Serunya Menjadi Mahasiswa Erasmus di Spanyol

Makan malam jam 9 malam, pejalan kaki diutamakan dan sulit komunikasi karena bahasa Inggris tidak umum di Spanyol. Itu adalah beberapa pengalaman tak biasa untuk Irwan Oyong, mahasiswa Erasmus asal Indonesia di Spanyol.

Irwan Oyong adalah mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang kini sedang menjalani program pertukaran mahasiswa di Murcia, Spanyol. Mahasiswa semester 5 jurusan Magister Teknik Informatika ini adalah wakil dari Indonesia dalam program Erasmus+ International Credit Mobility. Bagaimana pengalamannya menjadi bagian dari pertukaran mahasiswa Erasmus di Murcia, Spanyol? Berikut bincang-bincang DW dengan Irwan.

DW: Bisa kamu ceritakan secara singkat tentang program Erasmus+ International Credit Mobility ini?

Irwan: Erasmus+ International Credit Mobility adalah program mobilitas pendidikan tinggi jangka pendek untuk pelajar S1, S2 dan kandidat PhD selama 3 sampai 12 bulan. Program ini juga terbuka untuk staf pengajar dan administrasi, yang bisa mengikuti program ini selama lima hingga 60 hari. Indonesia merupakan salah satu partner countries dan Universitas AMIKOM Yogyakarta adalah salah satu home institution yang ada di Indonesia.

Bagaimana awalnya kamu mengetahui tentang kesempatan menjadi mahasiswa Erasmus di Murcia?

Perjalanan saya dimulai dari informasi yang datang dari salah satu dosen Magister Informatika di Universitas AMIKOM Yogyakarta, yaitu Ibu Dr. Kusrini, M.Kom. Pemanggilan ini merupakan salah satu proses dari seleksi bersama Universitas AMIKOM, yang kemudian dilanjutkan oleh International Relation Office dari Universitas Murcia sebagai tuan rumah dari program Erasmus+ International Credit Mobility ini. Tentunya saya merasa senang dan sekaligus kaget dengan kepercayaan yang diberikan, tetapi saya mencoba mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik untuk proses seleksi berikutnya, and here I am!

Pendidikan

Mahasiswa IT di Spanyol

Irwan Oyong, mahasiswa program magister Teknik Informatika di Universitas AMIKOM, Yogyakarta, mendapat kesempatan menjalani program Erasmus+ International Credit Mobility di Spanyol. Program ini memungkinan mahasiswa dari seluruh dunia untuk bisa kuliah selama 3 hingga 12 bulan di salah satu universitas di negara Uni Eropa.

Pendidikan

Spanyol sebagai tuan rumah

Universitas Murcia, Spanyol adalah tuan rumah (host institution) dari program Erasmus+ International Credit Mobility. Irwan terdaftar sebagai mahasiswa Erasmus di Fakultas Informatika, Universitas Murcia untuk semester musim dingin 2018/2019, yakni dari September 2018 hingga Februari 2019.

Pendidikan

Fokus bidang informatika Spanyol

Selama menjadi mahasiswa Erasmus, Irwan mengambil empat mata kuliah, yaitu Semantic Web, Technologies for Developing Ubiquitous System, Principal of Secure Communications dan Mathematical Foundation of Computer Vision and Imaging. Menurut pengalamannya, fokus utama Universitas Murcia di bidang Informatika adalah mengarahkan pembelajaran kepada penerapan di bidang Biomedicine/Medical Informatic.

Pendidikan

Hubungan yang erat dengan sesama mahasiswa Erasmus

Pada foto Irwan (paling kanan) berpose dengan sesama mahasiswa Erasmus di Universitas Spanyol. Mereka memiliki hubungan erat karena memiliki banyak kepentingan yang sama, mulai dari mengikuti sesi orientasi, mendaftarkan diri di sekretariat kampus hingga membuka rekening bank Spanyol. Mereka saling membantu karena sebagian besar belum familiar dengan negara Spanyol atau Eropa.

Pendidikan

Bahasa Inggris tidak umum di Murcia

Dari berbagai pengalaman menyenangkan menjadi mahasiswa Erasmus di Spanyol, tentu Irwan juga menghadapi tantangan. Tantangan itu adalah bahasa. Mahasiswa Erasmus yang mendapat pelajaran bahasa Spanyol selama dua minggu, harus cepat belajar dan membiasakan diri menggunakan bahasa Spanyol agar dapat lebih baik berkomunikasi dengan petugas publik maupun masyarakat lokal. (Ed:na/ts)

Apa saja persyaratan yang harus kamu penuhi?

