1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Menjadi Periset Muda Indonesia di Jerman

23 Mei 2018

Universitas di Jerman memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk melakukan riset-riset inovatif. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh mahasiswa asal Bali, Putu Teguh Satria Adi, yang berkuliah di RWTH Aachen, Jerman.

https://p.dw.com/p/2xt7i
Indonesischer Student der RWTH Aachen Putu Adi
Foto: DW/Nurzakiah Ahmad

Putu Teguh Satria Adi adalah mahasiswa Indonesia asal Bali yang kini sedang menempuh studi di RWTH Aachen, Jerman. Di kampus yang terkemuka dalam bidang teknik ini, Putu Teguh terlibat dalam dua penelitian, yakni 3D Printing logam dan juga touchpad dari bahan tekstil. Mari kenali Putu Teguh dan penelitiannya lebih dekat.

DW: Kenapa tertarik kuliah di Teknik Mesin RWTH Aachen?

Putu Teguh Satria Adi: Saya kuliah teknik mesin karena selain saya tertarik dengan fisika saya juga sangat terkesan dengan teknologi-teknologi masa depan. Dan saya melihat teknik mesin adalah salah satu pintu awal untuk menuju kesana. Saya memilih RWTH Aachen karena universitas ini adalah salah satu yang terbaik di dunia untuk bidang teknik mesin. Tidak hanya karena perkuliahannya tetapi juga institusi risetnya. RWTH Aachen punya banyak institusi riset ternama, yang lokasinya di sekitar kampus. Fokus penelitian semua institusi riset disini sangat relevan dengan kebutuhan industri.

Bagaimana awal ketertarikan kamu terhadap bidang 3D printing?

Sekarang saya sedang berada pada tahap akhir pengerjaan skripsi saya. Universitas di Jerman memungkinkan mahasiswanya untuk mengerjakan skripsi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu saya menggarap tema yang disiapkan oleh Siemens AG, Power and Gas Division, Berlin dan terikat kontrak dengan mereka selama satu semester.

Siemens memiliki kerja sama yang erat dengan salah satu institusi riset ternama di Jerman, Institut Fraunhofer ILT, yang ada di dekat kampus. Secara singkat dapat dikatakan, institut ini merupakan jembatan yang menghubungkan proyek-proyek perusahaan dengan tenaga-tenaga ahli kampus. Institut ini merupakan tempat awal saya mendapatkan koneksi dengan Siemens dan saya mengawalinya sebagai asisten riset dalam bidang additive manufacturing atau bahasa awamnya 3D printing, yang juga adalah tema skripsi saya.

Fokus dari riset saya adalah meningkatkan produktifitas dari 3D printing untuk logam itu. Sebenarnya ini tantangan terberat dari 3D printer untuk logam saat ini. Tidak hanya logam, plastik juga. Dan tujuan dari skripsi saya adalah saya mencari parameter terbaik untuk meningkatkan kecepatan dari proses tersebut. Dan hasilnya nanti akan divalidasi dengan salah satu komponen pembakaran yang ada di gas turbin dan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi komponen tersebut bisa dipotong sampai setengahnya.

Bagaimana kamu bisa aktif menjadi peneliti di Fraunhofer ILT?

Saya memulai bekerja sebagai Hilfswissenschaftler (Hiwi/asisten riset) di Fraunhofer ILT dari semester 4. Keterbatasan ilmu praktik di Universitas di Jerman, menuntut mahasiswanya untuk secara mandiri mengumpulkan pengalaman di lapangan dan mengaplikasikan teori yg didapatkan di kampus. Hiwi adalah jalan terbaik yang saya lihat saat itu, karena selain mendapatkan pemasukan tiap bulan, saya juga bisa mengenal dunia riset sejak dini dan bekerja sama secara langsung dengan akademisi dan pekerja profesional industri.

Saat itu kebetulan saya diterima di Fraunhofer ILT dan ditempatkan di sebuah klaster riset yang bernama Digital Photonic Production. Di klaster ini sangat terasa kolaborasi antara akademisi dan industri. Hal ini memungkinkan institut untuk tetap menjaga relevansi risetnya terhadap kebutuhan industri. Selain itu dari sisi industri, mereka mendapat wawasan mengenai hal-hal baru yang sedang diteliti di insitut dan mempertimbangkan sejauh mana bisa diaplikasikan di perusahaan mereka, sehingga perusahaannya selalu inovatif dan terdepan.

Fokus dari klaster riset Digital Photonic Production ini adalah produksi atau manufaktur terdigitalisasi yang menggunakan photon (cahaya ataupun laser). Dan titik beratnya memang di 3D printing logam. Saya beruntung saat ini mendapatkan posisi yang disupervisi secara langsung oleh profesional dari Siemens. Jadi saya terlibat aktif dalam riset-riset 3D printing yang berhubungan dengan pembaharuan desain komponen turbin gas bertemperatur sangat tinggi.

Bagaimana dengan riset untuk touchpad dari bahan tekstil?

Awalnya ini hanya sebatas tugas kuliah wajib di semester 6, yang disebut project thesis. Tema yang saya garap disini adalah textile touchpad, yaitu sensor sentuh yang bisa diintegrasikan dengan tekstil di kehidupan sehari-hari. Mulai dari interior mobil bahkan nantinya diharapkan bisa diterapkan di pakaian. Sebenarnya sudah ada yang dikomersilkan, misalnya Project Jaquard yang merupakan kerjasama antara Google dan Levi's.

