1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bagaimana Invasi AS Mengubah Afganistan?

7 Oktober 2021

Dua puluh tahun silam, pasukan sekutu pimpinan AS menginvasi Afganistan dan menggulingkan rezim Islam garis keras Taliban. Kini kelompok militan itu kembali berkuasa, tapi Afganistan bukan lagi negara yang sama.

https://p.dw.com/p/41N9X
Penggulingan rezim Taliban pada tahun 2001 mengantarkan era baru di Afganistan
Penggulingan rezim Taliban pada tahun 2001 mengantarkan era baru di AfganistanFoto: Imago/ZUMA Press/U.S. Army

Pada 7 Oktober 2001 silam, Amerika Serikat (AS) menginvasi Afganistan untuk membalas serangan teroris 11 September yang diorkestrasi oleh al-Qaida. Tujuan utama invasi itu adalah memburu Osama bin Laden dan menghukum Taliban karena menyediakan tempat yang aman bagi pemimpin al-Qaida.

Dengan sedikit usaha, AS pun berhasil meruntuhkan rezim Taliban. Tapi Bin Laden masih berhasil melarikan diri. Mantan kepala al-Qaida itu baru berhasil dibunuh oleh pasukan AS di kota Abbottabad, Pakistan pada tahun 2011.

Meski invasi AS sebagian besar menuai sukses, para militan Taliban dan al-Qaida masih terpencar. Mereka berhasil menyatu kembali hanya beberapa tahun setelah pemerintahan Hamid Karzai yang didukung Barat berkuasa di Kabul.

Di tahun 2005, Taliban berhasil mendapatkan kembali sebagian besar kekuatannya yang hilang, dan sejak itu meluncurkan gerakan kekerasan untuk nenantang kehadiran NATO.

Yang benar dari invasi AS

Bagi banyak warga Afganistan, invasi AS dan runtuhnya rezim Taliban membawa perubahan positif. Banyak orang menjadi optimis tentang masa depan negara mereka.

Invasi yang dipimpin AS juga berhasil mendorong perekonomian Afganistan. Sistem kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup secara umum meningkat di kota-kota besar. Pekerjaan rekonstruksi dan pembangunan pun mulai berjalan, dan pekerjaan baru bagi rakyat Afganistan bermunculan.

"Empat tahun pertama setelah invasi AS relatif baik,” kata Ahmad Wali, seorang warga Afganistan berusia 30 tahun di kota Ghazni, kepada DW.

Hal senada dikemukakan Nematullah Tanin, seorang jurnalis yang berbasis di Kabul. "Waktu itu kami bisa menulis konstitusi kami sendiri, dan memiliki demokrasi yang berfungsi. Ini adalah pencapaian terbesar kami,” ujarnya.

Sementara Arezo Askarzada, seorang dosen di sebuah universitas di Kabul mengaku hidup sebagai pengungsi di Pakistan sebelum pasukan NATO menginvasi Afganistan. Dia dan keluarganya akhirnya kembali ke Afganistan setelah invasi untuk mencari masa depan yang lebih baik.

"Kami harus membangun semuanya kembali. Terlepas dari kesulitan ini, 20 tahun terakhir adalah tahun-tahun terbaik dalam hidup saya. Saya bisa belajar, dan setelahnya saya dapat mengajar orang lain, termasuk perempuan,” ujarnya kepada DW.

Apa yang salah?

Namun, optimisme itu tidak bertahan lama. Pada tahun 2003, AS terlibat dalam perang Irak, berharap bahwa pemerintahan Karzai, dengan dukungan dari pasukan Barat, dapat memadamkan pemberontakan dan menempatkan Afganistan di jalur kemajuan.

"Pada saat-saat kritis dalam perjuangan untuk Afganistan, pemerintahan Bush mengalihkan sumber daya intelijen dan rekonstruksinya ke Irak, termasuk tim elit CIA dan unit Pasukan Khusus yang terlibat dalam pencarian teroris,” tulis surat kabar The New York Times pada Agustus 2007.

