1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rumah Aman untuk Perempuan dan Anak Korban Kekerasan di Aceh

Ayu 'Ulya (Aceh)
20 April 2022

Korban kekerasan seksual kerap diusir dan dicap sebagai pembawa petaka di Aceh. "Bahkan aksi menaungi korban pun dianggap perbuatan tercela," papar Umi Hanisah Abdullah, ulama perempuan Aceh.

https://p.dw.com/p/4A6hs
Rumah aman bagi korban KDRT dan kekerasan seksual di Aceh
Rumah aman bagi korban KDRT dan kekerasan seksual yang didirikan Umi Hanisah di AcehFoto: A. Ulya/DW

Mushala yang didominasi warga hijau itu dipenuhi puluhan santri yang sedang khusyuk mengaji. Salawat dan doa dilantunkan menyambut kedatangan malam Nisfu Sya'ban yang dipercaya sebagai masa pergantian buku amal umat muslim di dunia. Kehadiran malam istimewa itu pun turut dimeriahkan dengan pergelaran syukuran makan malam bersama.

"Saat diusir dulu, bersama Umi ada 25 orang anak yatim-piatu," ujar Umi Hanisah Abdullah, 53, mengisahkan lika-liku perjuangannya dalam mendirikan pesantren tradisional (dayah) berkonsep rumah aman di Aceh Barat.

Umi Hanisah tidak menyangka niat baiknya menaungi penyintas kekerasan menyebabkan pengusiran dan mengharuskannya keluar dari pesantren yang dia bangun dan pimpin selama nyaris satu dasawarsa. Dayah pertama yang didirikan Umi Hanisah di wilayah Padang Mancang, Aceh Barat, pada mulanya bertujuan menaungi anak-anak korban konflik dan bencana tsunami. Seiring waktu, pesantren tersebut merangkap fungsi sebagai rumah singgah sementara bagi perempuan dan anak korban kekerasan.

Menurut Umi Hanisah, anak-anak penyintas kekerasan tidak aman berada di rumah mereka sebab kebanyakan pelaku adalah orang-orang terdekat. Sementara bagi anak-anak korban kekerasan seksual, tantangan yang mereka hadapi jauh lebih berat. Warga desa tempat para korban tinggal masih sering mengusir mereka karena kekerasan seksual masih disalahartikan dengan tindakan asusila semacam zina, jelas ulama perempuan Aceh tersebut menyayangkan.

"Anak-anak korban kekerasan seksual ke mana-mana hadir diusir. Sebab dilabel sebagai pembawa petaka. Bahkan aksi menaungi korban pun dianggap perbuatan tercela," papar Umi Hanisah kepada DW Indonesia.

Bagi sang pimpinan dayah tersebut, rendahnya pemahaman masyarakat terkait isu kekerasan seksual kerap menjadi bumerang bagi rumah aman di Aceh. Menurutnya, para warga menganggap kehamilan di luar nikah sebagai aib. Stigma ini juga kuat melekat pada korban kekerasan terutama perempuan, terlepas dari fakta bahwa sang anak bisa jadi merupakan korban pemerkosaan atau bahkan korban inses keluarganya. Pemikiran semacam inilah yang membuat Umi Hanisah terusir dari dayah yang ia dirikan pada tanggal 10 Oktober 2000 itu.

Pantang menyerah, bangun rumah aman baru

Tidak satu pun santri yang rela ditinggal pergi Umi Hanisah. Sehingga mereka pun memutuskan untuk bersama-sama meninggalkan dayah menuju lokasi baru di Desa Meunasah Buloh, Kabupaten Aceh Barat. Hingga kini, desa tersebut menjadi lokasi berdirinya Dayah Diniyah Darussalam yang beroperasi sebagai dayah, sekolah, sekaligus rumah aman penyintas kekerasan dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

"Umi katakan ke anak-anak, 'Kalian jangan resah. Fokus saja mengaji, belajar, dan sekolah. Harus semangat. Selebihnya, biar saya dan para guru yang pikirkan,' begitu," papar sang Teungku Inong tesebut.

Teungku Inong adalah sebutan yang disematkan untuk perempuan ulama di Provinsi Aceh. Mereka umumnya berprofesi sebagai pimpinan pesantren tradisional (dayah), pengajar Al-Qur'an dan hadis, hingga penceramah, dan biasanya memiliki sejumlah jemaat.

Umi Hanisah mengisahkan bahwa ketahanan dan perkembangan Dayah Diniyah Darussalam tidak terlepas dari dukungan rasa aman dan andil masyarakat Desa Meunasah Buloh. Dia menjelaskan bahwa kehadirannya dan para santri disambut hangat oleh masyarakat setempat. Bahkan masyarakat terjun langsung bergotong-royong membuatkan balai-balai pengajian bagi para santri, jelasnya. 

