1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Serangan Berdarah Menjelang Ramadhan

Ayu Purwaningsih31 Juli 2011

Pasukan Suriah membunuh lebih dari 140 warga. Lebih dari 100 orang diantaranya menjadi korban serangan tank-tank dan penembak jitu di Kota Hama. Ini merupakan serangan paling berdarah dalam kurun 5 bulan aksi protes.

https://p.dw.com/p/1277u
Serangan militer ke HamaFoto: picture alliance/abaca

Serangan ke Kota Hama, dimulai menjelang umat Muslim di kota itu menunaikan ibadah puasa. Sebulan lamanya tentara Suriah memang telah mengepung kota tersebut.

Syrien Militär Hama
Serangan dengan panserFoto: picture alliance/abaca

Seorang warga menceritakan, bahwa tank-tank dan penembak jitu memuntahkan peluru ke kawasan pemukiman dimana warga berusaha memblokade jalan-jalan, untuk menghentikan serangan itu: „Serangan dilakukan sekitar pukul 4.30. Panser menyerang pintu masuk kota. Penembak jitu mengambil posisi di atap-atap rumah. Diantara korban tewas terdapat seorang anak berusia 13 tahun bernama Omar Almasri, sementara banyak juga anak-anak dan perempuan yang terluka. Rumah sakit di Hama penuh. Dimana-mana tembakan. Anda dengar jeritan demonstran. Termasuk anak-anak dan perempuan diantara demonstran. Ini benar-benar perang. Mereka menyerbu ke rumah-rumah, ledakan dimana-mana.“

Kantor berita pemerintah Suriah menyatakan, militer memasuki kota tersebut untuk menyisir kelompok-kelompok bersenjata yang meneror warga. Namun di lain pihak, Kedutaan Besar Amerika Serikat menampik alasan itu dan menyebutnya sebagai omong kosong belaka.

USA / Obama / Schuldenstreit
Presiden AS Barack ObamaFoto: AP

Obama Berjanji Isolir Assad

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebutkan, ia sangat terkejut atas aksi yang dilakukan oleh pemerintah Suriah yang menyerang warganya sendiri dengan penuh kekerasan. Obama berjanji untuk bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk mengisolir Presiden Assad. Dalam pernyataannya, orang nomor satu di Amerika Serikat itu mengatakan, laporan situasi dari Kota Hama mengerikan dan menunjukan karakter sesungguhnya dari rezim Suriah. Ditambahkannya, Suriah akan menjadi negara yang lebih baik jika transisi demokrasi berjalan. Sampai ke masa itu, Amerika Serikat akan terus melanjutkan tekanan terhadap rezim Suriah. Presiden Obama juga berjanji berada di pihak rakyat Suriah.

Tak hanya Amerika Serikat, negara lain seperti Inggris maupun Perancis mengutuk serangan ke Kota Hama. Sementara Italia menyerukan pernyataan kerasnya lewat Dewan Keamanan PBB.

Syrien Demonstration ANTI Regierung Hama NO FLASH
Demonstrasi anti rezim penguasa SuriahFoto: AP

Uni Eropa Perluas Sanksi

Senin (01/08) ini, pemerintah negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa berencana untuk memperluas sanksi terhadap pemerintahan Assad dan menambah lagi larangan bepergian terhadap lima orang pejabat Suriah. Sebelumnya Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi terhadap Assad dan puluhan pejabat Suriah serta perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan pihak militer di negara tersebut.Larangan terhadap media asing untuk meliput ke Suriah sejak Maret lalu, semakin menyulitkan upaya verifikasi laporan-laporan kekerasan dan korban.

Syrien Skyline von Hama
Kota Hama, SuriahFoto: picture-alliance/Alan Keohane/Impact Photos

Korban Berjatuhan dalam Protes Serangan Hama

Sementara itu, Revolusi Suriah 2011, kelompok gerakan lewat internet yang mendorong aksi protes terhadap rezim berkuasa, mengajak seluruh masyarakat berkumpul bersama usai tarawih, untuk melakukan aksi protes balasan. Tiga orang demonstran di Kota Deraa ditembak aparat, di luar mesjid utama di kota itu. Mereka yang ditembak tengah berdemontrasi memprotes serangan aparat ke Kota Hama.

Kota Hama memiliki sejarah khusus akan gerakan anti pemerintahan Assad, semenjak mantan Presiden Hafez al-Assad, ayah dari presiden Bashar al Assad mengirimkan pasukannya ke kota itu untuk meluluhlantakan pemberontakan Islamis tahun 1982. Sedikitnya 30 ribu orang tewas dalam babak pembantaian paling berdarah dalam sejarah modern Suriah.

afp/rtr(dw/dpa/Purwaningsih

Editor : Paramita