Kebun Binatang Tempat Memelihara atau Menyiksa?

Setiap hari sekitar 100 spesien hewan punah. Manusia menghancurkan ruang hidup hewan-hewan ini atau memburu mereka. Dapatkan kebun binatang membantu menjaga hewan dari kepunahan?
Lingkungan | 23.08.2012

Memelihara binatang buas lama hanya merupakan hak istimewa para bangsawan. 4000 tahun lalu Kaisar Dinasti Xia memiliki menagerie, yakni kandang-kandang berisi hewan liar. Penguasa Asiria memelihara buaya, dan penguasa Aztek memelihara burung pemangsa. Wangsa Medici menyayangi binatang-binatang eksotis di tamannya demikian pula Ludwig ke-16 dari Perancis. Dan terutama Franz Stephan von Lothringen (Franz I. Stephan). Tahun 1752 ia mendirikan kebun binatang tertua yang hingga kini masih ada di dunia, Kebun Binatang Schönbrunn di Wina.

Tapi dulunya bukan untuk melindungi spesies hewan. Tujuan itu baru menjadi kepentingan utama kebun binatang modern pada abad ke-21. Apalagi untuk banyak jenis hewan, ruang hidupnya makin sempit. Lebih dari tujuh milyar orang harus dicukupi dengan bahan pangan dan sumber daya. Dan pertanian serta pertambangan memakan lahan. Selain itu produksi energi dari tanaman ini membuat kilometer persegi demi kilometer persegi lahan menjadi tanah pertanian, ladang, perkebunan dan lahan bangunan. Dengan hilangnya ruang hidup, binatang ikut menghilang.

Hiburan yang Menyengsarakan Hewan

Adu Banteng

Walau protes dan kecaman terus datang, atraksi adu banteng lawan matador masih bisa disaksikan di beberapa wilayah di Spanyol. Kelompok yang mendukung permainan ini menyerukan Unesco untuk memasukkannya sebagai warisan budaya. Permainan dari abad pertengahan ini juga populer atau pernah populer di Portugal, Perancis Selatan, Meksiko, Colombia, Ekuador, Venezuela dan Peru.

Hiburan yang Menyengsarakan Hewan

Sirkus

Gajah, kuda dan singa merupakan hewan yang menjadi andalan pertunjukkan ketangkasan sirkus. Hewan-hewan ini biasanya dipisahkan dari induknya saat mereka masih sangat kecil untuk dilatih. Sudah sejak lama kelompok penyayang binatang menuntut agar ekploitasi dan pemanfaatan hewan di sirkus dihapuskan.

Hiburan yang Menyengsarakan Hewan

Sabung Ayam

Permainan yang digelar sejak zaman Kerajaan Demak ini masih cukup populer di Indonesia, salah satunya di Bali. Dua ekor ayam jantan bertarung sampai salah satu menyerah dan kabur atau bahkan sampai mati. Permainan tradisional ini kerap tidak lepas dari perjudian.

Hiburan yang Menyengsarakan Hewan

Adu Domba

Permainan ini sangat populer di Garut, Jawa Barat. Menurut cerita, adu domba sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Sama seperti banteng yang bertarung lawan matador di Spanyol, domba adu mendapatkan perawatan khusus dari pemiliknya: makan, minum, juga kesehatannya.

Hiburan yang Menyengsarakan Hewan

Industri Film

Banyak hewan yang terkenal berkat aktingnya di film, mulai dari anjing, simpanse, lumba-lumba, kuda atau singa. Organisasi pelindung hewan PETA mengatakan, sama seperti di sirkus, bintang film hewan direkrut, dipisahkan dari induknya, saat mereka masih terlalu muda. Hewan-hewan di industri film juga kerap mendapat perlakuan kekerasan.

