015, Resnu memenangkan gelar divisi kelas terbang di kompetisi tinju regional di Timor Leste, mengalahkan petinju lainnya dari Indonesia, Filipina, Thailand dan Timor Leste. Bagi Resnu, tinju telah memberinya kesempatan lain dalam hidup. "Saya sekarang bisa hidup tanpa obat. Sebelum pelatihan saya, saya tidak bisa meninggalkan rumah tanpa menggunakan obat-obatan. Terima kasih Tuhan, tinju telah memberi saya rasa percaya diri," katanya.

Sebelum bergabung dengan pertandingan tinju, mantan pengguna narkoba di Rumah Cemara menerima sesi konseling dengan dampingan psikolog. Konseling meliputi sesi meditasi selama 30 menit dengan menggunakan musik dan aromaterapi lilin.

Nikotin

Nikotin adalah bahan paling adiktif dalam tembakau. Ketika seseorang merokok, zat nikotin dari rokok cepat diserap paru-paru dan diedarkan ke otak. Peneilitian memperlihatkan, lebih dari dua-pertiga orang Amerika Serikat yang mencoba merokok, akhirnya jadi ketergantungan rokok.

Kokain

Kokain mengganggu kerja dopamin di otak, dalam menyampaikan pesan dari satu neuron ke neuron yang lain. Dalam percobaan pada hewan, kokain menyebabkan kadar dopamin meningkat lebih dari tiga kali lipat batas normal. Kokain berbentuk kristal jauh lebih bikin ketagihan dibanding kokain serbuk. Sekitar 21 persen dari orang-orang yang mencoba kokain akan menjadi ketergantungan pada zat ini.

Alkohol

Minum alkohol memiliki banyak efek pada otak. Dalam percobaan laboratorium pada hewan terungkap bahwa alkohol mampu menaikkan level dopamin di otak sampai 40-360 persen. Semakin banyak alkohol yang diminum, semakin tinggi kenaikan dopamin. 22 persen dari orang-orang yang minum alkohol mengalami ketergantungan alkohol di beberapa titik selama hidup mereka.

Heroin

Pada hewan percobaan dalam penelitian terlihat, heroin adalah candu yang menyebabkan kenaikan tingkat dopamin dalam otak hingga 200 persen. Selain paling adiktif, heroin sangat berbahaya, karena hanya diperlukan dosis 5 kali di atas batas normal, maka zat ini bisa membunuh manusia. Ironisnya, heroin juga jadi narkotika paling dicari dengan potensi pasar mencapai puluhan ribuan triliun rupiah.

Obat penenang

Barbiturat atau obat penenang awalnya digunakan untuk mengobati kecemasan dan gangguan tidur. Baerbiturat mengganggu pengiriman rangsangan kimia ke otak,dan efeknya menghentikan sementara beberapa bagian kerja otak. Dalam dosis rendah, barbiturat menyebabkan euforia. Ttetapi kalau dosisnya tinggi, maka efeknya bisa mematikan karena menekan pernapasan, apalagi jika dicampur dengan alkohol.

Keterbatasan BNN

Pusat rehabilitasi swasta seperti Rumah Cemara belakangan menjadi semakin penting karena Indonesia tengah berjuang dengan krisis obat bius. Pada bulan April tahun ini, Badan Narkotika Nasional melaporkan di Indonesia terdapat 1,7 juta pecandu narkoba yang berusia mulai dari 10 sampai 59 tahun.

Karena keterbatasan sumber daya, badan ini hanya mampu merehabilitasi sekitar 42.000 pengguna narkoba di pusat rehabilitasi milik pemerintah pada tahun 2015. Para ahli medis akan mencari metode pengobatan alternatif seperti tinju untuk membantu menangani meningkatnya pengguna narkoba yang membutuhkan pengobatan.

"Secara umum, olahraga rekreasi baik untuk mantan pengguna narkoba karena menjaga mereka agar tetap sehat jasmani dan rohani. Tinju berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan agresi mereka dengan cara yang positif," kata Benny Ardjil, seorang spesialis dalam kesehatan mental dan kecanduan narkoba.

Klub tinju di Rumah Cemara kini mamasang target untuk melatih lebih banyak mantan pengguna narkoba. Tujuannya agar semakin banyak bekas pencandu juga bisa menunjukkan prestasi dan bersaing di kompetisi lokal dan internasional, memberdayakan mereka dan membuka wawasan kehidupan yang lebih baik.

ap/as(ap)

Gaya hidup

Afghanistan Rajanya Opium dan Heroin

Afghanistan merupakan produsen opium terbesar sedunia yakni antara 5.000 hingga 6.000 ton opium mentah per tahun. Jika dimurnikan opium akan berubah menjadi heroin. Setelah penarikan tentara NATO tahun silam ladang poppy di Afghanistan bertambah 40 persen menjadi seluruhnya 210.00 hektar. Pasar terbesar opium dari Afghanistan adalah Amerika Serikat dan Asia.

Gaya hidup

Kolumbia Juara Dunia Kokain

Kolumbia, Bolivia dan Peru menjadi juaranya produsen kokain sedunia. Di tiga negara itu tercatat seluruhnya 135.000 hektar ladang daun koka. Produksi tahunan Kolumbia saja menurut laporan badan anti narkotika PBB-UNODC sekitar 300 sampai 400 ton setahun. Pasar kokain terbesar adalah Amerika Selatan, Amerika Utara dan Eropa.

Gaya hidup

Maroko Penghasil Utama Ganja

Setiap tahunnya negara di Afrika utara itu rata-rata memproduksi 1.500 ton hashis, marijuana dan ganja kering. Di seluruh Maroko terdapat sekitar 134.000 hektar ladang ganja. Penanaman ganja kini makin marak, setelah Amerika Serikat dan Meksiko melegalkan penggunaan marijuana dalam jumlah terbatas.

Gaya hidup

Myanmar Ratu Heroin Asia Tenggara

Segitiga emas Myanmar, Laos dan Kamboja adalah ratunya produksi opium dan heroin di Asia Tenggara. Produksinya sekitar 1.000 ton opium setahun. Opium dari Segitiga Emas biasanya diselundupkan ke luar lewat Thailand dan dari situ menyebar ke kawasan lain di Asia Tenggara termasuk ke Indonesia.

Gaya hidup

Amerika Serikat dan Mexiko Pusat Meth

Narkoba sintetis Crystal Meth menurut UNODC saat ini konsumsinya meningkat drastis. Belum diketahui pastinya, di mana negara produsen utama, karena narkoba sintetis ini mudah dibuat di laboratorium rumahan. Data menunjukan polisi di Amerika Serikat menggerebek 12.000 laboratorium semacam itu. AS dan Meksiko menyita sekitar 80 persen dari 144 ton Meth yang berhasil disita di seluruh dunia.