Menari untuk Promosikan Budaya Indonesia

Selain menjadi mahasiswa S-2 jurusan Psikologi Bisnis di HBRS, Rheinbach, Albi juga memiliki kesibukan lain di luar kampus. Ia sering tampil memperkenalkan budaya Indonesia di berbagai acara kultur di Jerman.

Di mata pria yang akrab dipanggil Albi, sebagai negara besar, Indonesia belum banyak dikenal di dunia internasional. Menurutnya, karena daerah Indonesia yang luas maka perwakilan kebudayaan di tiap daerah diperlukan untuk memperkenalkan dan memberikan pengalaman budaya tersendiri kepada warga dunia. Apa kaitan antara studi yang dipelajarinya di Hochschule Bonn Rhein-Sieg dengan misi budaya ini? Simak wawancara DW dengan mahasiswa asal Jakarta tersebut.

DW: Apa yang kamu pelajari di jurusan Psikologi Bisnis ini?

Albiruni Raushanfikri: Saya belajar tentang perilaku dan pengalaman manusia di dalam konteks manusia sebagai makhluk ekonomi. Apakah makhluk ekonomi itu eksis dalam mempengaruhi keputusan-keputusan yang dibuat manusia, baik itu dalam bidang pemasaran atau bidang sumber daya manusia.

Kalau saya bisa ambil contoh satu kasus misalnya, prevensi terhadap stres dalam dunia kerja. Itu mungkin kita bisa lakukan banyak hal. Seperti pada awalnya kita bisa diagnostik pada stresnya. Kemudian melihat kenapa stres dalam dunia kerja itu bisa muncul. Lalu kita bisa melakukan langkah-langkah untuk melindungi tenaga kerja perusahaan tersebut dari stres atau memulihkan mereka agar lebih produktif. Bagaimana meningkatkan kepuasan dari tenaga kerja entah itu karyawan atau buruh. Saya juga mempelajari bagaimana pengambilan keputusan dalam dunia finansial seperti jual-beli saham agar tidak selalu melibatkan emosi tapi juga dengan objektifitas.

Sosial

Berbakat sejak kecil

Albi, seperti yang biasa ia disapa, telah menekuni tarian sejak umur empat atau lima tahun. Orang tuanya mendaftarkan Albi untuk ikut ekstrakulikuler tari di TK untuk mengatasi polah hiperaktifnya. Saat menempuh pendidikan SD, SMP dan SMA ia sudah sering tampil di acara-acara sekolah. Puncaknya adalah saat menarikan Tari Klono Topeng Alus Gunungsari di Keraton Yogyakarta.

Sosial

Menari di Jerman untuk Indonesia

Ia biasa diminta untuk menampilkan tarian dari Indonesia di acara PPI di Jerman. Selain mengharumkan nama Indonesia lewat seni tari, ia juga mengaku bahwa tarian bisa mengobati rindunya pada tanah air. “Tarian juga menjadi obat kangen saya bila saya kangen dengan Indonesia. Dengan budaya adiluhungnya saya bisa merasakan kehangatan budaya Indonesia,” kata mahasiswa berumur 28 tahun tersebut.

Sosial

Siap sedia jamu

Di sela-sela acara atau sebelum penampilan tari, Albi selalu menyempatkan diri meminum jamu instan asal Indonesia dalam bentuk kemasan kecil. Mahasiswa psikologi bisnis itu rutin meminum jamu instan untuk menjaga stamina dan kesehatan. Saat mempersiapkan diri untuk tampil, Albi biasanya harus latihan seni gerak tersebut sekitar dua jam dalam sehari.

Sosial

Kuasai enam tarian Indonesia

Sejak belajar seni tari mulai dari TK hingga kini, Albi menguasai enam tarian Indonesia yaitu: Tari Dindin Badindin, Tari Pasambahan, Tari Serampang 12, Tari Klono Rojo, Tari Klono Topeng Sewandono, juga Tari Klano Topeng Alus Gunungsari. Selain itu ia juga handal mengiringi tim Tari Saman Bonn sebagai Syekh.

Sosial

Hilangkan penat

“Bagi saya tarian itu adalah nafas, seperti kebutuhan. Kadang kalau saya sedang penat atau ada waktu luang sendiri, saya berhenti sejenak lalu saya mendengar gending-gending tarian dan saya bisa menari walaupun tidak secara menyeluruh,” ujarnya. Baginya, tari adalah olah rasa yang ampuh mengusir stres sekaligus identitas budaya bagi diri sendiri, agar tidak lupa akan asal usul. (yp/ts)

Seberapa penting psikologi dalam dunia bisnis?

