1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemberontak Kepung Tripoli

21 Agustus 2011

Kelompok perlawanan Libya terlihat di Tripoli, setelah berhasil menguasai Brega dan Zawiyah. Ketika NATO mendukung serangan-serangan itu, penguasa Libya mengurangi volume serangannya di ibukota.

https://p.dw.com/p/12KpF
Penentang Gaddafi bersuka ria mendengar kabar pemberontak dan NATO menyerang Tripoli, Minggu (21/08).
Penentang Gaddafi bersuka ria mendengar kabar pemberontak dan NATO menyerang Tripoli, Minggu (21/08).Foto: dapd


Suara tembakan dan ledakan granat di Tripoli terdengar pada tengah malam menjelang Minggu (21/08). Saksi mata melaporkan, pertempuran hebat terjadi antara kelompok perlawanan dan tentara Gaddafi. Bentrokan itu terjadi di 75 persen wilayah Tripoli dan pusat kota. Seperti yang diungkapkan jurubicara kelompok perlawanan, mereka kehilangan lebih dari 120 anggotanya di daerah Tajura.

Penduduk menuturkan, pemberontak yang berada di Tripoli bukan berasal dari luar kota. Sebagian besar pemberontak memang berasal dari ibukota. Fakta ini menguatkan pernyataan pemerintahan transisi bentukan kelompok perlawanan beberapa bulan sebelumnya. Setelahnya, mereka memiliki tujuan untuk "menjatuhkan rezim" dan didukung oleh "sel-sel rahasia" simpatisan di Tripoli.


Koordinasi dengan NATO

Gedung hancur di Tripoli
Gedung hancur di TripoliFoto: picture alliance/dpa

Menurut keterangan pemberontak, serangan di Tripoli mendapat restu NATO. Ketika fajar menyingsing, pasukan aliansi militer Atlantik Utara melancarkan serangan udara bertubi-tubi. Jurubicara pemberontak Fadhalla Harun menjelaskan di Benghazi, pertempuran itu menandai serangan di Tripoli, benteng terpenting penguasa Muammar al Gaddafi. Kepada kantor berita AFP Harun mengatakan, sejak Jumat malam (19/08) senjata dipasok ke Tripoli.

Jurubicara pemerintahan Gaddafi, Mussa Ibrahim, menyebut pertempuran itu sebagai "bentrokan kecil" dengan kelompok-kelompok kecil di sejumlah wilayah ibukota. Menurutnya, bentrokan itu berlangsung setengah jam saja. "Saat ini situasinya sudah bias dikendalikan militar," katanya. Beberapa jam kemudian, Ahad pagi (21/08), terdengar pidato Gaddafi. Ia menyebut kelompok perlawanan sebagai "pengkhianat" dan memberi selamat pada pendukungnya yang telah mengalahkan serangan "para tikus".

Serangan di Tripoli disambut meriah di pusat pertahanan kelompok perlawanan di Benghazi. Ratusan penentang Gaddafi berkumpul pada tengah malam merayakan perlawanan mereka sebagai "putaran penting" dalam pertempuran perebutan kekuasaan.

Pemberontak Kuasai Kota-kota Minyak

Kelompok perlawanan di Zawiyah
Kelompok perlawanan di ZawiyahFoto: dapd

Kekuasaan Gaddafi tampaknya semakin terpecah. Sabtu (20/08), pemberontak berhasil menguasai Zawiyah dan Brega. Kedua kota itu strategis karena merupakan kota penting penghasil minyak Libya.

Bukti berikutnya kekuasaan Gaddafi memudar adalah Abdulsalam Jallud melarikan diri ke Eropa. Mantan jenderal dan politisi penting Libya ini adalah salah seorang kepercayaan Gaddafi dan sudah menjadi sahabat Gaddafi sejak Revolusi 1969. Sejak lama Jallud dikenal sebagai tangan kanan Gaddafi. Namun pada dasawarsa 1990an, Jallud berbeda pandangan dengan Gaddafi dan akhirnya posisinya digantikan orang lain. Media Italia melaporkan, Jallud keluar Libya lewat Pulau Jerba, Tunisia, menuju Italia. Menteri Perminyakan Libya Omrane Bukraa diduga juga melarikan diri ke Italia.

Sanksi internasional terhadap Libya dan aksi pemberontak di ibukota juga berdampak pada perekonoian negara itu. Bank kehabisan uang, BBM dan bahan pokok lainnya semakin langka.

Sabine Faber (dpa, rtr, afp, dapd)/Luky Setyarini

Editor: Marjory Linardy