Jangan Biarkan Anak Membenci Karena Politik, Termasuk Gara-gara Pemilu

Menurut Uly Siregar, sebagai seorang ibu, ia tak pernah membayangkan bahwa salah satu tugas orang tua zaman sekarang adalah mengajarkan anak untuk tak membenci mereka yang memiliki pilihan politik berbeda.

Berbeda dengan beberapa dekade lalu saat ibu membesarkan saya, pesan untuk ‘tidak membenci' jelas berlaku pada semua mahluk, tak ada spesifik seperti ‘jangan membenci si A dari Partai B yang pendukung cagub C'. Lantas apa yang berubah? Penyebabnya polarisasi politik yang semakin tajam di masyarakat menciptakan jurang antara ‘kami' dan ‘mereka' sekaligus membentuk wajah masyarakat yang tak ramah, cenderung garang.

Adalah pemilihan presiden 2014 yang sepertinya menjadi titik penting dalam polarisasi politik di Indonesia. Kampanye-kampanye yang tak hanya intens tapi juga diwarnai hoax menabrakkan kubu pendukung Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Begitu kuatnya polarisasi ini, seakan tak ada tempat bagi mereka yang berada di antara dua kubu yang bertarung. Mereka yang moderat, yang tak terlalu ngotot untuk menjadi pendukung atau pembenci tak jarang dituduh oportunis. Sementara bagi mereka yang berapi-api menjadi pendukung jagoannya, dengan gampang melontarkan penghinaan pada kubu lawan. Sebutan Jokower, kaum bumi datar, kecebong, dan beragam lainnya bermunculan dalam perang di media sosial lengkap dengan meme dan tagar. Mirip dengan polarisasi politik di Amerika Serikat, permusuhan yang sengit terjadi antara kaum konservatif yang umumnya anggota Partai Republik dan kaum liberal yang kebanyakan anggota Partai Demokrat.

Uly Siregar, indonesische Bloggerin

-Uly Siregar

Setelah pilpres tahun 2014 lewat dan membawa kemenangan bagi Jokowi, polarisasi politik di masyarakat bukannya mereda. Perseteruan antara pendukung Jokowi dan mereka yang menentangnya tetap membara. Dan situasi kembali memanas pada masa pemilihan gubernur (pilgub) DKI Jakarta 2017 yang diwarnai dengan kasus penistaan agama dan dibalas dengan aksi bela agama. Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memenangkan pertarungan melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat. Dan kasus penistaan agama yang sarat diwarnai kepentingan politik pilkada menyeret Ahok ke penjara dengan vonis 2 tahun penjara. Bisa dibayangkan betapa tajam perseteruan antara pendukung Ahok dan mereka yang menentangnya—entah dalam posisi dia sebagai gubernur ataupun sebagai penista agama.

Tahun 2018 masyarakat masih terus bersinggungan dengan pertarungan politik. Mulai 15 Februari masa kampanye pemilihan kepala daerah dengan resmi dimulai. Tak hanya itu, pilpres tahun 2019 sudah semakin dekat. Padahal banyak yang belum juga move on dari Pilkada DKI Jakarta 2017. Media Sosial masih dipenuhi para pendukung masing-masing kubu yang saling umpat. Bisa dipastikan suasana panas antarpendukung akan menguat, bahkan mungkin lebih parah.

Politik | 26.04.2017
Sosial

Belajar Mandiri

Tidak perlu seorang pria untuk menjaga Anda. Anda mampu menjalani kehidupan penuh makna dan bahagia, dengan ataupun tanpa pendamping. Anda dapat mengurus rumah, atau membesarkan anak sekaligus memiliki karir yang berkembang.

Sosial

Belajar Mencintai Tanpa Syarat

Anda belajar arti cinta tanpa syarat. Ibu mengorbankan waktu, kesehatan dan kesenangan demi Anda dan keluarga, tanpa mengeluh. Dia dengan senang hati memberikan lebih daripada untuk dirinya sendiri. Dia mengajarkan Anda: cinta tanpa pamrih dan tanpa syarat.

