Boom Pencak Silat di Jerman Belum Diimbangi Cukup Guru

Semakin banyak orang Jerman yang kenal dan bermain Pencak Silat. Turnamen Berlin Open 2019 misalnya, mempertemukan para pesilat dari seluruh Jerman. Komunitas Pencak Silat di Eropa sedang membentuk wajah tersendirinya.

Boris Sebastian Gürtler sudah aktif berpencak silat selama 35 tahun. Menurutnya keanekaragaman dalam seni bela diri ini merupakan hal yang unik. "Kombinasi dari keanggunan dan pertarungan membuat Pencak Silat sangat memikat," ujar Presiden Persatuan Pencak Silat Jerman (PSUD) di Berlin.

Di awal tahun ini PSUD menggelar turnamen Pencak Silat Berlin Open 2019. Acara yang akan diadakan setiap tahun ini diikuti oleh hampir 100 pesilat dari berbagai perguruan Jerman dan Belanda. Anak-anak berusia 4 tahun sampai orang dewasa berusia 49 tahun berkompetisi dalam acara yang diadakan untuk kedua kalinya.

Boris Gürtler menyatakan sangat senang dengan antusiasme para peserta dalam pertandingan ini, terutama banyaknya peserta dari kelas anak-anak. "Mereka adalah tokoh masa depan yang akan melanjutkan estafet pelestarian budaya pencak silat di Eropa”, ujarnya.

Boris Sebastian Gürtler

Ia menambahkan, bahwa cukup mudah membuat orang Jerman tertarik dengan pencak silat. "Terutama seni Pencak Silat tradisional yang elegan dan elok langsung meninggalkan kesan positif," lanjut Gürtler yang bergelar Pendekar.

Secara berkala perguruan-perguruan yang dipayungi PSUD, seperti Tapak Suci, SiGePi dan Perisai Diri, mengadakan banyak pertunjukan Pencak Silat di seluruh Jerman. Manager tim nasional Jerman Ronny Müller dari Bongkot Harimau juga sangat aktif dengan workshop pencak silatnya dalam bidang pencegahan kekerasan untuk anak-anak dan remaja. Melalui acara-acara ini semakin banyak orang Jerman yang berkenalan dengan pencak silat dan ingin menekuninya. 

Pencak Silat Berlin Open 2019

Sejak Boris Gürtler memulai page-nya di Facebook yang bernama Pencak Silat – Germany, permintaan untuk belajar pencak silat kepada PSUD juga semakin melonjak. "Kami bahkan kesulitan untuk menemukan cukup banyak pelatih untuk para peminat baru ini," kata Gürtler. Tahun ini PSUD sedang mengusahakan agar tiga guru besar dari Jogjakarta datang ke Jerman, tetapi kendala birokrasi masih merintangi rencana ini.

Dukungan kepada para pemain pencak silat Eropa diberikan oleh Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, yang hadir di acara Berlin Open 2019  tersebut, Menurutnya, "kalau turnamen pencak silat di Eropa, pesertanya seharusnya hanya dari Eropa saja. Kalau peserta dari Asia juga ikut, nanti peserta dari Eropa jadi kalah saing. Kita harus bisa legowo memberikan kesempatan bagi peserta Eropa untuk menjuarai turnamen seperti ini. Hal tersebut akan meningkatkan ownership mereka terhadap Pencak Silat".

Memang Boris Gürtler mengakui, orang Jerman lebih unggul secara fisik karena mereka lebih tinggi sehingga mereka umumnya lebih kuat. "Tetapi orang Indonesia biasanya lebih lincah dan gesit," tambahnya.

Dengan adanya kegiatan turnamen yang terintegrasi di berbagai kawasan di Eropa, diharapkan Dubes Havas, akan terbentuk komunitas pencak silat yang lebih besar. Berlin Open yang diselenggarakan PSUD pada musim dingin dapat melengkapi turnamen Federasi Pencak Silat Belgia (BPSF) yang diselenggarakan setiap musim panas.

Boris Gürtler juga mempunyai impian sendiri bagi dunia persilatan: "Pencak Silat Eropa saya harap akan tumbuh mandiri seperti sebatang pohon, sehingga bisa menjadi hutan yang penuh warna ketika bertemu dengan akar Indo-Melayu-nya." (ag/vlz - kbri)

Tema

Perguruan Silat Terbesar di Jerman

SiGePi (Silat Gerak Pilihan) di Berlin

Pendiri SiGePi Institut di Berlin, Octav Setiadji, menggabungkan gerak jurus pilihan yang diambil dari beberapa aliran pencak silat yang terkenal di Indonesia. Setiadji mulai memperkenalkan SiGePi (Silat Gerak Pilihan) pada tahun 1976 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Perguruan Silat Terbesar di Jerman

Bermodalkan Uang Pensiun

Tahun 2011 Octav Setiadji mendirikan SiGePi Institut di daerah Berlin-Steglitz dengan modal uang pensiun dari pekerjaannya di bagian imigrasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin. Setiadji sempat mendapat kendala dalam mendirikan perusahaan di Jerman dengan paspor Indonesia, namun niatnya untuk mendirikan perguruan silat pertama di Jerman akhirnya terwujud.

Perguruan Silat Terbesar di Jerman

Duta Budaya Indonesia

Tahun 1981 Octav Setiadji berangkat ke Jerman untuk memperkenalkan pencak silat. "Jangankan pencak silat, Indonesia saja tidak dikenal, mereka tahunya Bali," ungkap Setiadji. Dengan bantuan PPI, Setiadji mendapat ruangan mengajar di TU Berlin dan 60 murid. "Dalam perkembangan selanjutnya Indonesia-nya semakin sedikit, Jerman-nya semakin banyak," lanjut Setiadji yang kini memiliki hingga 600 murid.

Perguruan Silat Terbesar di Jerman

Foto Zaman Dahulu

Cikal bakal SiGePi Institut tahun 1991 di Berlin berfoto bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Akbar Tandjung, Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Hasjim Djalal, dan Konsul Jenderal Oetaryo.

Perguruan Silat Terbesar di Jerman

Aliran Pencak Silat di Jerman

Setiap tahun SiGePi Institut menggelar ujian kenaikan sabuk sebagai motivasi belajar untuk bertanding dan kenaikan tingkat. Maret 2014, SiGePi Institut rencananya menggelar kejuaraan se-Jerman. Menurut Octav Setiadji, ada 10 aliran pencak silat di Jerman, seperti Tapak Suci, SiGePi dan Perisai Diri: "Yang penting setiap aliran itu maju dan bagus agar budaya Indonesia digemari orang Jerman."

Perguruan Silat Terbesar di Jerman

Berawal dari Fight Choreographer

Octav Setiadji juga pernah menjadi Fight Choreographer untuk Perfilman Nasional Indonesia pada tahun 70-an. Ia pernah terlibat dalam 15 produksi film nasional, salah satunya "Si Buta dari Gua Hantu." Setiadji mengaku memanfaatkan kesempatan syuting film untuk belajar dan saling bertukar ilmu dengan para pendekar beladiri baik dari dalam maupun luar negeri.

Perguruan Silat Terbesar di Jerman

Diplomasi Budaya

Pengurus dan anggota SiGePi Institut berfoto bersama Duta Besar Indonesia untuk Jerman 2009-2013, Eddy Pratomo. SiGePi Institut di Berlin mendapat dukungan KBRI karena dianggap sebagai bentuk diplomasi budaya Indonesia di Jerman. Tahun 2013, mereka sempat tampil di hadapan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pameran turisme ITB di Berlin.

Ikuti kami