"Para kritikus Presiden Bush telah lama berpendapat bahwa perang Irak mengurangi upaya Amerika di Afganistan, namun dibantah oleh pemerintah. Dan sebuah pemeriksaan tentang bagaimana kebijakan itu dibuka di dalam pemerintahan justru mengungkap adanya perpecahan yang mendalam tentang bagaimana melanjutkan misi di Afganistan,” tambah The New York Times.

Sejak tahun 2005, para pejabat AS terus menuduh Pakistan menyediakan perlindungan bagi militan Taliban. Tetapi Washington tidak pernah memberikan tekanan berarti ke Islamabad untuk menangani masalah tersebut.

Kebangkitan Taliban di paruh kedua tahun 2000-an pun akhirnya membuat kekerasan di negara itu meningkat. Serangan bom bunuh diri menjadi rutinitas, dan nyawa warga sipil yang menjadi harganya.

"Semuanya berubah menjadi sangat buruk. Serangan dan bentrokan bersenjata di daerah kami terjadi setiap hari,” kata Wali. "Banyak orang yang saya kenal kehilangan nyawa. Dan kami kehilangan rumah dan semua yang kami miliki,” tambahnya.

Kegagalan kebijakan

Menurut Akram Arife, seorang dosen di Universitas Kabul, AS memang sudah diprediksi akan gagal.

"Washington seharusnya tahu bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik Afganistan. AS seharusnya mencari solusi lain setelah invasi,” katanya.

Arife menambahkan bahwa AS hanya fokus di Kabul dan melupakan bagian lain negara itu.

"Sebagian besar politisi yang didukung Washington tidak memiliki hubungan yang mendalam dengan orang Afganistan. Pemahaman mereka tentang masyarakat Afganistan itu cacat, dan tentu saja itu tidak cukup untuk menjalankan pemerintahan,” jelas Arife.

Afganistan tak lagi sama

Tanpa perlawanan dari pasukan Presiden Ashraf Ghani, Taliban akhirnya berhasil menguasai Kabul pada 15 Agustus.

Pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban ini pun menimbulkan banyak pertanyaan terutama tentang kehadiran militer AS selama dua dekade di Afganistan. Apa yang sebenarnya dicapai oleh AS di Afganistan setelah menghabiskan begitu banyak waktu dan uang di negara yang dilanda perang itu?

"Kami kehilangan semua yang telah kami bangun dalam 20 tahun terakhir,” kata Askarzada, dosen yang diwawancara DW. "Saya kembali ke tampat yang sama di mana saya berada 20 tahun lalu. Saya tidak bisa bekerja lagi sekarang,” tambahnya.

Meskipun kembalinya Taliban sebuah kemunduran bagi intervensi Barat, dari perspektif Afganistan, invasi AS bukanlah sebuah kegagalan total.

Para ahli mengatakan warga Afganistan telah sangat berubah sejak invasi AS. Hal ini membuat Taliban juga merasa perlu untuk menampilkan wajah "jinak” dan "moderat”, tidak hanya kepada rekan senegaranya, tapi juga kepada komunitas internasional.

Setelah merebut Kabul, kelompok militan itu mengatakan akan membentuk pemerintahan yang inklusif, dan bahwa rezim baru akan secara kualitatif berbeda dari yang berkuasa sebelum invasi AS.

Warga kelas menengah pun semakin berkembang di negara itu. Jumlah orang yang sudah mengenyam pendidikan dan pengusaha juga tumbuh pesat dalam dua dekade terakhir. Hal itu diwarnai oleh aksi unjuk rasa dari berbagai kelompok, termasuk perempuan, akademisi, dan warga biasa yang memprotes aturan Taliban di berbagai bagian negara itu.

Taliban sudah pasti menemukan diri mereka berkuasa di negara yang telah berubah. 

Hussain Sirat dan Shabnam Alokozay berkontribusi untuk artikel ini.

(gtp/pkp)

Shamil Shams
Shamil Shams Penulis isu seputar konflik di Afganistan dan Pakistan, dan Asia Selatan.@ImamShamil