Sosial

Belajar Mencintai Diri Sendiri

Kita belajar berjalan, berlari dan terus melangkah, bahkan ketika seluruh dunia bertentangan denganmu. Kita belajar percaya pada diri sendiri ketika semua orang meragukanmu. Kita belajar bangkit kembali dari kegagalan demi kegagalan dan berjuang untuk kehidupan yang kita inginkan.

Sosial

Belajar Menjadi Kuat dan Lembut

Seorang ibu diam-diam menangisi rasa sakit yang kamu derita. Ia pun bisa begadang sepanjang malam merawatmu ketika kamu sakit. Dia kuat sekaligus lembut hati. Cara dia memeluk ketika Anda sedang galau menunjukkan rasa kasih sayang yang tak tertandingi.

Sosial

Belajar Bahwa Tak Mudah Jadi Perempuan

Anda belajar bahwa bisa jadi tiba-tiba Anda dianggap enteng atau tak serius oleh orang-orang di sekitar Anda. Tetapi ibu mengajarkan bahwa Anda dapat berdiri di tengah orang banyak dan membuat semua orang mendengarkan suara Anda dan menerima ide-ide Anda.

Sosial

Belajar Untuk Tidak Pernah Melihat ke Belakang

Kehidupan itu naik turun dan hal itu tak perlu dipertanyakan lagi. Belajar untuk tidak melihat masa lalu dan berandai-andai. Anda hanya akan terus melihat ke masa depan dan membiarkan masa lalu yang pahit meredup dengan sendirinya.

Sosial

Belajar Tentang Pentingnya Kesabaran dan Keyakinan

Optimistis, bahwa semua akan baik pada akhirnya. Badai akan berlalu dan besok adalah hari baru. Anda belajar untuk bersabar dengan kehidupan, bersabar dengan waktu, bersabar menyongsong kesuksesan dan bersabar menghadapi masalah. Anda belajar dari ibu, bahwa kesabaran adalah kekuatan.

Sosial

Belajar Menciptakan Kebahagiaan Sendiri

Anda dapat menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang sulit. Anda masih bisa bahagia bahkan jika Anda membawa beban dunia di pundak Anda. Anda sendiri yang menentukan kebahagiaan Anda.

Sosial

Belajar Bahwa Ibu Lebih Tahu Banyak Tentang Cinta Daripada Anda

Bahkan mesikpun kita berada di generasi berbeda, atau bahkan jika Anda tidak menyukai keputusan atau pilihannya soal cinta, ada baiknya dengarkan saran-saran ibu dan pertimbangkan. Pada dasarnya, dia tidak ingin melihat Anda patah hati.

Sosial

Belajar Menjadi Ibu yang Baik

Seorang ibu yang menunjukkan bagaimana usahanya dalam merawat keluarga dan kerja keras dapat terbayar. Dia menunjukkan Anda bagaimana menjadi pelindung, penuh kasih dan tangguh. Dari situ kita bisa belajar dan memetik pengalaman yang mungkin bisa berguna bagi kita di kemudian hari.

Berbagai intimidasi menghantui

Pada bulan April lalu, seorang ibu dan anak yang sedang ikut serta dalam acara Car Free Day (CFD) mengalami intimidasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Intimidasi itu terjadi karena si ibu memakai kaos bertagar #DiaSibukKerja yang merupakan tagar dukungan pada pemerintahan Jokowi. Pelakunya adalah sekelompok penentang Jokowi yang memakai kaos bertagar #2019GantiPresiden. Dalam video yang sempat viral di medsos, sang ibu, Susi Ferawati, dan anaknya yang bernama D terekam sedang dikerubungi segerombolan orang yang secara kasar mengiming-imingi uang ke muka ibu dan anak tersebut. Sang anak yang baru berusia 10 tahun itu pun terlihat menangis ketakutan. Tak heran, setelah peristiwa berlalu, saat diperiksa penyidik Polda Metro Jaya sebagai korban di kantor Polda Metro, meskipun didampingi ibunya, D masih merasa ketakutan.

