1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hormus Konflikt

31 Desember 2011

Iran ingin unjuk kekuatan. Setelah ancaman menutup jalur transportasi minyak di Teluk Persia, Iran mengumumkan uji rudal jarak jauh dalam latihan militer di wilayah laut terpentingnya.

https://p.dw.com/p/13cGQ
Angkatan laut Iran berlatih di Selat HormuzFoto: picture-alliance/dpa

Sabtu pagi, kata Wakil Panglima Angkatan Laut Admiral Mahmud Mussavi kepada kantor berita Fars, akan dilakukan "uji coba rudal jarak jauh di Teluk Persia". Rudal Shabab-3 milik Iran, secara teoritis dapat mencapai sasaran di israel atau pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk dan Afghanistan.

Isyarat Kekuatan

Uji rudal Sabtu ini (31/12) termasuk dalam latihan perang militer Iran di wilayah lautnya yang dimulai akhir pekan lalu. Latihan militer dalam skala besar yang akan berlanjut sampai 2 Januari itu kini memasuki fase terpenting, kata Laksamana Mahmud Mussavi. Tujuannya menyiapkan angkatan laut Iran untuk menghadapi situasi perang.

Kekuatiran akan pecahnya perang baru di kawasan juga membangkitkan ancaman Iran baru-baru ini untuk memblokade Selat Hormuz, jika barat menjatuhkan sanksi larangan impor minyak dari Iran, terkait sengketa program nuklir negara itu.

Iran Marine Militärschiff
Kapal perang IranFoto: picture-alliance/dpa

Sebagian besar ekspor minyak dari Timur tengah di angkut lewat Selat Hormuz yang menghubungkan teluk persia dengan laut Arab dan Samudera Hindia. Aksi blokade akan berdampak berat bagi pasokan energi untuk seluruh dunia. Jalur memutar yang lebih panjang akan menuntut biaya lebih tinggi.

Sengketa pemimpin

"Amerika tidak akan membiarkan selat itu ditutup," kata penulis Iran Bahman Nirumand yakin. Blokade berarti perang, tambah Nirumand, dan pemimpin Iran paham akan hal itu.

Nirumand tidak percaya bahwa Iran bertul-betul akan mengambil resiko itu. Tetapi ada fraksi-fraksi radikal dalam aparat kekuasaan yang menginginkan konflik militer. "Mereka berharap kekuasaannya bertambah", terang Nirumand.

"Di Iran ada pertarungan kekuasaan besar antara fraksi-fraksi. Orang juga melihat bahwa Menlu berpendapat sama sekali berbeda dengan militer", kata Nirumand. Pertanyaannya, fraksi mana yang berhasil dan bagaimana pemimpin revolusi mengambil keputusan."

Kapasitas terbatas

Pakar politik Jochen Hippler dari Universitas Duisburg-Essen juga tidak percaya bahwa ancaman blokade Selat Hormuz muncul sebagai reaksi atas sanksi yang lebih keras. "Militer Iran tak akan mampu mempertahankan blokade lebih lama dari dua atau tiga hari", kata Hippler. Supremasi militer Amerika terlalu besar.

Berbeda jika kasusnya serangan dari Israel atau Amerika terhadap instalasi nuklir Iran. Karena, kata Volker Perthes, kepala Institut Ilmu Pengetahuan Politik. Iran bisa melakukan pembalasan habis-habisan, misalnya dengan menjadikan selat Hormuz sebagai ladang ranjau yang dipasang di perahu-perahu kecil. Sebuah metode yang secara militer lebih sulit untuk dihadapi daripada blokade murni dengan kapal perang.

Raketentest im Iran
Uji coba rudal Iran, November 2010Foto: picture-alliance/dpa

Konflik dengan Iran tak bisa diselesaikan secara militer, ini diamini Nirumand, Hippler dan Perthes. Metuigayan menyerukan agar ketegangan diredam dan kembali ke jalur diplomasi. "Sanksi yang diperkeras juga tidak akan membuat Iran menghentikan program atomnya", kata Jochen Hippler. Ini saatnya untuk sebuah konsep janka panjang.

Jaminan keamanan bagi Iran?

"Rejim Iran merasa terancam", kata Bahman Nirumand. negara itu dikepung pangkalan militer Amerika. Tetangga seperti Pakistan, India, Rusia atau Israel punya bom atom. "Jika ingin menemukan solusi, Iran harus lebih dulu mendapat jaminan keamanan bagi perbatasannya."

Nirumand mengupayakan rencana perdamaian menyeluruh dan struktur zona bebas senjata nuklir di kawasan. Tidak ada jalan lain. "Orang bisa saja membombardir instalasi nuklir. Jika Iran betul-betul membuat bom nuklir, hal itu akan memperlambat mereka satu atau dua tahun, tetapi setelah itu akan berlanjut lagi. maslah ini harus diselesaikan dari dasarnya."

Nils Naumann/ Renata Permadi

Editor: Luky Setyarini