Kita bisa melihat contoh kasus pada tahun 2016 yaitu krisis finansial, sebelum itu terjadi ada ledakan pasar perumahan di Amerika Serikat yang menyebabkan kredit merajalela. Yang penting untuk dipelajari adalah mengapa banyak individu menggunakan kredit padahal uang yang mereka akan bayarkan kemungkinan masih kurang. Dalam hal tersebut kita bisa menelaah mengapa manusia bisa melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan.

Penting juga bila kita melihat dalam konteks manajemen. Bagaimana kita merekrut orang yang tepat. Bila terjadi kesalahan perekrutan karyawan yang tidak kompeten. Di sana kita bisa melihat mana saja faktor-faktor yang harus direduksi. Atau cara lain dengan mengembangkan karyawan tersebut agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Ada kegiatan di luar kampus?

Saya aktif dalam program bantuan untuk para mahasiswa dan mahasiswi internasional. Saya membantu membentuk modul atau kurikulum, seperti apa saja materi yang bisa diberikan kepada mahasiswa-mahasiswi internasional pada semester tertentu. Untuk mengembangkan diri mereka, membekali mereka dengan berbagai macam input seperti proyek manajemen, sosial, budaya dan lainnya.

Budaya

Menekuni musik Bali sejak kecil

Sanggar Bali Puspa didirikan oleh Nyoman Suyadni Mindhoff. Ia bercerita, sejak kecil ia sudah belajar menari di pure.

Budaya

Membawa gamelan dari Indonesia

Nyoman bercerita, di Jerman ia dulu juga menari di berbagai acara dan mengajarkan anak-anak menari Bali. Kemudian timbul keinginan untuk mendatangkan instrumen gamelan, "supaya punya musik live." Demikian ceritanya.

Budaya

Mendirikan sangar Bali Puspa

Ia kemudian mendirikan grup bukan hanya penari, melainkan juga grup pemain gamelan. Awalnya ia mencari guru, kemudian sedikit demi sedikit mengumpulkan orang Jerman yang berminat. Salah satunya Andreas Herdy (foto), dosen musik di Universitas Hildesheim yang jadi guru grup gamelannya.

Budaya

Orang Jerman belajar main gamelan

Nyoman bercerita, memang awalnya bagi orang Jerman sulit untuk memainkan gamelan. Mereka terutama sulit mengkoordinasikan tangan. Apalagi musik yang dimainkan, yaitu musik khas Bali, bukan musik yang sering didengar di Jerman.

Budaya

Kesabaran perlu

Tapi seperti banyak hal lainnya, dengan kesabaran dari guru dan ketekunan murid, orang-orang yang benar-benar berminat akhirnya bisa main gamelan.

Budaya

Memperkenalkan dan menyebar kebudayaan Indonesia

Hingga sekarang, sanggar Bali Puspa sudah berkali-kali ikut dalam berbagai acara di berbagai kota di Jerman, dan di beberapa negara tetangga Jerman. Rencana berikutnya juga sudah ada. Mereka akan mengadakan Malam Indonesia di Köln. Penulis: Marjory Linardy (ap)

Di samping kegiatan tersebut, saya juga aktif dalam kegiatan budaya seperti menari. Bila ada kesempatan waktu dan tempat saya biasa tampil di acara-acara Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman, contohnya acara Malam Kultur. Ada juga masyarakat Jerman yang tertarik dengan kebudayaan Indonesia, kemudian mereka meminta saya untuk menampilkan beberapa tarian dari Indonesia.

Tema

Sering mengisi kegiatan budaya apa tidak mengganggu perkuliahan?

Saat sedang banyak tugas di kampus memang terkadang sulit membagi waktu. Tapi karena bagi saya tarian itu adalah nafas, seperti kebutuhan. Kadang kalau saya sedang penat atau ada waktu luang sendiri, saya berhenti sejenak dari proses belajar, lalu saya mendengar gending-gending tarian dan saya bisa menari walau pun tidak secara menyeluruh. Dengan itu saya bisa keluar sejenak dari aktivitas dan kembali bugar untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan lainnya.

Bila ada permintaan untuk menampilkan tari dalam suatu acara, barulah saya membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk latihan dan pemanasan selama 2 jam per hari.

Apa arti tarian bagi Anda?

Tarian bagi saya adalah penyalur unek-unek yang mungkin tidak bisa ditumpahkan dalam kata-kata tapi mampu ditafsirkan melalui gerakan-gerakan. Dalam tarian kita mengenal olah rasa.

Dengan padatnya kegiatan sehari-hari membuat kita terkadang penat terhadap kinerja tim, sering kali kita tidak bisa langsung mengungkapkan. Salah satu solusi untuk mengalihkan stres yang kita hadapi adalah dengan hobi yang kita sukai. Bagi saya tarian-lah hobi yang dapat memberikan solusi tersebut.