Sangat dimaklumi ketakutan anak-anak saat dihadapkan pada intimidasi dari sekelompok orang yang gusar. Apalagi dalam kasus di atas, tujuan ibu dan anak berada di lokasi CFD bukan untuk mengikuti kampanye politik. Mereka di sana karena sedang berjalan-jalan menikmati suasana kota Jakarta di waktu khusus yang tak dilewati kendaraan bermotor. Harapan mereka tentu menemui suasana santai, menyenangkan, dan damai, bukan dirusuhi sekelompok orang yang menjadi beringas karena bertemu dengan mereka yang memakai kaos dengan tagar politik berseberangan.

Budaya

Asuhan ibu

Menurut penelitian yang berfokus pada hippocampus - bagian dari otak yang menangani stres dan memori-- Anak-anak balita dalam asuhan ibu penuh kasih sayang dan penuh dukungan, memiliki hippocampus 10 persen lebih besar ketika mulai masuk usia sekolah.

Budaya

Pentingnya cinta ayah

Selain menegakkan aturan, ayah perlu untuk mendengarkan anak dan menjalin hubungan yang erat dengan mereka. Beri kebebasan wajar pada anak-anak. Anak-anak yang merasa ditolak atau tidak dicintai oleh orang tua mereka, lebih mengembangkan sifat permusuhan, agresif dan menunjukan atau ketidakstabilan emosi.

Budaya

Kebahagiaan orangtua juga berpengaruh

Kepuasan hidup orangtua bisa dalam segi pendidikan, pendapatan maupun pekerjaan yang mereka sukai, serta waktu yang diluangkan bersama keluarga. Namun orang tua juga perlu waktu untuk melakukan hal menyenangkan bagi diri sendiri, misalnya nonton film, menjalin pertemanan, dll.

Budaya

Pentingnya optimisme

Ajarkan anak untuk selalu optimistis. Ini berguna untuk meredakan stress ketika mereka puber. Bahkan anak umur lima tahunpun bisa memetik manfaat dari cara berpikir positif. Mereka juga bisa belajar bagaimana orangtua mereka mengatasi masalah.

Budaya

Puji anak atas usahanya, bukan otaknya

Anak yang terbiasa dipuji atas otak dan ketrampilannya, ketimbang usahanya, mengalami masa sulit saat mengalami kegagalan. Anak yang dipuji atas usahanya akan lebih memiliki motivasi dan tidak takut akan tantangan.

Budaya

Pendekatan tiap anak beda-beda

Ketika cara mengajar orangtua tak cocok dengan kepribadian anak, maka anak akan cenderung depresi dan ketakutan. Jika mereka mampu mengatasi emosi dan tingkah lakunya sendiri, maka mereka anak lebih mandiri. Demikian sebaliknya.

Budaya

Lebih tangguh dari yang kita kira

80% anak yang orangtuanya berpisah tidak jatuh dalam problem psikologis yang serius. Orangtua yang memelihara komunikasi baik , mendorong anak-anak mereka mencapai cita-cita, dekat dengan keluarga dan menikmati jalinan hubungan dengan orang lain. Anak-anak yang keluarganya diselimuti konflik, cenderung terganggu dalam mengikuti pelajaran di sekolah dan kesulitan mengatasi masalah emosional.

Budaya

Anak ingin lebih berarti

Caranya bisa dengan berbuat baik bagi temannya, menyelenggarakan acara atau bergabung dengan klub. Rasa empati juga perlu dibangun sedari dini, mulai dari menemani kawan yang sedih, memuji orang lain, berbagi dengan sesama atau meluangkan waktu dengan kakek nenek.

Budaya

Anak-anak zaman sekarang…

.. lebih sedikit waktu bermain ketimbang anak-anak 20 tahun lalu. Bermain penting untuk membangun kreativitas, ketrampilan motorik, kekuatan emosional, kognisi dan ketrampilan sosial.

Budaya

Olahraga vs TV

Anak-anak yang latihan fisik atau berolahraga lebih percaya diri. Mereka yang merasa baik dalam jenis sport tertentu bahkan lebih percaya diri ketimbang yang memang benar-benar ‘jago‘ di bidang itu. Studi 7 tahun atas 4000 remaja menunjukkan, anak-anak yang banyak menonton TV lebih memperlihatkan gejala depresif., dengan peningkatan 8% dari setiap jam menyaksikan TV.

