1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahIrak

Kota Kuno 3.400 Tahun Muncul di Sungai Irak

15 Juni 2022

Kekeringan ekstrem di Irak memberi para arkeolog Jerman dan Kurdi kesempatan langka untuk bisa meneliti kota Zaman Perunggu, Zachiku.

https://p.dw.com/p/4Ci8i
Irak  - 3400 Jahre alte Stadt aus dem Tigris aufgetaucht
Foto: Universitäten Freiburg und Tübingen, KAO

Irak Selatan telah menderita kekeringan ekstrem selama berbulan-bulan. Sejak Desember, sejumlah besar air telah dialihkan dari Bendungan Mosul, waduk air terpenting Irak, untuk mencegah panen mengering.

Karena rendahnya permukaan air, sisa-sisa kota berusia 3.400 tahun yang menghilang beberapa dekade lalu muncul di tepi waduk.

"Saya melihat pada gambar satelit bahwa ketinggian air turun tetapi tidak jelas kapan air akan naik lagi. Jadi, kami memiliki jendela waktu yang tidak diketahui," kata arkeolog Jerman Ivana Puljiz, seorang profesor junior di Universitas Freiburg.

Tapi para arkeolog tahu bahwa situs yang dikenal sebagai Kemune, layak diteliti. Mereka pernah ke sana sebelumnya.

Puljiz bersama dengan Hasan Ahmed Qasim, seorang arkeolog Kurdi dan direktur Organisasi Arkeologi Kurdistan, dan Peter Pfälzner, seorang profesor arkeologi Jerman di Universitas Tübingen, sepakat untuk melakukan ekskavasi penyelamatan spontan.

Mereka dengan cepat membentuk tim arkeolog Jerman dan Kurdi untuk menggali dan mendokumentasikan sebanyak mungkin situs besar yang mereka bisa.

Tim ini mensurvei kota Zaman Perunggu selama tujuh minggu pada bulan Januari dan Februari 2022 sebelum kota itu benar-benar terendam banjir lagi.

Foto dari udara kota kuno yang muncul di bendungan Mosul Irak
Kota kuno yang muncul di bendungan Mosul IrakFoto: Universitäten Freiburg und Tübingen, KAO

Penggalian darurat mengungkap bangunan besar

Selama fase kering yang sama pada tahun 2018, para peneliti telah menemukan istana mirip benteng yang terletak di dekatnya di sebuah bukit kecil. Istana itu dibatasi oleh dinding teras besar.

Pada saat itu, tim Ivana Puljiz menemukan sisa-sisa lukisan dinding dengan warna merah dan biru cerah, yang dianggap sebagai ciri khas istana semacam itu.

Fakta bahwa pigmen-pigmen itu tetap terjaga meskipun banjir adalah "sensasi arkeologi," kata Puljiz kepada DW setelah kunjungan mereka ke situs tersebut pada tahun 2022.

"Tentu saja kami memiliki harapan yang tinggi. Berdasarkan hal-hal yang kami temukan pada tahun 2018, kami tahu bahwa situs ini dapat membawa temuan menarik. Tapi kami tidak tahu apa yang sebenarnya akan kami temukan [kali ini]," kata Puljiz.

Tim tidak kecewa: Selama penggalian tahun ini, sang arkeolog mengatakan bahwa mereka dapat menemukan bangunan besar lainnya, seperti benteng besar dengan dinding dan menara yang mengelilingi kota.

Peneliti mengukur dan mendokumentasi yang ditemukan
Penemuan diukur dan didokumentasiFoto: Universitäten Freiburg und Tübingen, KAO

Kota besar yang mendominasi daerah tersebut

Penemuan para peneliti tentang gudang besar bertingkat yang penuh dengan persediaan sangat menarik.

"Besarnya ukuran bangunan ini saja menunjukkan bahwa bangunan ini pasti menampung sejumlah besar barang. Dan barang-barang ini harus diproduksi dan dibawa ke sana terlebih dahulu," kata Puljiz. Ini menunjukkan bahwa kota tersebut memperoleh pasokan dari daerah sekitarnya yang dikuasainya.

