1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialGlobal

G20 Janji Membantu Afganistan Tanpa Mengakui Taliban

Priyanka Shankar
13 Oktober 2021

KTT G20 pada Selasa (12/10) menggarisbawahi satu hal, bahwa bantuan kemanusiaan untuk Afganistan sangat krusial, tapi dilakukan tanpa mengakui pemerintahan Taliban. Putin dan Xi Jinping tidak berpartisipasi dalam KTT.

https://p.dw.com/p/41bSi
Taliban di Afganistan
Setelah mengambil alih kekuasaan, Taliban mewarisi masalah Afghanistan dengan sedikit dukungan globalFoto: Ajmal Kakar/XinHua/dpa/picture alliance

Dalam KTT khusus yang digelar secara virtual pada Selasa (12/10), negara-negara G20 menekankan pentingnya penyaluran bantuan kemanusiaan melalui organisasi internasional independen ke Afganistan, tanpa secara resmi mengakui pemerintahan Taliban.

Perdana Menteri Italia Mario Draghi mengatakan: "Semua pemimpin G20 harus menjalin kontak dengan Taliban, tetapi hal itu bukan berarti mengakui mereka sebagai pemerintah Afganistan.” Italia saat ini memegang jabatan kepresidenan bergilir G20.

Kanselir Jerman Angela Merkel dalam konferensi pers setelah KTT juga menekankan bahwa semua organisasi PBB di Afganistan harus didukung dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Jerman akan memberikan €600 juta (Rp9,8 triliun), kata Merkel. Ia juga mengakui pentingnya posisi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam menghidupkan kembali ekonomi Afganistan.

Menjelang KTT, Uni Eropa juga telah mengumumkan paket bantuan sebesar €1 miliar (Rp16,4 triliun) untuk Afganistan dan negara-negara tetangga guna menghindari krisis kemanusiaan lebih jauh. Paket bantuan tersebut sudah termasuk €300 juta (Rp4,9 triliun) yang sebelumnya dijanjikan untuk tujuan kemanusiaan.

Komisi Eropa mengumumkan bahwa dana tersebut akan disalurkan secara langsung ke Afganistan melalui organisasi internasional di lapangan. Para pemimpin G20 sepakat bahwa bantuan kemanusiaan juga harus berfokus pada program yang berpihak pada perempuan dan anak-anak perempuan di Afganistan.

Perwakilan dari Qatar, yang memainkan peran penting dalam memfasilitasi pembicaraan damai untuk Afganistan turut hadir dalam KTT khusus G20 tersebut. Begitu pula dengan pejabat dari PBB, Bank Dunia dan IMF. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping tidak ikut dalam KTT tersebut.

Suramnya situasi di Afganistan

Konflik berkepanjangan selama empat dekade ditambah kekeringan parah telah memperburuk situasi kemanusiaan di Afganistan. Sejak Taliban kembali berkuasa, warga tidak hanya bergulat dengan kondisi kerawanan pangan yang buruk, tapi juga krisis perbankan yang mengancam melumpuhkan bisnis.

Fabrizio Cesaretti, deputi perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di Afganistan, mengatakan kepada DW bahwa Afganistan tengah menghadapi kekeringan paling buruk dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya hasil panen memburuk dan pendapatan rumah tangga menurun. "Situasinya benar-benar suram,” katanya. "Perbatasan dengan negara-negara seperti Pakistan juga ditutup, menyulitkan para petani untuk mengekspor produk mereka dan mencari nafkah,” tambah Cesaretti.

Cesaretti lantas mendesak negara-negara G20 untuk segera mendukung sektor pertanian Afganistan melalui program pendanaan. "Kami telah melakukan perjalanan antar provinsi untuk memasok benih, pakan ternak dan pupuk agar petani dapat mengolah tanah mereka dan peternak dapat memberi makan ternak mereka,” katanya. "Negara ini memang belum masuk kategori bencana kelaparan, tetapi dengan lebih banyak dukungan internasional, kelaparan dan kekurangan gizi lebih lanjut dapat dicegah,” tambahnya.

Memerangi terorisme

Bagaimana merespons ancaman teror yang sedang berlangsung di Afganistan juga tetap menjadi agenda utama G20. Taliban sebelumnya telah menghadapi serangan dari Islamic State Khorasan (ISIS-K).

Menurut pernyataan dari Gedung Putih, "para pemimpin membahas pentingnya mempertahankan fokus pada upaya kontraterorisme yang bertahan lama, termasuk terhadap ancaman ISIS-K.”

Diskusi G20 untuk memerangi ancaman teror muncul setelah perwakilan UE dan AS mengadakan pembicaraan informal mengenai masalah tersebut dengan Taliban di Doha. Namun, Taliban telah menolak bekerja sama dengan AS dan negara-negara lain untuk memerangi terorisme.

Bersiap untuk gelombang pengungsi

Bagaimana menangani gelombang baru migran juga tetap menjadi perhatian khususnya bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Menurutnya, Turki yang sudah menampung lebih dari 3,6 juta pengungsi Suriah, tidak akan tahan dengan masuknya pengungsi dari Afganistan. Oleh karenanya, ia memperingatkan para pemimpin Uni Eropa menyiapkan diri untuk terjadinya lebih banyak migrasi.

Untuk mengurangi tekanan terhadap negara-negara tetangga Afganistan, G20 bekerja sama dengan UNHCR, akan menjajaki pilihan-pilihan yang aman dan legal bagi pengungsi asal Afganistan.

(gtp/pkp)