Nah, sekarang bayangkan perasaan anak-anak yang diajak untuk turut serta dalam kampanye politik, atau aksi yang melibatkan jumlah massa yang luar biasa besar. Keikutsertaan anak-anak mungkin tak mengapa, seandainya aktivitas itu steril dari kekerasan dan ujaran kebencian. Sayangnya, bahkan dalam aksi bela agamapun, intimidasi dan ujaran kebencian tak luput hadir.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam pernyataan resminya mengecam sejumlah pengunjuk rasa kasus penistaan agama oleh Ahok pada aksi 4 November 2016. Dalam aksi tersebut sejumlah wartawan peliput diintimidasi, bahkan dipukul dan dirampas hasil rekaman gambarnya. Pihak kepolisian juga disibukkan dengan penyelidikan terkait ujaran kebencian, baik yang dilakukan melalui orasi maupun dalam poster. Di lokasi aksi ditemukan ditemukan kata-kata berunsur ujaran kebencian, seperti ‘bunuh' dan ‘gantung'.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat adanya pengaduan atas pemanfaatan anak-anak oleh orang tua dan pihak-pihak yang berkepentingan. Anak-anak dilibatkan dalam mobilisasi massa oleh parpol atau calon kepala daerah. Anak-anak bisa dijumpai di keramaian sarat politik, bahkan dijadikan penarik massa dengan cara diundang ke panggung. Lebih jauh, ada pula anak-anak yang dijadikan juru kampanye.

Terorisme

Ujung Tombak Deradikalisasi

Seperti banyak pesantren lain di Sumatera, pesantren Al-Hidayah di Deli Serdang, Sumatera Utara, didirikan ala kadarnya dengan bangunan sederhana dan ruang kelas terbuka. Padahal pesantren ini adalah ujung tombak program deradikalisasi pemerintah.

Terorisme

Mantan Teroris Perangi Teror

Perbedaan paling mencolok justru bisa dilihat pada sosok Khairul Ghazali, pemimpin pondok yang merupakan bekas teroris. Dia pernah mendekam empat tahun di penjara setelah divonis bersalah ikut membantu pendanaan aktivitas terorisme dengan merampok sebuah bank di Medan.

Terorisme

Tameng Radikalisme

Bersama pesantren tersebut Al-Ghazali mengemban misi pelik, yakni mendidik putra mantan terpidana teroris agar menjauhi faham radikal. Radikalisme "melukai anak-anak kita yang tidak berdosa," ujar pria yang dibebaskan 2015 silam itu. Jika tidak dibimbing, mereka dikhawatirkan bisa terpengaruh ideologi teror.

Terorisme

Derita Warisan Orangtua

Saat ini Pesantren al-Hidayah menampung 20 putra bekas teroris. Sebagian pernah menyaksikan ayahnya tewas di tangan Densus 88. Beberapa harus hidup sebatang kara setelah ditinggal orangtua ke penjara. Menurut Ghazali saat ini terdapat lebih dari 2.000 putra atau putri jihadis yang telah terbunuh atau mendekam di penjara.

Terorisme

Uluran Tangan Pemerintah

Pesantren al-Hidayah adalah bagian dari program deradikalisasi yang digulirkan pemerintah untuk meredam ideologi radikal. Untuk itu Presiden Joko Widodo mengalihkan lebih dari 900 milyar dari dana program Satu Juta Rumah untuk membantu pembangunan pondok pesantren yang terlibat dalam program deradikalisasi.

Terorisme

Perlawanan Penduduk Lokal

Meski mendapat bantuan dana pemerintah buat membangun asrama, pembangunan masjid dan ruang belajar di pesantren al Hidayah tidak menggunakan dana dari APBN. Ironisnya keberadaan Pesantren al-Hidayah di Deli Serdang sempat menuai kecurigaan dan sikap antipati penduduk lokal. Mulai dari papan nama yang dibakar hingga laporan ke kepolisian, niat baik Ghazali dihadang prasangka warga.