Puljiz mengatakan temuan awal mereka menunjukkan bahwa kompleks kota yang luas itu bisa jadi adalah Zachiku kuno, sebuah pusat penting di kekaisaran Mitanni (sekitar tahun 1550 hingga 1350 SM). Zachiku menguasai sebagian besar Mesopotamia utara dan Suriah.

Namun, tidak banyak yang diketahui tentang Zachiku kuno. "Hanya ada sangat, sangat sedikit penyebutan nama kota ini dalam sumber-sumber lain, jadi kami baru sekarang membawa pengetahuan baru tentang kota ini," kata Puljiz.

Bejana yang menyimpan tablet-tablet tanah liat
Bejana yang menyimpan tablet-tablet tanah liatFoto: Universitäten Freiburg und Tübingen, KAO

Bejana keramik dengan lebih dari 100 prasasti

Dinding dan fondasi bangunan tampak dalam kondisi yang sangat baik, kata Puljiz, meskipun terbuat dari batu bata adobe yang belum dibakar yang telah terendam air selama beberapa dekade.

Ada kemungkinan bahwa gempa bumi besar yang melanda kota sekitar tahun 1350 SM membantu melestarikan dinding-dinding itu - ketika bangunan itu hancur dan puing-puingnya berjatuhan, mungkin telah menutupi bagian bawah dinding, sehingga melestarikannya.

Salah satu penemuan yang paling menarik, kata peneliti, adalah penemuan lima bejana keramik, yang berisi lebih dari 100 tablet cuneiform, seolah-olah dalam semacam arsip.

Cuneiform (aksara paku) adalah salah satu bentuk tulisan tertua. Beberapa tablet tanah liat bahkan ditemukan dalam "amplop" tanah liat.

"Ketika Anda berpikir bahwa tablet-tablet tanah liat ini - yang tidak dibakar, mereka hanya tanah liat padat - berada di bawah air begitu lama dan bertahan dan mudah-mudahan dapat segera dibaca oleh seorang filolog, maka itu benar-benar sensasi," kata Puljiz.

Kerajaan Mitanni yang tidak diketahui

Tablet-tablet tanah liat itu dibuat pada periode Asyur Tengah, tak lama setelah gempa bumi dahsyat itu, ketika orang-orang mungkin mulai menetap di reruntuhan kota kuno itu lagi.

Teks-teks berhuruf paku sekarang dapat memberikan informasi tentang akhir periode Mitanni dan awal pemerintahan Asyur di wilayah tersebut. Kerajaan Mitanni masih dianggap sebagai salah satu negara kuno yang paling sedikit dieksplorasi.

Selama masa kejayaannya di pertengahan milenium kedua SM, kerajaan ini membentang dari pantai Mediterania melintasi Suriah modern hingga ke utara, Irak modern.

Jantung Mitanni terletak dalam kegelapan

Para bangsawan Mitanni dikatakan telah mempertahankan pertukaran yang hidup dengan firaun-firaun Mesir dan penguasa Babilonia. Namun, sekitar tahun 1350 SM, kerajaan Mitanni ditaklukkan oleh tetangga Het dan Asyur.

Peristiwa yang menyebabkan jatuhnya kota itu masih belum jelas. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang kekaisaran Mitanni, para peneliti perlu menyelidiki pusat bekas kekaisaran - yang mungkin terletak di tempat yang sekarang disebut Suriah utara - kata arkeolog Puljiz.

Namun perang bertahun-tahun di wilayah itu membuat penggalian arkeologis semacam itu tidak mungkin dilakukan.

"Tanpa menemukan teks-teks penting dari pusat kekaisaran, sangat sulit untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana fungsinya, apa yang menyatukannya atau apa yang dilakukan pemilik tanah. Sejauh ini kami hanya memiliki satu sumber sorotan dari daerah pinggiran, seperti sekarang dari apa yang mungkin Zachiku kuno," kata Puljiz. "Tapi area inti tetap dalam kegelapan."

Sebelum kota yang hancur itu tenggelam lagi oleh reservoir, para arkeolog menutupi bangunan yang digali dengan lapisan plastik dan kerikil yang rapat untuk melindunginya dari kerusakan lebih lanjut. Jika beruntung, kota Mitanni yang hilang akan muncul kembali di lain waktu. (vlz/pkp)