Umi Hanisah Abdullah dari Aceh
Sempat diusir karena menaungi anak korban kekerasan seksual, Umi Hanisah Abdullah dari Aceh pantang menyerah. Ia pindah dan kembali mendirikan rumah aman di Desa Meunasah Buloh, Kabupaten Aceh BaratFoto: A. Ulya/DW

Kini Dayah Diniyah Darussalam memiliki sekitar 30 santri yang menetap sepenuhnya di dayah dan sekitar 200 santri khusus pengajian di malam hari. Kebanyakan santri dayah berasal dari keluarga miskin, anak yatim piatu, dan korban kekerasan.

Umi Hanisah mengutarakan bahwa rumah aman yang ia kelola melindungi dan menampung korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual, baik laki-laki maupun perempuan. Dia menjelaskan bahwa rumah aman memfasilitasi para korban agar merasa aman dan membantu mereka bangkit dari keterpurukan.

"Korban kekerasan, terutama anak-anak, harus kita rangkul dan bina. Kita beri semangat agar kembali percaya diri. Memberi kesempatan belajar agar berhasil berdiri di kaki sendiri," jelasnya.

Umi Hanisah juga menyarankan kepada siapa pun yang berniat mendirikan rumah aman agar turut mempersiapkan ketahanan fisik dan mental personal. Dia menilai penting bagi pengurus rumah aman membangun jejaring pertemanan yang luas, saling merangkul dan bekerja sama, agar tidak merasa kesepian dalam berjuang. Sebab menurutnya, tantangan dan tekanan dalam proses melindungi dan mengayomi para korban kasus kekerasan tidaklah selalu mudah.

"Memperjuangkan kebenaran memang banyak tantangannya. Tidak perlu sedih atau pun marah apalagi kalau orang-orang yang menentang kita tidak berilmu pengetahuan. Jadi didoakan saja," pesan Umi Hanisah yang sempat mengenyam pendidikan agama selama satu dekade di Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Belajar dari negara tetangga

Beberapa tahun lalu, saat menerima undangan pelatihan kepemimpinan di Filipina dan Australia, Umi Hanisah terkesima dengan penerapan sistem dukungan yang disediakan bagi perempuan dan anak yang mengalami kasus pelecehan atau kekerasan di kedua negara tersebut. Dia menilai betapa ajaran Islam terkait akhlaq atau moral diterapkan dengan baik justru di negeri yang mayoritas masyarakatnya bukan muslim. 

Umi Hanisah terinspirasi saat melihat pos-pos pelaporan khusus kasus kekerasan yang mudah diakses di Filipina. Menurutnya, keterbukaan dan kemudahan akses pelaporan serta permintaan pertolongan bagi korban kasus kekerasan sangat dibutuhkan. Adapun di Australia, sang ulama perempuan Aceh ini melihat langsung bagaimana keamanan dan kesejahteraan para perempuan dan anak diprioritaskan.

"Kalau di Aceh, korban kekerasan terselubung. Lelah kita tangani, kita pula yang diancam," imbuh ulama perempuan yang aktif di Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh ini. 

Harapan bagi para korban kekerasan seksual

Teungku Nirwan, 25, adalah satu dari sekian banyak bukti keberhasilan tak tertulis dari kehadiran rumah aman Dayah Diniyah Darussalam. Dia pertama kali menginjakkan kakinya di dayah pada usia sekolah menengah pertama.

Bertahun-tahun menetap dan belajar agama di pesantren tradisional, dia berhasil pula meraih gelar sarjana pendidikan formal bahasa Arab di STAIN Meulaboh. Kini perempuan yang sebelumnya menerima perlindungan disebabkan kasus kekerasan yang menimpanya dulu telah bertransformasi menjadi seorang pendidik sekaligus pemberi perlindungan dan rasa aman bagi santri lainnya.

"Di sini kita bisa belajar untuk diri sendiri. Terus ketika bersama anak-anak, mengajarkan mereka, stres kita jadi hilang. Makin semangat," ucap Teungku Inong Dayah Diniyah Darussalam tersebut.

Teungku Nirwan berpendapat bahwa dayah tempatnya belajar sekaligus mengajar itu terasa istimewa karena selalu mengupayakan penerapan ilmu yang serupa laku. Baginya, Dayah Diniyah Darussalam merupakan rumah aman yang bukan semata wacana sebab pemahaman keilmuan agama berperspektif adil gender diterapkan dengan baik di dayah tersebut.

Menurut pemimpin agama perempuan itu, pendidikan dan pengamalan merupakan dua komponen utama yang dapat membantu para santri berkembang menjadi lebih baik. Dia menambahkan bahwa penerapan akhlaqul karimah akan melatih jiwa sosial mereka untuk peduli dan memiliki empati terhadap makhluk hidup lainnya. Sehingga tak mengherankan kalau Dayah Diniyah Darussalam di bawah pimpinan Umi Hanisah kini menjadi rujukan pesantren-pesantren lainnya dalam menangani korban KDRT dan kekerasan seksual.

"Teruslah berbuat kebaikan, walau kecil. Juga perbanyak membaca kisah-kisah perjuangan para rasul, sahabat, dan perempuan-perempuan hebat lainnya," pesan Teungku Nirwan menutup pembicaraan. (ae)