Terorisme

Peran Besar Pesantren Kecil

Al-Hidayah adalah contoh pertama pesantren yang menggiatkan program deradikalisasi. Tidak heran jika pesantren ini acap disambangi tokoh masyarakat, entah itu pejabat provinsi atau perwira militer dan polisi. Bahkan pejabat badan antiterorisme Belanda pernah menyambangi pesantren milik Ghazali buat menyimak strategi lunak Indonesia melawan radikalisme.

Terorisme

Trauma Masa Lalu

Melindungi anak-anak mantan teroris dianggap perlu oleh Kepala BNPT, Suhardi Alius. Abdullah, salah seorang santri, berkisah betapa ia kerap mengalami perundungan di sekolah. "Saya berhenti di kelas tiga dan harus hidup berpindah," ujarnya. "Saya dikatai sebagai anak teroris. Saya sangat sedih." Pengalaman tersebut berbekas pada bocah berusia 13 tahun itu. Suatu saat ia ingin menjadi guru agama.

Terorisme

Stigma Negatif Bahayakan Deradikalisasi

Stigma negatif masyatakat terhadap keluarga mantan teroris dinilai membahayakan rencana pemerintah memutus rantai terorisme. Terutama pengucilan yang dialami beberapa keluarga dikhawatirkan dapat berdampak buruk pada kondisi kejiwaan anak-anak. Ghazali tidak mengutip biaya dari santrinya. Ia membiayai operasional pesantren dengan beternak dan bercocok tanam, serta menjual hasil panen.

Membahayakan anak

Melibatkan anak-anak dalam politik praktis bukan hanya tak aman untuk si anak, tapi juga diaggap membahayakan pertumbuhan dan perkembangan anak. Jiwa anak yang belum matang dan belum siap menerima persaingan yang keras sengit dalam politik dapat terganggu. Karena itu, menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, penyalahgunaan anak dalam kampanye Pemilu melanggar hak anak. Terutama dalam UU No. 10/2008 pasal 84 ayat 2 huruf j tentang kampanye menyebutkan bahwa dalam penyelenggaraan kampanye dilarang mengikutsertakan WNI yang tidak memiliki hak memilih. Ini bisa termasuk orang dewasa yang tidak terdaftar ataupun  yang tak memiliki hak pilih, tapi utamanya adalah anak-anak di bawah usia 17 tahun.

Tema

Bisa saja orangtua berdalih bahwa pesta politik seperti pilpres merupakan momentum yang penting untuk anak belajar berpolitik. Karena itu, kampanye politik yang menyertai pun penting melibatkan anak-anak. Masalahnya, dalam praktik umumnya yang ditangkap oleh anak-anak adalah benih-benih kebencian: "Oh, mereka yang di luar peserta kampanye ini berbeda dengan saya dan orangtua saya. Mereka itu lawan saya. Mereka patut saya benci.” Karena itu jangan heran kalau mulai gampang ditemui jenis anak-anak yang hanya mau berteman dengan mereka yang satu agama, atau mereka yang memihak pada kandidat gubernur tertentu saja.

Pendidikan

Sebelum ulang tahun pertama

Sama seperti di Indonesia, cuti hamil di Perancis hanya 3 bulan. Jika ingin cuti lebih lama, pekerjaan Si Ibu tetap dijamin, namun ia harus merelakan gajinya terpotong untuk membayar tunjangan sosial. Maka tak jarang, usai cuti hamil bayi langsung dibawa ke penitipan anak. Dampak positifnya, sejak dini anak terbiasa mengenal wajah baru, lebih cepat beradaptasi dan lebih mandiri.

Pendidikan

Tidur sendirian

Sejak kecil, anak-anak Perancis dilatih untuk tidur di tempat tidur mereka sendiri, bahkan di kamar tidur yang terpisah. Jika Si Kecil bangun di malam hari dan mulai menangis, orangtua tidak segera bergegas ke kamar anaknya. Mereka menunggu sessaat untuk memastikan seberapa penting Si Anak membutuhkan kehadiran mereka. Anak pun semakin terbiasa tidur sendirian.