Seleksi yang dilakukan oleh pihak Erasmus+ dari Universitas Murcia merupakan seleksi yang bersifat document-based. Hal ini terlihat lebih mudah dari proses wawancara atau pun tes tertulis, namun juga berarti bahwa pemohon diminta untuk mempersiapkan dokumen dengan sebaik mungkin.

Persyaratan dokumen yang perlu dipenuhi adalah paspor yang masih berlaku, curriculum vitae (CV) dalam format Europass, bukti terdaftar sebagai mahasiswa di home institution, transkrip nilai sementara, transkrip nilai S1 karena kebetulan saya mendaftar untuk program studi S2, Letter of Motivation (LoM), sertifikat TOEFL/kemampuan bahasa Inggris yang memenuhi syarat akademis dari program ini -untuk kasus saya kemarin minimal adalah level B1-, dan sertifikat bersifat akademis atau sertifikat bukti keikutsertaan program mobilitas lainnya. Selain itu, untuk berhak mengikuti program ini, pemohon diharuskan terdaftar di salah satu home institution dan telah menyelesaikan tahun pertama dari studinya.

Dalam proses memenuhi semua persyaratan yang diminta, bagian mana yang paling memakan banyak waktu? Kenapa?

Dari semua persyaratan, mungkin yang paling banyak memakan perhatian itu CV dan LoM ya. Karena saya merasa bahwa prestasi akademis antara satu pemohon dan yang lainnya tidak akan jauh berbeda, sehingga dari kedua persyaratan inilah (CV dan LoM) saya harus bisa lebih menonjol dan meyakinkan mereka bahwa saya layak untuk menerima kesempatan ini. Meskipun menulisnya dapat dilakukan dalam waktu sebentar, tetapi membangun dan menyiapkan CV yang baik dan berkualitas membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Sosial

Lembaga pertukaran akademis Jerman

Tiap tahunnya, DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) mendukung lebih dari 100.000 mahasiswa dan peneliti Jerman dan internasional dalam studi dan riset mereka. DAAD berkantor pusat di Bonn, Jerman dan memiliki kantor perwakilan di seluruh dunia. Salah satunya di Jakarta, Indonesia.

Sosial

Beasiswa untuk Indonesia

Banyak program beasiswa pendidikan tinggi yang disediakan DAAD untuk WNI. Fathoni A. Musyaffa adalah salah satu penerima beasiswa asal Indonesia di Bonn, yang tergabung dalam program beasiswa DAAD "Research Grants - Doctoral Programmes in Germany".

Sosial

Menjadi peneliti di Institut Informatika

Dengan beasiswa dari DAAD, Fathoni menjalani studi S3 di jurusan Informatika, Universitas Bonn. Risetnya memiliki fokus di bidang "semantic web" dan "linked and open data".

Sosial

Kolaborasi riset dengan peneliti Uni Eropa

Salah satu keunggulan studi di Jerman adalah adanya kesempatan untuk melakukan kolaborasi riset dengan rekan peneliti dari berbagai negara di Uni Eropa. DAAD mendukung penuh riset-riset yang dilakukan oleh peneliti Jerman dan internasional.

Sosial

Komitmen kuat adalah kunci

Sebagai dosen di salah satu universitas di Indonesia, Fathoni melihat pentingnya upaya meningkatkan kompetensi diri dengan melanjutkan studi di jenjang S3. Bagi Fathoni, komitmen kuat adalah kunci untuk memenangkan beasiswa studi di luar negeri, baik komitmen untuk menyiapkan berbagai persyaratan administratif maupun komitmen untuk mendalami bidang riset yang diminati.

Sosial

Banyak diteliti di Jerman

Bidang "semantic web" yang diminati Fathoni banyak diriset di Jerman. Oleh karena itu, sebelum melamar beasiswa DAAD, Fathoni sudah menyiapkan diri dengan ikut kursus online tentang bidang ini serta bergabung di berbagai forum internet untuk mengetahui informasi terkait beasiswa atau lowongan posisi Ph.D di universitas di Jerman.