Hiburan yang Menyengsarakan Hewan

Balap Anjing

Sangat ironis: diperkirakan anjing-anjing pelari harus menghabiskan 95 persen waktunya bukan untuk berlari, namun dalam kandang. Selain latihan berat, hewan ini kerap mendapat perlakukan kejam, dijejali obat peningkat prestasi. Masa "menyenangkan“ bagi anjing pelari tidak lama. Banyak anjing pelari yang dianggap tidak bisa berprestasi atau sudah uzur diterlantarkan atau bahkan dibunuh.

Hiburan yang Menyengsarakan Hewan

Kebun Binatang

Tempat yang menyenangkan bagi keluarga untuk dikunjungi di akhir pekan, tapi tempat penderitaan bagi hewan-hewan yang tidak bisa bergerak bebas. Pelindung binatang menganggap kebun binatang sebagai "tempat penyiksaan“. Di lain pihak, cukup banyak yang menganggap kebun binatang sebagai salah satu tempat untuk melindungi hewan dari kepunahan dan juga bagi penelitian.

Punahnya Keanekaragaman Spesies

Musnahnya ruang hidup adalah alasan utama punahnya keragaman spesies. Juga perubahan iklim yang merugikan, terutama bagi spesies hewan yang menyesuaikan diri dengan suhu dingin. Meski demikian manusia secara langsung juga membunuh binatang. Gorila diburu oleh kelompok bandit yang berbisnis intan berdarah, hewan-hewan langka menjadi daging santapan di pasar-pasar Afrika dan Asia. Malam hari saat burung tempua berkumpul, pohon tempat mereka tidur dibakar, agar jangan sampai ada hewan yang menjadi musuh petani itu selamat. Sementara pengejaran gajah di Afrika Barat meningkat tajam. Dan juga badak bercula hanya dapat bertahan hidup, jika mendapat pengawalan bersenjata.

Satwa Liar Terancam Punah

Raja Hutan dalam Ancaman

Kendati bernama "Singa Afrika," satwa ini dulunya juga berkeliaran di kawasan Balkan dan Timur Tengah. Namun persaingan dengan manusia memangkas populasi Singa Afrika. Kini fauna yang dilindungi itu cuma bisa ditemukan di kawasan kecil India dan selatan gurun Sahara.

Satwa Liar Terancam Punah

Si Tua dari Rusia

Saiga Antilop sudah mendiami muka bumi sejak zaman es. Satwa yang kini hidup di kawasan steppa Rusia, Kazakhstan dan Mongolia itu terancam punah lantaran perburuan. Selain mampu berjalan 120 kilometer sehari, hewan ini juga bisa berenang.

Satwa Liar Terancam Punah

Sirip Pembawa Petaka

Sirip ikan hiu sangat digemari di Jepang dan Cina. Nelayan memotong sirip hiu ketika satwa itu masih hidup lalu melemparkannya kembali ke laut, di mana mereka biasanya mati. Jikapun ditangkap seutuhnya, daging hiu akan mendarat di atas meja makan sebagai Surimi atau "Fish and Chips." Adapun tulang rawan hiu dipakai sebagai bahan campuran pupuk. Sementara kulitnya laku keras di industri fashion

Satwa Liar Terancam Punah

Gergaji Membawa Sial

Hiu gergaji yang bisa tumbuh sepanjang delapan meter ini termasuk satwa yang terancam punah. Ironisnya karena bentuk gergaji yang panjang, banyak hiu sentani mendarat secara tidak sengaja di jala nelayan.

Satwa Liar Terancam Punah

Racun buat Pemangsa

Diclofenac adalah musuh non alami buat semua burung pemangsa. Obat penahan rasa sakit itu diberikan kepada sapi, babi atau kuda di Asia Selatan atau juga Italia dan Spanyol. Burung pemangsa yang memakan bangkai binatang tersebut akan mengalami gagal ginjal dan mati.

Satwa Liar Terancam Punah

Pengungsi di Kebun Binatang

Keledai liar Asia kini punya julukan baru, yakni pengungsi di kebun binatang. Populasi satwa yang berumahkan di Asia Selatan ini berkurang separuhnya selama 15 tahun terakhir. Kini satwa yang terbiasa membawa beban berat itu termasuk yang paling terancam punah. Lebih mudah menemukan keledai Asia di kebun binatang Eropa ketimbang di habitat alaminya di Kazakhstan.