Pendidikan

Bebas Tanpa Batas

Anak dibebaskan melalukan apapun hingga batas yang sanggup mereka tangani sendiri. Di tempat bermain, anak tak didampingi langsung orangtua. Saat konflik antar anak terjadi, orangtua juga tidak ikut campur agar Si Kecil terlatih menyelesaikan masalah sendiri. Batasan tegas antara "sikap main-main" dan "sikap buruk" ditetapkan dan hanya perbuatan buruk yang dihukum sehingga anak paham perbedaanya.

Pendidikan

Boleh dititip nenek?

Setiap akhir pekan atau hari libur, keluarga besar akan berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak. Tapi cukup hanya hari itu. Di Perancis, orang tua akan lebih sering terlihat minum kopi atau memegang segelas anggur di kafe daripada menjadi "babysitter" untuk cucu mereka. Meski demikian, nenek dan kakek berperan penting mendidik Sang Cucu terutama selama masa pertumbuhan.

Pendidikan

Tidak ada makanan khusus anak-anak

Tiap keluarga di Perancis memegang teguh prinsip makan bersama harus dilakukan setidaknya sekali sehari. Tidak ada yang istilahnya "makanan khusus anak" sebab anak-anak dan orang dewasa menikmati hidangan yang sama. Bukan berarti orangtua akan memaksa anaknya menyantap menu yang tidak mereka sukai, namun ada syaratnya Si Anak setidaknya harus mencicipi dulu makanan apapun yang tersaji di meja.

Pendidikan

Bersikap sopan

Harus bersikap baik! Semua anak Perancis tahu aturan ini. Anak-anak terbiasa menyapa tamu atau tetangga dengan ramah. Mereka juga terbiasa mengantre dengan tenang, bahkan tak sungkan memberikan tempat duduk kepada orang tua di bus. Sejak kecil bocah di Perancis mengenal empat ungkapan wajib yakni: "terima kasih," "terima kasih kembali," "semoga Anda memiliki hari yang baik", dan "selamat tinggal".

Pendidikan

Tak perlu segera kenal "A B C"

Orangtua di Perancis akan bersikap santai jika anak mereka belum bisa membaca atau berhitung hingga berusia lima tahun. Prinsi mereka, masa kecil adalah masa indah yang patut dihabiskan hanya dengan bermain, bermimpi, menjelajahi dunia, serta untuk belajar bersikap sopan dan bertanggung jawab. Setelah ulang tahun yang ke-6 barulah anak-anak mulai belajar menulis dan berhitung.

Pendidikan

Hari Minggu khusus keluarga

Setiap hari Minggu adalah waktu terbaik untuk piknik di taman, bermain bersama, berjalan kaki atau bersantai sambil bersepeda. Bahkan keluarga di Perancis jauh hari sudah merencanakan kegiatan apa yang akan mereka lakukan pada hari Minggu mendatang.

Pendidikan

Uang saku sesuai umur

Ketika pergi berbelanja, anak-anak Perancis tetap tenang dan tidak berisik apalagi sampai merengek bila orangtua mereka menolak membeli permen atau mainan yang terpampang di rak supermarket. Sejak berusia tujuh tahun, bocah kecil di Perancis sudah menerima uang saku dan bebas untuk membeli apapun yang mereka mau. Jumlah uang saku yang mereka terima tiap bulan sesuai dengan usia mereka.

Lantas bagaimana orangtua menyikapi sekat-sekat tajam dalam masyarakat yang muncul akibat polarisasi politik? Bagaimana bersikap bijak dalam mendidik anak agar tetap bertoleransi meskipun berinteraksi dengan mereka yang berbeda? Anak-anak adalah imitasi orangtua. Apa yang orangtua lakukan dengan mudah dicontoh oleh anak-anak. Bila tak ingin anak-anak menjadi pembenci, tentu saja orangtua wajib menjaga sikapnya. Sejengkel apa pun orangtua pada tokoh A, misalnya, lebih baik untuk tak melontarkan caci-maki di depan anak-anak. Apalagi bila orangtua dengan enteng melakukan ujaran kebencian yang menyinggung suku, agama, ras, dan antara golongan, jangan heran anak-anak pun tumbuh menjadi pribadi yang tidak toleran.