Sosial

Komunikasi antarbudaya

Dengan beasiswa DAAD, Fathoni bukan hanya memiliki peluang emas meningkatkan wawasan ilmiahnya, melainkan juga kemampuan komunikasi antarbudaya. DAAD juga mendanai kegiatan di luar kampus untuk para penerima beasiswa. Di gambar, Fathoni bersama teman-temannya berada di acara budaya "Malam Indonesia" di Bonn, yang disponsori DAAD.

Apa tips dan trik yang bisa kamu bagikan untuk sahabat DW yang akan melamar beasiswa terutama agar CV dan LoM bisa berkesan?

Dengan asumsi bahwa selalu ada yang lebih baik di bidang akademik standar, maka diperlukan usaha lebih untuk dapat menonjol dan berbeda dari pemohon lainnya. Selain memiliki transkrip nilai yang baik, berusahalah untuk mengikuti kegiatan atau program di luar akademik standar, seperti pengembangan diri, proyek sosial dan menulis publikasi akademik yang dipresentasikan di konferensi nasional maupun internasional, karena hal-hal tersebut akan menjadi komponen pembangun yang mencolok di CV kita. Meskipun kita tidak pernah tahu kriteria utama yang dipakai oleh penyeleksi di setiap programnya, tetapi mencari pengalaman sebanyak-banyaknya tidak akan pernah sia-sia.

Sekarang mari berbicara tentang pengalamanmu di Spanyol. Ketika sudah sampai di Murcia, apa 'culture shock' yang kamu alami?

Wah banyak! Mulai dari yang sederhana seperti jam makan, terutama makan siang jam 14:00 dan makan malam jam 21:00. Perlu waktu sekitar satu minggu untuk saya bisa menyesuaikan dan mengikuti tempo pengisian perut mereka.

Kemudian satu syok positif yang saya alami adalah sangat didahulukannya pejalan kaki. Karena memang di sini penggunaan kendaraan pribadi bukanlah hal yang umum. Transportasi publik sudah sangat cukup untuk mengantarkan kita ke seluruh pelosok Murcia, sehingga dari situ juga timbullah kebiasaan yang sehat, yaitu jalan kaki ke mana-mana dan hilangnya ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Hal lain yang masih menjadi salah satu kesulitan saya adalah gap bahasa. Penggunaan bahasa Inggris bukanlah hal yang umum di negara ini, sehingga saya harus cepat belajar dan membiasakan diri menggunakan bahasa Spanyol agar dapat lebih baik berkomunikasi dengan petugas publik maupun masyarakat lokal.

Lalu sulitnya mencari makanan berbahan dasar nasi, berkuah, berbumbu kuat, dan pedas! Untungnya saya membawa beberapa bahan makanan dari Indonesia untuk menemani saya perlahan-lahan membiasakan diri dengan cita rasa makanan Spanyol yang tentunya sangat berbeda dengan makanan Asia terutama Indonesia. Tetapi setelah lidah saya terbiasa dengan makanan Spanyol yang ada, wah, está bueno!

Sosial

Lagu nasional tanpa lirik

Lagu kebangsaan Spanyol “Marcha Real” tidak berlirik. Meski demikian, ada enam aransemen resmi untuk lagu nasional negeri Matador itu. Kontes membuat lirik lagu kebangsaan pernah digelar tahun 2007. Tapi tampaknya, warga Spanyol tetap ingin mempertahanankan posisi mereka sebagai satu dari empat negara di dunia yang lagu kebangsaannya tidak memiliki teks.

Sosial

Nasi Spanyol

Sebutannya di luar negeri boleh jadi Nasi Spanyol, namun aslinya “spanish rice” ini adalah makanan khas Meksiko. Nasi Spanyol umumnya berwarna merah, dengan campuran tomat dan cabai. Jadi jangan sampai salah, sebab nasi yang dianggap sebagai makanan nasional Spanyol justru yang disebut "Paella" dan berwarna kuning (foto).

Sosial

Sagrada Familia: karya yang tak pernah usai

Basilika i Temple Expiatori de la Sagrada Familia, itulah nama lengkap Katedral yang terletak di jantung kota Barcelona. Sama seperti namanya, masa pembangunan gereja yang didesain Antoni Gaudi ini juga panjang: Proses pembangunannya sudah lebih dari 130 tahun dan rencananya baru akan rampung tahun 2026.