Satwa Liar Terancam Punah

Tumpuan Harapan

Anjing laut yang sering terlihat bermalas-malasan di tepi pantai ini sangat sensitif terhadap iklim, lingkungan dan penyakit infeksi. Sejak lama satwa ini rajin diburu untuk diambil kulitnya. Namun populasi anjing laut semakin bertambah berkat program perlindungan yang gencar dilakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Satwa Liar Terancam Punah

Satwa pra sejarah Pemakan Plastik

Penyu telah mendiami bumi sejak 225 juta tahun lantaran kemampuan uniknya yang mampu beradaptasi pada evolusi. Namun satwa yang mampu menempuh jarak jauh ini kini sedang terancam dan sebabnya dilindungi. Kendati begitu ancaman tetap ada lantaran manusia kerap mencuri telur penyu yang ditanam di pantai atau mati lantaran memakan sampah plastik yang mengambang di laut.

Satwa Liar Terancam Punah

Hilang Bumi Dipijak

Beruang kutub terancam kehilangan tempat berpijak. Pasalnya satwa pemangsa terbesar di muka Bumi ini hidup di atas lempengan es benua Arktik. Perubahan iklim yang memangkas lapisan es kutub memaksa beruang kutub untuk berburu sembari berenang.

Satwa Liar Terancam Punah

Santapan Berduri

Duri kecil yang memenuhi punggungnya memberikan nama pada jenis ikan pari ini. Kendati bersenjata, ikan pari punggung duri tidak mampu menahan gelombang kepunahan. Lantaran tubuhnya yang lebar dan pipih serta gerak geriknya yang lambat, satwa ini sering mendarat di jala nelayan. Selain sirip, ekor pari juga digemari sebagai santapan kuliner. Sementara sisanya mendarat di tempat sampah.

Satwa Liar Terancam Punah

Penjelajah Malam Mencari Habitat

Kelelawar pemakan serangga terancam penggusuran. Penebangan hutan merenggut tempat istirahat mereka di siang hari. Sementara pengeringan kawasan rawa menghilangkan serangga yang menjadi santapan alaminya. Di Jerman jenis kelelawar bertubuh kecil ini masuk dalam daftar satwa yang terancam punah.

Bertolak dari kondisi tersebut apakah kebun binatang merupakan tempat pertolongan terakhir, untuk dapat menjaga binatang pada masa yang lebih baik? Atau apakah para kritisi benar, bahwa pemeliharaan dalam kandang adalah penyiksaan binatang. Seperti tuntutan organisasi pelindung binatang Peta kepada Menteri Pertanian Jerman Ilse Aigner untuk melarang pemeliharaan harimau. (Menyusul terjadinya serangan harimau di Kebun Binatang Köln yang menyebabkan tewasnya petugas perawat harimau di kebun binatang tersebut.) "Jika seekor harimau memiliki kesempatan menyerang atau menyelematkan diri dari manusia, kesempatan itu juga dimanfaatkannya.“ Demikian dijelaskan oleh anggota organisasi Peta, Peter Höffken. Dimana gepard atau simpanse selalu saja kabur dari kandangnya membuktikan, bahwa binatang ingin keluar dari situ. Bagi Höffken kebun binatang adalah „penjara dengan keamanan tinggi.“

Jangan Coba-coba Pelihara Binatang Eksotis

Ular

Memelihara reptil ini baik yang beracun maupun yang tidak, belakangan jadi lambang gengsi. Tapi ular berumur panjang dan tumbuh membesar, hingga suatu saat tidak pas lagi dalam terarium. Juga patukan ular berbisa mematikan, dan belitan phyton juga bisa fatal. Florida kini juga hadapi hama phyton belang (Foto) yang dulu dilepaskan pemelihar di tahun 80-an dan berkembangbiak jadi spesies invasif.