Sejak umur berapa Anda menari? Serta berapa tarian yang Anda kuasai?

Sejak saya umur empat atau lima tahun saya sudah belajar ektrakulikuler tari di Taman Kanak-kanak (TK). Saat kecil saya termasuk anak yang hiperaktif lalu orang tua saya mencarikan kegiatan yang bisa membuat saya capek, yaitu menari. Guru-guru saya juga melihat bakat dan minat saya untuk menari. Kemudian saat SD, SMP dan SMA saya biasa diminta untuk menampilkan tarian di acara sekolah.

Sosial

Festival Antar Budaya Friedrichshafen

Festival tahunan yang digelar pemerintah kota Friedrichshafen ini telah memasuki tahun ke 27. Sesuai namanya, pengunjung festival bisa menikmati berbagai macam suguhan kuliner dan atraksi budaya dari seluruh dunia. Kebanyakan partisipan festival adalah komunitas budaya di kota Friedrichshafen dan sekitarnya. Indonesia diwakili oleh komunitas "Freunde Indonesiens".

Sosial

Aktif memperkenalkan budaya Indonesia

Komunitas "Freunde Indonesiens" sejak didirikan tahun 2017 langsung aktif ikut serta dalam Festival Antar Budaya Friedrichshafen pada 1 dan 2 Juli 2017. Organisasi nirlaba ini berdiri atas prakarsa 9 perempuan Indonesia, yang tinggal di kota-kota sekitar danau Bodensee di selatan Jerman.

Sosial

Kuliner Indonesia

Sajian makanan khas tentu menjadi hal wajib hadir pada setiap festival budaya. Di kota Friedrichshafen, stand kuliner Indonesia menarik banyak minat pengunjung festival, yang penasaran dengan makanan khas Indonesia. Rendang, sate dan gado-gado adalah menu andalan yang ditawarkan di warung Indonesia ini.

Sosial

Mengudap di bawah tenda merah putih

Pengunjung festival menikmati kuliner Indonesia dibawah tenda yang dihias dengan warna merah putih. Tenda dipenuhi pengunjung festival yang dengan antusias menjajal makanan khas Indonesia, seperti rendang atau gado-gado. Kuliner Indonesia biasanya sulit didapat di kota Friedrichshafen.

Sosial

Gebrakan tarian tradisional

Selain kuliner khas nusantara, komunitas diaspora Indonesia juga memperkenalkan tarian tradisional Indonesia di Festival Antar Budaya Friedrichshafen. Tari Indang Badinding dari Sumatra Barat memukau penonton dengan iringan musik yang semakin cepat serta gerakan yang juga cepat dan sinkron dari para penari.

Sosial

Agen pertukaran budaya

Acara-acara budaya seperti festival di kota Friedrichshafen ini menjadi ajang yang dimanfaatkan oleh "Freunde Indonesiens" untuk menjembatani pertukaran budaya Jerman-Indonesia serta memudahkan integrasi bagi masyarakat Indonesia yang hidup di Jerman.

Sosial

Kemeriahan Bajidor Kahot

Tari Bajidor Kahot dengan kostumnya yang warna-warni, sebelum naik panggung saja sudah menarik perhatian banyak pengunjung yang ingin berfoto bersama penari. Ketika tarian ditampilkan, iringan musik gamelan Sunda dan Bali serta liuk gerakan penari membuat penonton bertepuk tangan riuh.

Saat ini saya menguasai lima atau enam tarian. Yaitu tarian yang saya pelajari sejak TK adalah tari Dindin Badindin, tari Pasambahan, saat SMP saya juga menari Serampang 12 di Istana Maimun, Medan. Kemudian puncaknya saat menempuh studi SMA di Yogyakarta saya menari klasik Jawa gaya Keraton Yogyakarta. Saat itu saya berkesempatan latihan menari di Pendopo Ndalem Pujokusuman dan Pendopo Ndalem Kaneman. Beberapa tarian yang saya pelajari yaitu tari Klono Rojo, tari Klono Topeng Sewandono, juga tari Klono Topeng Alus Gunungsari.

Pernahkah tampil di pentas Internasional?

Kebanyakan memang tampil di Jerman. Mulai dari di Frankfurt, Karlsruhe dan yang lumayan sering di Bonn. Di Dortmund, Duisburg, Konstanz serta Köln saya juga pernah beberapa kali tampil. Biasanya saya tampil di taraf universitas. Kalau pada taraf internasional saya pernah lakukan di tahun 2017 ketika ada Konferensi Iklim Internasional (COP 23). Saat itu saya diminta menari dua kali untuk membantu delegasi Indonesia dalam memperkenalkan budaya Indonesia.

Tanggapan masyarakat internasional khususnya Jerman setelah menonton Anda menari?