Sosial

Penuh sesak turis

Jumlah turis yang datang ke Spanyol jauh lebih banyak daripada penduduk lokal. Pada tahun 2016 tercatat 75 juta orang mengunjungi Spanyol. Bandingkan dengan populasinya yang hanya berkisar 46 juta. Posisi teratas diduduki turis asal Inggirs, Perancis dan Jerman.

Sosial

Raja termuda

Raja termuda yang pernah tercatat dalam sejarah adalah Alfonso XIII. Ia lahir pada 17 Mei 1886 dan langsung dilantik jadi Raja Spanyol. Meski berkuasa sejak masih menggunakan popok, Alfonso XIII justru membawa Spanyol ke era kehancuran. Di akhir masa jabatan Alfonso, Spanyol kehilangan koloni terakhirnya dan sistem monarki direbut oleh rezim diktator militer.

Sosial

Festival Penyiksa Binatang

Warga Spanyol gemar merayakan festival. Setiap tahun ada 16 ribu festival keagamaan yang dirayakan di seluruh Spanyol. Sayangnya, festival berskala lokal ini kerap mengandung unsur penyiksaan binatang. 60 ribu binatang diperkirakan terbunuh setiap tahun dalam festival itu. Salah satu yang paling populer adalah festival banteng "San Fermin" di Pamplona.

Sosial

Perang Tomat

Ribuan kilo tomat jadi amunisi perang selama satu jam dalam festival "La Tomatina" di desa Buñol di selatan Spanyol. Puluhan ribu turis datang ke acara yang digelar tiap tahun itu. Agar tidak membuat cedera, biasanya tomat dipenyet dulu sebelum dilemparkan. Tahun 2017 ini festival digelar 30 Agustus.

Sosial

Desa Paling Beruntung Sedunia

Warga Sodeto, desa berpenduduk 250 orang di Spanyol, menjadi orang paling beruntung di dunia pada malam Natal 2011. Foto warga yang bersuka ria menjadi halaman depan koran lokal hingga media massa dunia. Mereka disebut sebagai jutawan baru sebab penduduk desa ini memenangkan lotere Natal "El Gordo" dan meraup 950 juta dollar AS atau sekitar 12 triliun Rupiah.

Sosial

Rompi neon untuk tuna susila

Di daerah Catalonia, sebelah timur Spanyol, para pekerja seks komersial harus menggunakan rompi khusus yang memantulkan cahaya neon. Tujuannya agar mereka terhindar dari bahaya kecelakaan saat bekerja di jalanan yang gelap. Bagi yang tidak taat akan didenda sebesar 40 euro atau 600 ribu.

Sosial

“Hari Tanpa Baju Renang”

Telanjang di tepi pantai adalah hal wajar dan legal di Spanyol. Mereka bahkan memiliki “Hari Tanpa Baju Renang” pada saat tertentu di musim panas. Meski berjemur telanjang bisa dilakukan hampir di setiap pantai, bahkan di desa kecil sekalipun, pengunjung harus jeli karena beberapa kota memiliki aturan yang berbeda-beda.

Bagaimana pengalaman dengan teman-teman asing (sesama mahasiswa Erasmus) dan teman-teman mahasiswa lokal?

Sangat menyenangkan, ya. Awal mulanya kita banyak bergaul dengan sesama mahasiswa Erasmus karena punya banyak kepentingan yang sama, mulai dari mengikuti sesi orientasi, mendaftarkan diri di sekretariat kampus hingga membuka rekening bank Spanyol. Kami saling membantu karena sebagian besar belum familiar dengan negara Spanyol, bahkan benua Eropa. Sedangkan untuk mahasiswa lokal, kita punya lebih banyak waktu karena rutin bertemu di kelas. Dari apa yang saya alami, mahasiswa lokal di sini sangatlah baik dan terbuka untuk memberikan bantuan, terutama dari segi bahasa. Mereka bahkan menawarkan diri untuk membantu mengerjakan tugas.

Jika boleh dibandingkan, apa hal yang bisa ditiru Indonesia atau apa yang bisa universitas di Indonesia lakukan lebih baik dalam bidang pendidikan terutama dalam jurusan studi kamu?