Jangan Coba-coba Pelihara Binatang Eksotis

Kura-Kura

Reptil ini lucu dan kelihatannya tak bermasalah. Tapi kura-kura bisa berumur hinga 50 tahun, dan jika membesar dan menua, tidak lagi lucu. Di Inggris kura-kura spesies asing picu masalah lingkungan nasional, karena memangsa jenis kura-kura lokal. Juga kura-kura bisa tularkan salmonela.

Jangan Coba-coba Pelihara Binatang Eksotis

Burung Eksotis

Burung eksotis seperti kakatua berwarna (Foto) belakangan jadi tren untuk dipelihara. Dampaknya, populasi burung di alam merosot drastis akibat penangkapan liar. Juga burung "cerdas" ini menuntut pemeliharaan intensif dan seumur hidup, karena sebagian jenisnya bisa beumur hingga 60 tahun.

Jangan Coba-coba Pelihara Binatang Eksotis

Monyet

Memelihara monyet kerdil atau lucu belakangan juga jadi tren dan simbol status. Tapi monyet perlu banyak perhatian, sama seperti manusia, karena kalau ditelantarkan, bisa jadi agresif. Monyet yang kode genetiknya 90 persen sama dengan manusia, juga bisa tularkan penyakit seperti cacar monyet dan Herpes-B bahkan juga sejenis virus pelemah ketahanan tubuh.

Jangan Coba-coba Pelihara Binatang Eksotis

Orang Utan dan Kera Besar Lain

Orang utan kita tahu terancam kepunahan. Di alam bebas populasinya tinggal sekitar 60.000. Orang utan atau kera besar lain seperti Simpanse dan Bonobo adalah binatang liar yang perilakunya sulit diduga dan sekali waktu bisa agresif. Kera besar juga perlu perhatian terus menerus dan makanan terjamin agar tidak sakit, stres atau jadi agresif.

Jangan Coba-coba Pelihara Binatang Eksotis

Kucing Besar

Orang super kaya belakangan bahkan memelihara harimau, macan tutul, macan kumbang atau singa sebagai simbol status. Kucing besar pada dasarnya adalah binatang buas yang perlu pemelihara profesional. Memelihara harimau atau singa, bukan hanya mengundang potensi bahaya bagi pemiliknya, tapi juga membahayakan eksistensi hewan itu di alam.

Kisah Sukses Pembudidayaan Spesies

Bahwa hewan-hewan di kebun binatang masih tetap binatang buas, juga diyakini Manfred Niekisch. „Binatang buas tetap selalu binatang buas, juga meskipun tinggal di kebun binatang.“ Namun menurut direktur kebun binatang Frankfurt itu, hewan-hewan di kebun binatang tidak mengalami gangguan psikis. Perubahan sikap seperti yang pernah terjadi dimana gepard di kandang sempit tidak memiliki kegiatan apapun, tidak lagi terjadi pada kebun binatang modern yang diorganisir dengan baik.

Apakah itu untuk kura-kura atau harimau, saat ini disediakan program aktivitas yang mengimbangi kerugian dalam kehidupan di ruangan sempit, dijamin Niekisch. "Tapi terutama atas dasar kemajuan dalam kedokteran hewan kini lebih mudah memelihara hewan sesuai dengan keperluan spesies hewan tersebut. Orang utan dulu misalnya atas pertimbangan higienis dipelihara dikandang dengan arsitektur seperti kamar mandi, yakni dengan ubin dan besi. Kini mereka hidup di tanah yang empuk dengan arsitektur hutan tropis buatan, dan demikian lebih mirip kehidupan alaminya.

Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Penyelamat Hutan

Hampir sepertiga dari spesies primata terancam punah. Begitu juga dengan gorila dataran rendah di Afrika. Hewan primata berandil besar pada kelangsungan kehidupan di hutan. Merekalah yang terutama menyebarkan bibit tanaman di hutan. Dengan demikian, secara tidak langsung, mereka memastikan bahwa CO2 yang cukup diserap dari atmosfer - yang mana hal ini baik untuk iklim bumi.

Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Bukan Sekedar Produsen Madu

Jika lebah punah, keberadan umat manusia juga terancam. Serangga ini beradil dalam proses penyerbukan sekitar 80 persen dari tanaman pangan. Tapi pestisida dan hilangnya habitat alami mereka membuat keberadaan lebah terancam. Di Jerman saja, jumlah kelompok lebah telah berkurang drastis, dari 2,5 juta menjadi kurang dari satu juta.

Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Melestarikan Tumbuhan di Kegelapan

Hanya satu dari lebih dari seratus spesies kelelawar adalah pengisap darah. Sisanya adalah penjaga keseimbangan populasi serangga dan membantu dalam penyerbukan bunga. Kepunahan hewan malam ini akan berdampak besar pada dunia tumbuhan, dan secara tidak langsung juga akan mengancam kehidupan manusia.

Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Indikator Ekosistem

Kulit katak memiliki pori-pori yang mampu menyerap berbagai unsur dari sekitarnya. Kematian katak biasanya merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang salah dalam ekosistem. Sistem imun mereka yang luar biasa, juga memiliki potensi bagi penelitian di bidang kedokteran.

Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Yang Diremehkan

Bahwa mereka berandil besar bagi kelangsungan ekosistem kerap diabaikan. Organisme kecil ini merupakan "pemberi“ makan miliaran hewan laut. Selain itu, mereka juga menyediakan sekitar setengah kandungan oksigen di bumi. Tanpa plankton mungkin tidak ada kehidupan lagi di bumi.

Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Perawat Hutan

Semut berandil besar di bidang pertanian. Dibandingakan cacing, semut lebih menggemburkan tanah. Selain itu mereka juga berperan dalam mengendalikan hama, mendistribusikan benih tanaman, dan juga sebagai makanan bagi hewan hutan lainnya.

Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Spesialis Daur Ulang

Jamur bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tanaman menyerap nutrisi dan air dari tanah. Tanpa jamur, tanaman sudah punah sejak 600 juta tahun lalu. Jadi tanpa jamur, manusiapun tidak ada.

Karena kondisi kehidupan mereka lebih baik, hewan di kebun binatang memiliki usia hidup lebih panjang dibanding hewan di kehidupan liar dan banyak spesies dapat terus berkembang biak. Sementara ini ada populasi yang besar di kebun binatang. Untuk harimau Siberia dua pertiganya terdapat di kebun binatang. Spesies mereka terus terjaga dan jika suatu hari kondisi persyaratannya memungkinkan, hewan-hewan ini dapat dilepaskan ke kehidupan liar dan membina populasi baru.

"Bahwa gagasan ini membuahkan hasil, ditunjukkan kisah sukses pada bison, kuda Przewalski (kuda di Mongolia) atau burung kondor Kalifornia,“ kata Manfred Niekisch. Juga populasi scimitar oryx dan addax di Afrika Timur, tamarin singa emas (marmoset emas) di Amerika Selatan atau bearded vulture di Eropa Tengah dan Selatan tidak akan berlanjut populasinya tanpa pemeliharaan di kebun binatang.

"Kebun binatang untuk menyelamatkan keragaman hayati saat ini tidak dapat digantikan.“ Hal ini juga diyakni Dag Encke, kepala kebun binatang Nürnberg. „Tidak ada tempat lainnya yang kini memiliki pengetahuan lebih besar daripada kebun binatang untuk menciptakan kembali populasi vital yang mampu bertahan hidup dari sisa hewan-hewan sebuah spesies.“

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Tidak Bisa Dipisahkan

Ibu gorila bernama Gana di kebun binatang Münster Jerman, tidak bisa menerima bahwa anaknya, Claudio sudah mati.Selama beberapa hari ia menggendong jasad Claudio, dan melindunginya dari pekerja kebun binatang. Ini bukan hal aneh bagi semua jenis monyet, demikian peneliti. Beberapa induk bahkan menggendong bayinya, yang sudah jadi mumi, selama berminggu-minggu.