Mereka memiliki pertanyaan. Karena memang gerakan serta pengertian dari tari itu sendiri berbeda dengan budaya mereka. Kalau tarian dari Indonesia penuh dengan falsafah yang kemudian harus dipikirkan secara mendalam, tidak hanya sekadar hiburan. Jadi sebelum atau sesudah menari kita harus menjelaskan kepada mereka tentang gerakan yang ditarikan. Setelah itu mereka akan mengerti maksudnya. Jadi memang ada gerakan yang harus diterjemahkan.

Tonton video 01:52
Live
01:52 menit
Indonesia | 01.12.2017

Kata Orang Jerman Tentang Indonesia

Menurut Anda seberapa penting memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia Internasional?

Penting sekali. Karena membawa harum nama Indonesia. Selain itu budaya adalah identitas. Sebagai identitas bagi diri sendiri, agar tidak lupa dari mana kita berasal. Tarian juga menjadi obat kangen saya bila saya kangen dengan Indonesia. Dengan budaya adiluhungnya saya bisa merasakan kehangatan budaya Indonesia.

Untuk pentingnya di dunia internasional khususnya Eropa karena Indonesia itu kan negara besar. Namun banyak juga masyarakat negara lain yang belum mengenal Indonesia karena belum ada kesempatan berkunjung. Di sini peran pengenalan budaya Indonesia sangat penting sebagai perwakilan daerah-daerah di Indonesia yang sangat luas agar masyarakat internasional bisa memiliki pengalaman tersendiri.

Harapan untuk tarian-tarian dari Indonesia di kancah Internasional?

Harapan saya akan adanya kaderisasi. Karena beberapa kali teman-teman yang bisa menari mengajarkan tarian di Jerman, lalu saat pulang ke Indonesia dan kembali ke Jerman, ajaran tarian tersebut sudah dilupakan para peserta, dan mereka harus mengajar dari nol lagi. Saya harap kaderisasi itu terus menerus. Dan organisasi mahasiswa-mahasiswi Indonesia itu sangat berperan penting dalam hal ini. Seperti PPI, itu perannya penting sekali untuk jadi wadah kaderisasi tersebut.

Saya juga berharap adanya dukungan pemerintah agar jaringan komunikasi antar seniman Indonesia di Eropa, khususnya seniman tari, terjalin baik. Agar ke depannya di acara-acara budaya, Indonesia bisa selalu hadir untuk unjuk gigi.

Pendidikan

Ikuti organisasi kegiatan positif

Salah satu cara agar punya banyak teman dan jaringan di luar negeri adalah dengan mengikuti berbagai organisasi yang positif. Putri misalnya, pernah aktif selama satu tahun di Bonn International Model of United Nation. Di sini, Putri yang sedang mendalami Ilmu Politik di Universitas Bonn mengaku banyak belajar dan bekerja sama secara profesional dengan mahasiswa asing dan mahasiswa Jerman.

Pendidikan

Berani memulai

Beberapa orang memang sangat pemalu. Tapi Putri menyarankan untuk mengatasi sifat ini dan berani mengambil inisiatif awal. Pertemanan bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti bertanya apakah boleh ikut di kegiatan sederhana seperti mengerjakan tugas kuliah bersama atau "boleh tidak ikut masak-masak bareng?" ujarnya mencontohkan.

Pendidikan

Tidak "terlalu diambil hati"

Dalam interaksi sehari-hari terkadang timbul kesalahpahaman akibat perbedaan budaya dan gaya berkomunikasi. Mahasiswi tingkat tiga ini menyarankan agar tidak terlalu serius memikirkan itu semua sehingga jadi beban. "Jangan terlalu diambil hati. Kadang orang tidak menyapa bukan karena sedang marah kepada kita. Bisa jadi karena capek atau sedang buru-buru."

Pendidikan

Ramah tapi hargai privasi

Sama seperti di Indonesia, salah satu hal yang bisa mengawali persahabatan adalah senyuman. Jadi saran Putri, bersikap ramah dan terbukalah kalau ingin punya banyak teman. Namun ia mengingatkan bahwa: "Yang khas di Jerman kita sangat menghargai privasi. Di sini contoh kecilnya kita tidak pernah mengunci pintu kamar. Tapi kalau ingin masuk ke kamar orang lain harus ketuk pintu dulu."

Pendidikan

Punya pendirian

Putri mengakui kalau hal yang paling berbeda dari pergaulannya di Jerman adalah mereka sering kumpul bersama di bar, minum bir atau anggur. "Tapi kita tidak harus ikut-ikutan minum alkohol kalau tidak mau. Pada dasarnya orang Jerman akan menghargai pendirian kita," kata mahasiswi asal Jakarta itu.

(yp/ts)

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.