Secara umum, menurut saya proses belajar mengajar kurang lebih sama ya. Tetapi yang cukup berbeda dan saya sangat yakin bisa diadaptasi dengan baik adalah penunjang administrasi dan akademiknya. Universitas Murcia memiliki sebuah sistem informasi bernama Aula Virtual, yang mencakup hampir segala sesuatu yang dibutuhkan mahasiswa yang berhubungan dengan proses belajar mengajar. Mulai dari penyebaran berbagai pengumuman, penjadwalan kelas, manajemen dan penyampaian tugas, manajemen dan penyampaian ujian, juga panel percakapan global maupun personal. Hampir dua  bulan saya mengikuti perkuliahan, belum ada penggunaan kertas untuk penyampaian tugas karena semuanya dilakukan secara digital. Sistem ini terbagi untuk setiap mata kuliah yang kita ikuti, sehingga saya rasa komunikasi antara dosen dan mahasiswa tidak bisa terjalin lebih baik lagi dari ini. Dengan diterapkannya sistem seperti ini, secara tidak langsung mahasiswa dituntut untuk mandiri dan terus aktif mencari informasi karena yang dapat membantu dirinya dalam hal ini adalah dirinya sendiri.

Budaya

"Bebas Bayaran" Sifatnya Relatif

Universitas Jerman hanya bebas bayaran jika calon mahasiswa yang mendaftar ke universitas negeri juga diterima oleh universitas itu. Selain itu, calon mahasiswa juga bermaksud untuk berkuliah dalam kondisi seperti warga Jerman biasa. Itu berarti: menghadapi tantangan yang sama. Program studi yang lain dari itu, atau di universitas swasta, kualitasnya juga bagus, tetapi tidak bebas biaya dan mahal.

Budaya

Mahasiswa dan Kerja Sampingan

Visa mahasiswa membatasi jumlah waktu yang boleh digunakan untuk bekerja. Bagi mahasiswa tanpa paspor Uni Eropa, batasnya 120 hari per tahun. Dalam semester kuliah hanya boleh bekerja 20 jam per minggu. Tetapi biaya hidup di Jerman lebih murah daripada di banyak kota AS dan Inggris. Sebaiknya tidak mencoba kerja gelap. Ada risiko eksploitasi, dan jika tertangkap bisa dideportasi.

Budaya

Melamar Beasiswa

Di Jerman banyak ditawarkan beasiswa bagi mahasiswa asing di berbagai bidang. Jika berprestasi baik dan ulet mencari beasiswa, kesempatan bisa diperoleh. DAAD adalah lembaga negara Jerman yang memberikan beasiswa paling banyak bagi mahasiswa asing. Yayasan yang memberi beasiswa dengan spesifikasi tertentu juga banyak.

Budaya

Masalah Visa

Mahasiswa dari negara bukan anggota Uni Eropa kerap hadapi masalah visa. Tiap orang bertanggungjawab sendiri untuk mengurus asuransi kesehatan, buktik emampuan menunjang hidup secara finansial, temukan tempat tinggal, daftarkan diri pada kantor wilayah, buat janji soal perpanjangan visa, dan dokumen lainnya. Bagi banyak negara, masalah ini sudah dimulai saat meminta visa di kedutaan besar Jerman.

Budaya

Menanggulangi Banyak Formulir

Orang harus bersedia mengisi formulir. Sebaiknya biasakan diri dengan kata-kata birokratis Jerman. Juga organisir semua surat, lengkap dengan fotokopinya, mulai dari urusan visa sampai bayar sewa kamar. Triknya: jika dapat surat resmi, kirim kembali surat resmi yang lebih banyak lagi. Begitu saran Leah Scott-Zechlin, yang pernah kuliah di Berlin, dan veteran "Papierkrieg" (perang kertas).

Budaya

Bisa Bahasa Jerman Sangat Membantu

Tentu di kota besar orang asing bisa tinggal tanpa bisa bahasa Jerman. Sebagian program studi juga ditawarkan dalam bahasa Inggris. Tetapi setiap aspek hidup lebih mudah jika bisa bahasa Jerman, baik untuk bicara dengan petugas negara, maupun untuk bersosialisasi dengan orang Jerman. Kalau ingin bekerja, kemampuan berbahasa Jerman jadi aset sangat besar di pasaran tenaga kerja.

Budaya

Universitas Tidak Menuntun Mahasiswa

Di Jerman mahasiswa tidak dibimbing seperti di sekolah. Sepenuhnya tergantung tiap mahasiswa asing untuk bisa jalani hidup di negara asing, datang ke kuliah dan belajar. Mata kuliah ada yang berkesan sangat bebas. Terserah mahasiswa, apakah serahkan pekerjaan rumah, berpartisipasi dalam kuliah atau tidak. Sebagian mata kuliah tergantung sepenuhnya pada ujian akhir atau makalah di akhir semester.