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Penguburan di Laut

Mamalia laut, seperti paus pembunuh, lumba-lumba juga membawa anaknya yang mati untuk sementara waktu, walaupun ini bukan pekerjaan mudah di dalam air. Peneliti mencatat bagaimana ibu lumba-buma berusaha mendorong jasad anaknya dengan moncongnya. Jika jasad tenggelam, si ibu berenang mengejarnya. Jika lumba-lumba dewasa mati, rekan-rekannya juga menjaga jasadnya selama berhari-hari.

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Berduka Sangat Lama

Gajah terkenal dengan ingatannya yang sangat baik. Jadi tak heran, jika hewan ini berduka sangat intensif dan lama untuk rekan yang mati. Jika seekor gajah mati, yang lainnya menjaga jasadnya. Gajah-gajah dari kelompok lain juga datang menengok yang mati. Gajah juga kadang berkunjung ke kerangka gajah lain dan menyentuh tengkorak dengan belalainya.

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Perawatan Kulit Sebagai Cara Menghibur

Monyet Babun menunjukkan tanda stres sangat jelas jika anggota kelompoknya mati. Hormon stres di darah mereka jelas meningkat, demikian peneliti. Untuk mengatasi rasa duka, babun mencari teman-temannya. Hewan ini kemudian mengadakan perawatan kulit bersama, karena itu membantu menurunkan hormon stres.

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Memanggil untuk Mengucapkan Selamat Tinggal

Jika seekor burung gagak mati, gagak lain mengumpulkan anggota kelompok, dan bersama-sama berkumpul dekat jasad gagak yang mati. Mereka juga berpuasa setelah ada yang mati. Dampak duka sangat nyata pada burung yang hidup dengan satu pasangan saja, misalnya angsa dan burung-burung penyanyi. Kadang pasangannya berhenti makan sampai akhirnya mati juga.

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Ikan Juga Tunjukkan Gejala Stres

Ikan tiba-tiba menjadi sangat pendiam setelah ikan lain yang hidup di akuarium yang sama mati. Peneliti menduga, sikap ini diakibatkan hormon stres yang dilepas ke air oleh ikan yang hampir mati. Beberapa penelitian berusaha mengungkap apakah ikan berduka. Tapi indikasinya bisa dilihat, terutama pada ikan yang hidup dengan satu pasangan.

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Kasus Muschi dan Mäuschen

Duka juga bisa dirasakan binatang bagi teman dari spesies lain. Itu ditunjukkan kucing Muschi kepada beruang Mäuschen di kebun binatang Berlin. Keduanya berteman. Ketika Mäuschen mati, Muschi tidak bersedia meninggalkan sarang beruang, dan tidak berhenti mengeong dengan sedih.

Ritual Duka di Kalangan Binatang

Menjaga di Kuburan

Orang yang anjing peliharaannya mati, selalu menunjukkan perasaan sangat sedih. Demikian halnya jika anjing kehilangan tuannya. Anjing gembala Capitan menjaga selama bertahun-tahun makam tuannya di kuburan Villa Carlos Paz di Argentina.

Tema

Memelihara binatang buas lama hanya merupakan hak istimewa para bangsawan. 4000 tahun lalu Kaisar Dinasti Xia memiliki menagerie, yakni kandang-kandang berisi hewan liar. Penguasa Asiria memelihara buaya, dan penguasa Aztek memelihara burung pemangsa. Wangsa Medici menyayangi binatang-binatang eksotis di tamannya demikian pula Ludwig ke-16 dari Perancis. Dan terutama Franz Stephan von Lothringen (Franz I. Stephan). Tahun 1752 ia mendirikan kebun binatang tertua yang hingga kini masih ada di dunia, Kebun Binatang Schönbrunn di Wina.