Apa kelebihan proyek kamu dengan proyek textile touchpad yang sudah ada di pasaran?

Teknologi yang kami kembangkan menjawab kelemahan-kelemahan teknologi kapasitif yang sudah diimplementasikan. Alih alih menggunakan elektron sebagai pembawa informasi, teknologi ini memanfaatkan photon dengan medium serat optik. Selain memiliki sifat yang dimiliki tekstil, konsep ini tahan terhadap interferensi elektromagnetik sehingga tidak perlu pelindung dan bisa dengan mudah diintegrasikan dengan elektronik yg sudah ada. Selain itu karena menggunakan teknologi optik, touchpad ini bisa berfungsi di saat hujan maupun di bawah air tanpa gangguan seperti saat kita menyentuh layar handphone saat tangan kita basah. Tidak hanya itu, touchpad berbahan tekstil ini juga dapat menerima input lebih dari satu. Istilahnya teknologi multi-touch yang biasa kita temukan di touchscreen ponsel atau tablet kita. Ini menarik karena belum ada yang bisa menerapkan ini di tekstil. Sejauh pengetahuan saya berdasarkan publikasi resmi, teknologi kami adalah teknologi pertama di dunia yang berhasil melakukannya.

Jadi tugas kuliah atau project thesis itu adalah tugas dimana mahasiswa wajib melakukan inovasi teknologi?

Project thesis ini kurang lebih sama dengan skripsi, yang menuntut kita untuk melakukan riset dalam jangkauan tertentu. Hasilnya bisa divalidasi dengan demonstrator dan pada akhirnya didokumentasikan dengan struktur yang sama seperti skripsi. Bedanya disini kami mengerjakannya berkelompok.

Waktu itu saya mengerjakannya bertiga, dengan teman dari Jerman dan Latvia. Kalau di RWTH Aachen, mencari tema penelitian sangat mudah karena banyaknya institusi yang didukung kucuran dana yang sangat besar dari pemerintah, yayasan maupun melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan. Dari sekian banyaknya tema, kami memilih tema pengembangan textile touchpad karena ini merupakan riset dasar yang memungkinkan kami memulai benar-benar dari nol. Tentu juga setelah mempertimbangkan kualitas supervisor dan institut riset ITA (Institut untuk Teknologi Tekstil) yang proyek-proyeknya sangat visionaris dan berkelanjutan.

Dengan dukungan yang luar biasa dari supervisor kami dan kerja sama yang sinergis dengan rekan-rekan saya yang sekaligus sahabat dekat saya, kerja kami melampaui target dasar tugas kuliah dan bahkan mampu sejajar dengan riset-riset mahasiswa S3 yang ada di Aachen dalam ajang Innovation Award. Kami berhasil menjadi finalis saat itu. Kelanjutannya, kami berharap bisa melanjutkan riset ini. Saat ini kami telah mengadakan konsorsium dengan tiga partner industri di Jerman dan sedang mempersiapkan perdaftaran salah satu program Kementerian Riset dan Teknologi Jerman yang jika tembus, mereka siap mengucurkan dana yang besar untuk membiayai keberlanjutan riset kami.

Bagaimana cara kamu mengatasi tantangan selama berkuliah sambil bekerja atau melakukan riset?

Berkuliah di Jerman tidak terlepas dari berbagai kendala dan kesulitan. Tantangan tidak hanya menyangkut situasi saya sebagai perantau yaitu: hidup mandiri, berada jauh dari keluarga dan teman-teman serta tidak bisa aktif kehidupan berbudaya dan beragama di daerah saya sebagai orang Bali. Tidak dapat saya pungkiri tantangan juga datang dari tingkat kesulitan kegiatan perkuliahan serta integrasi dengan rekan-rekan riset di sini.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, kiat-kiat saya adalah, pertama, saya berusaha merubah perspektif saya. Saya selalu melihat keberadaan saya disini sebagai kesempatan yang sangat amat besar untuk melihat hal baru dan berusaha selangkah lebih maju tiap harinya, atau singkatnya belajar dan belajar.

Kedua, komunikasi aktif. Berada dalam lingkaran orang-orang hebat disini, tentunya ekspektasi mereka sangat besar. Saya tidak pernah mengalami diskriminasi tetapi lebih ke harapan mereka bahwa kualitas saya sejajar. Dari yang saya lihat, bagi mereka tidak terlalu penting siapa yang lebih baik dari siapa. Yang ada hanya yang tahu lebih dulu atau yang belum tahu. Karena itu orang Jerman sangat menekankan komunikasi yang baik. Kalau mereka lebih paham, mereka dengan senang hati memberi tahu tanpa menggurui tapi kalau ada yang mereka belum ketahui, mereka akan langsung bertanya tanpa ragu. Hal-hal positif seperti itu yang selalu saya berusaha untuk tiru.

Ketiga, kemandirian juga sangat penting. Seringkali bos saya mengasumsikan saya sudah tahu apa yang harus saya kerjakan. Ditengah kesibukan beliau saya harus bisa mencari orang yang paham dan membantu saya kalau beliau tidak ada waktu.

Terakhir juga adalah efektifitas dalam bekerja. Ditengah-tengah kesibukan saya dan rekan-rekan riset saya, saya harus mampu membuat perencanaan untuk beberapa waktu ke depan. (na/ts) 

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal Youtube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.