Dunia anak adalah dunia bermain, belajar, berimajinasi, berkawan dengan anak-anak lain tanpa direpotkan dengan urusan politik dan perbedaan SARA. Biarkan mereka tumbuh dalam dunia sosial agar perkembangan psikologis dan mental berjalan sesuai dengan usia. Jangan sampai anak tumbuh dengan diracuni beragam ujaran kebencian yang sering hadir saat massa berkumpul dalam acara politik praktis. Jangan pula bangga kalau dari mulut anak-anak kita terdengar, "Ma, aku nggak mau berteman dengan si Ade. Dia kan bapak dan ibunya pendukungnya Jokowi. Kita bukan kecebong ya, Ma?” Atau sebaliknya, "Kak, jangan mau pacaran dengan dia. Dia kan kaum sumbu pendek kelompoknya bumi datar!” Sejatinya, hidup harmonis dalam tatanan masyarakat yang damai, toleran, dan saling menghargai, lebih berharga daripada kepuasan syahwat menyaksikan jagoan kita memenangkan pertarungan politik lima tahunan.

Penulis Uly Siregar bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

@sheknowshoney

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Sosial

Hanya yang terbaik untuk Sang Anak.

Orangtua Rusia yang ingin anaknya mudah meniti karir akan mengirim mereka ke salah satu dari lebih 200 sekolah militer untuk remaja. Karena di samping materi pelajaran biasa, para remaja di sekolah-sekolah ini juga mendapat pendidikan kemiliteran dengan disiplin keras dan ketat. Siapa yang berhasil di sini, pintu karir akan lebih mudah terbuka.

Sosial

Demi bangsa dan negara

Belajar baris berbaris. Sejak tahun 2001 di Rusia ada program pendidikan sekolah yang bertujuan membangkitkan rasa patriotisme. Pembukaan sekolah-sekolah militer negeri dan swasta bertujuan mendukung pencapaian target itu.

Sosial

Hari pertama yang punya kesan khusus

Tahun pelajaran di sekolah kadet Jermolov dimulai dengan perayaan meriah. Sekolah semacam ini memang punya tradisi panjang di Rusia. Sejak jaman kekaisaran sampai era Stalin para elit masa depan dididik di sekolah tersebut. Seleksi masuknya sangat ketat. Hanya anak yang cerdas dan atletis yang akan diterima di sekolah ini.

Sosial

Semangat Sang Jendral

Sekolah militer Jermolow dibuka tahun 2002 dan menyandang nama Jenderal Alexei Petrowitsch Jermolow. Dia yang memimpin pasukan artileri Rusia berperang melawan tentara Perancis di bawah pimpinan Napoleon pada abad ke-19. Jermolow dihormati sebagai pahlawan perang.

Sosial

Disiplin dan latihan keras

Agar anak-anak ini tumbuh menjadi kader yang kuat dan berdisiplin, perlu latihan keras setiap hari. Mereka diajar bertinju dan olahraga bela diri Asia. Foto di atas menunjukkan latihan di kamp khusus klub patriotik "Russian Knights".

Sosial

Harus bisa memegang senjata

Selain latihan fisik yang keras, mereka juga berlatih menangani dan menggunakan berbagai macam senjata. Untuk murid-murid yang sudah remaja, ada pertemuan-pertemuan khusus dengan sekolah dan klub lain untuk saling bertukar pengalaman.

Sosial

Anak perempuan juga mendapat pelatihan militer

Sekolah kadet Jermolow juga menerima murid perempuan. Mereka mendapat pelatihan militer yang sama seperi murid-murid lelaki. Antara lain bagaimana membuat lubang perlindungan dan bagaimana bertahan hidup di dalam hutan.

Sosial

Pelajaran tingkat lanjut: terjun payung

Selain berbagai ketrampilan di darat, para murid sekolah militer Jermolow juga mendapat latihan terjun payung. Mereka benar-benar disiapkan untuk dapat berpartisipasi dalam operasi militer. Penulis: Julia Vergin, hp/ts