1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Melihat Pemilu Indonesia dari Mata Media Asing

18 April 2019

Dari klaim kemenangan oleh Prabowo Subianto hingga masalah suku pedalaman yang kian tertinggal. Kami rangkum bagaimana media asing soroti pemilu serentak 2019 di Indonesia. 

https://p.dw.com/p/3H18A
Indonesien Jakarta - Präsidentschaftswahl 2019
Foto: DW/C. Richardson

Sejumlah media asing menyoroti jalannya pemilu presiden dan legislatif yang dilaksanakan secara serentak di Indonesia, Rabu (17/04). 

Media berbahasa Jerman seperti Spiegel, Zeit dan Tagesscgau ramai-ramai memberitakan kemungkinan besar kandidat nomor 01 yaitu Joko Widodo akan terpilih kembali menjadi Presiden Republik Indonesia untuk periode 2019-2024. 

Spiegel menuliskan bahwa Jokowi sering dikritik karena perhatiannya yang terlalu sedikit bagi penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia dan makin meluasnya korupsi.

Die Zeit menuliskan karena mayoritas berpenduduk Muslim, pemilu kali ini juga memiliki persiapa khusus yaitu dengan adanya tinta halal yang dipakai utnuk menandai jari pemilih pascapencoblosan.

Baca juga: Apa Kata Media Asing Tentang Persiapan Pemilu di Indonesia

Frankfurter Rundschau menulis kalau kemenangan Jokowi adalah kemenangan kalangan Islam moderat melawan Prabowo yang didukung oleh kaum konservatif.

"Banyak orang Indonesia mengharapkan presiden untuk mengurus masalah sehari-hari dan memerangi kemiskinan," tulis Frankfurter Rundsschau yang mengutip salah seorang warga berjilbab yang mengatakan bahwa baginya, Islam atau tidak bukan masalah, yang penting pemimpin terpilih bisa memperbaiki pendidikan bagi anak-anaknya.

Sejumlah media berbahasa Inggris seperti Aljazeera, New York Times, Times dan Reuters menurunkan berita keunggulan perolehan suara pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei. 

Reuters juga mengatakan kemenangan Jokowi dapat membuka pintu yang lebih lebar lagi bagi para investor.

Klaim kemenangan dan tentang cegukan

The Guardian dan South China Morning Post menyoroti Prabowo yang mengklaim kemenangan, meski hitung cepat di sejumlah lembaga survei yang kredibel menunjukkan hasil sebaliknya. 

Media ini mengutip pernyataan Prabowo yang mengatakan dirinya menang pemilu berdasarkan data sementara dari sebuah exit poll internal yang mengklaim bahwa ia memperoleh 62 persen suara. 

"Ini bukan kali pertama Prabowo mengklaim dirinya sebagai pemenang sah dari kompetisi perebutan jabatan kepresidenan," tulis The Guardian.

Indonesien Wahlen trotz Überschwemmung
Pemilu, Rabu (17/04), tetap berjalan di Bandung meski banjirFoto: Getty Images/AFP/T. Matahari

Absennya Sandiaga Uno dalam pernyataan kemenangan Prabowo karena cegukan juga disoroti oleh The Guardian. 

Menariknya, Media Australia, ABC, pada Selasa (16/04) yaitu tepat satu hari sebelum pelaksanaan pemilu pernah menurunkan artikel yang berharap tidak akan ada kejutan-kejutan berupa cegukan dalam pelaksanaan pemilu di Indonesia.

Siapa pun pemenangnya, suku asli pedalaman kalah

Media berbahasa Inggris lain, foreignpolicy.com, menulis bahwa pemilu kali ini tidak akan banyak membawa perubahan kepada kehidupan para suku asli di pedalaman Indonesia, terutama dalam sektor agraria.

Dayak Iban yang berada di pedalaman Kalimantan tidak lagi memiliki akses yang luas terhadap hutan, karena tanah adat mereka banyak yang telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, tulis media itu. 

Pemerintah Indonesia pun dinilai tidak optimal dalam mengakui dan menghormati wilayah-wilayah adat yang kemudian berkembang menjadi konflik agraria.

Selain itu, disebutkan pula bahwa Islam adalah kartu penting untuk memenangkan pemilu di Indonesia.

ae/ts (disarikan dari berbagai sumber)