Budaya

Masalah Tempat Tinggal

Asrama mahasiswa ada di banyak kota. Tetapi untuk dapat tempat kadang sulit. Di samping asrama, mahasiswa Jerman juga sering tinggal di Wohngemeinschaft (WG). Dalam sistem ini, beberapa mahasiswa bersama-sama menyewa sebuah apartemen. Tiap orang dapat satu kamar. Dapur dan kamar mandi biasanya digunakan bersama. Ini cara baik untuk bersosialisasi dengan orang Jerman dan memperbaiki bahasa Jerman.

Budaya

Mencari Saran

Tinggal dan belajar di luar negeri kerap butuh tanggung jawab tinggi. Dan kadang orang merasa harus berjuang sendirian menghadapi banyak tantangan. Tapi tidak usah khawatir. Anda bukan mahasiswa asing pertama di Jerman. Sumber informasi dan saran kerap bisa ditemukan di internet. Untuk yang berbahasa Inggris ada forum "Toytown Germany".

Budaya

Mungkin Ingin Tinggal Selamanya

Mungkin Anda jadi individu yang tahu cara peroleh kesempatan terbaik dalam hidup: kuliah beberapa tahun di Jerman, raih gelar, mungkin kerja sedikit, lalu kembali ke tanah air dan dapat penghasilan tinggi. Bisa jadi begitu. Bisa jadi juga, Anda jatuh cinta dengan Jerman, sehingga hadapi dilema untuk mengucapkan "Tschüß" (selamat tinggal) selamanya kepada tanah air, atau rindu Jerman seumur hidup.

Dari semua mata kuliah yang kamu ambil di sini, apakah mata kuliah tersebut tidak diajarkan di Indonesia, atau kalau ya, apakah ada perbedaan mencolok?

Di program ini saya mengambil empat mata kuliah, yaitu Semantic Web, Technologies for Developing Ubiquitous System, Principal of Secure Communications dan Mathematical Foundation of Computer Vision and Imaging. Dari yang saya ketahui memang ada beberapa mata kuliah yang berbeda ya antara jurusan Teknik Informatika di Indonesia dan di Spanyol, karena disesuaikan dengan tren dan konsentrasi kurikulum dari setiap universitas. Yang saya alami, fokus utama Universitas Murcia di bidang Informatika adalah mengarahkan pembelajaran kepada penerapan di bidang Biomedicine/Medical Informatic. Dan bagi saya itu sangat lah keren!

Apa yang akan kamu bawa/bagikan ke Indonesia atau khususnya ke AMIKOM jika nanti kamu menyelesaikan program ini dan kembali ke Indonesia? Apakah ada rencana konkret?

Tentunya saya akan berusaha mengumpulkan segala sesuatu yang saya dapati lebih baik di sini, baik itu hal akademik maupun administratif yang saya rasakan sebagai mahasiswa. Seperti tren penerapan studi ke dunia nyata, penunjang proses belajar mengajar antara dosen dan mahasiswa, proses administrasi yang saya dapati lebih efektif dan hal lainnya yang akan saya temui nanti. Agar semuanya ini dapat menjadi masukan untuk Indonesia dan Universitas AMIKOM Yogyakarta khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tingginya, yang mana hal ini juga menjadi salah satu tujuan dari diadakannya program Erasmus+ International Credit Mobility ini.

Selain itu selama masa studi di sini saya juga akan berusaha mengumpulkan informasi tentang kerja sama yang bisa ditingkatkan antara Indonesia, Universitas AMIKOM Yogyakarta, Universitas Murcia dan Erasmus+ agar ke depannya lebih banyak lagi mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan apa yang sudah saya dapatkan. Karena saya yakin perjalanan ini akan menjadi salah satu semester terpenting dalam kehidupan saya dan besar harapan agar lebih banyak teman-teman lain yang beruntung untuk bisa mendapatkannya!

Budaya

Raja dengan Gelar Akademis

Ia raja yang baru. Felipe dimahkotai sebagai Raja pada hari Kamis, 19 Juni 2014. Ayahnya pernah mengatakan, "Ia akan jadi raja yang paling siap untuk mengepalai negara." Felipe jadi raja pertama Spanyol yang punya gelar akademis. Pria berusia 46 tahun itu pernah kuliah hukum di Madrid, dan mendapat gelar master untuk hubungan internasional di AS.

Budaya

Tenang dan Pintar

Raja baru Spanyol ini cerdas dan suka humor. Di lain sisi ia juga dianggap kurang menunjukkan kepribadiannya dan pemalu. Berbeda dengan ayahnya Juan Carlos, ia tak pernah terlilit dalam Skandal.Rakyat menyukai Felipe. Bersama ibunya, Sofía, ia jadi anggota keluarga raja yang paling disukai. Tapi itu juga berkat istrinya Letizia, yang penuh gairah hidup.

Budaya

Ketika Masih Digendong

Ini foto Juan Carlos de Borbon dengan anaknya Felipe tahun 1969. Konstitusi yang diresmikan 1978, menandai berakhirnya masa kediktaturan Franco yang berlangsung 36 tahun, dan Spanyol memilih monarki berparlemen sebagai bentuk negara. Ketika itu, menurut peraturan, yang bisa jadi raja hanya keturunan laki-laki. Sehingga Felipe, yang lahir setelah kakaknya Elena dan Cristina, jadi putra mahkota.

Budaya

Akhir Pekan untuk Keluarga

Felipe juga menyediakan waktu akhir pekan bagi keluarganya, yaitu istrinya Letizia, dan kedua putrinya, Leonor dan Sofía. Sejauh ini, Felipe menjaga kedua putrinya dari sorotan publik. Tapi itu bisa berubah dalam waktu singkat. Karena setelah pemahkotaan Felipe, putrinya Leonor jadi putri mahkota, dan yang termuda di seluruh Eropa.

Budaya

Peran Baru

Ratu dari rakyat biasa. Istri Felipe, Letizia bekerja sebagai reporter televisi, sebelum menikah dengan Felipe. Perempuan yang percaya diri dan berkarakter hidup ini harus menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan perannya di istana Spanyol.

Budaya

Pernikahan di Tahun 2004

Walaupun kaum tradisionalis memprotes, tahun 2004 Felipe menikahi perempuan dari kalangan rakyat biasa itu di katedral Almudena di Madrid. Pernikahan yang dihadiri 1.400 tamu itu dianggap peristiwa selebriti paling besar setelah pernikahan Pangeran Charles dengan Putri Diana. Mulai hari itu, Letizia bergelar Putri Asturias.

Budaya

Mertua sebagai Panutan?

Tersenyum di depan kamera. Kabarnya, hubungan antara Letizia dan ibu mertua Sofía tegang. Tapi Letizia harus berterimakasih kepada Sofía. Karena cucu supir taksi itu harus belajar banyak tentang tata cara keistanaan, dan Sofía jadi gurunya. Sebaliknya banyak orang Spanyol menyambut baik Letizia sebagai angin segar di dunia monarki.

Budaya

Perpisahan Tak Disangka

Raja yang mengundurkan diri dan istrinya Sofía boleh mempertahankan gelar mereka sebagai "Raja" dan "Ratu" seumur hidup. Sesuai tata cara istana, mereka juga tetap akan disapa sebagai "Sri Baginda". Pengunduran diri Juan Carlos mengejutkan banyak orang. Situasi ini bahkan tidak diperhitungkan dalam konstitusi, sehingga parlemen harus merumuskan pasal tambahan.

Budaya

Pemimpin Yang Dipertanyakan

Dalam beberapa tahun terakhir, Juan Carlos kehilangan popularitas. Ia dapat kritik keras, setelah mengadakan perjalanan safari mahal ke Botswana untuk berburu gajah, ketika negara sedang menghadapi krisis ekonomi yang dramatis. Selain itu, skandal korupsi mencoreng citra kerajaan. Selain itu, raja berusia 79 tahun tersebut juga punya masalah kesehatan.

Budaya

Tolak Juan Carlos dan Felipe

Walaupun banyak orang Spanyol menyambut pemahkotaan Felipe dengan gembira, banyak juga yang menolak sistem monarki. Di Madrid saja, sekitar 20.000 penentang monarki berdemonstrasi setelah Juan Carlos turun tahta. Tetapi jajak pendapat terakhir menunjukkan, sebagian besar orang Spanyol tetap dukung monarki.

(na/ts)

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia.  Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.

Konten terkait