1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiAsia

Sri Mulyani Sebut Ekonomi RI Mulai Pulih

Detik News
19 Oktober 2020

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa neraca perdagangan migas dan nonmigas mengalami surplus di bulan September. Sri Mulyani juga menyampaikan nilai tukar rupiah terus menguat.

https://p.dw.com/p/3k7Ay
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani IndrawatiFoto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Rusman

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekonomi Indonesia mulai kembali bangkit pada September lalu. Dia bilang, hal tersebut ditunjukkan lewat berbagai indikator ekonomi dan keuangan.

"Ada recovery September setelah Agustus menurun dari sisi month to month (mtm). Ini tanda positif bagi pemulihan ekonomi bagi industri yang kita lihat," katanya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Senin (19/10).

Indikator pertama dari neraca perdagangan yang didorong oleh momentum perbaikan ekonomi global. Neraca perdagangan nonmigas Indonesia tercatat surplus meski hal tersebut lebih didorong oleh impor yang tertekan cukup dalam.

"Ekspor September didorong pertumbuhan migas 17,4 persen dan nonmigas 6,47 persen secara mtm, kalau komoditas kelapa sawit dan logam mulai berikan dampak positif," katanya.

"Kalau di-breakdown, impor bahan baku 69,5 persen mengalami pertumbuhan positif mtm di 6,97 persen. Ini bagus ini momentumnya bahan baku dan penolong sudah positif sejak Juli-Agustus-September trennya solid," lanjutnya.

Sementara dari indikator keuangan, nilai tukar rupiah yang membaik dan kupon surat berharga negara yang mengalami penurunan menjadi berita positif.

"Ini tren gambarkan outlook membaik," kata Sri Mulyani.

Ekonomi dunia juga mulai pulih

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dalam pertemuan tahunan World Bank-IMF pekan ini diproyeksikan bahwa kontraksi ekonomi pada tahun ini tidak sedalam yang terjadi pada Juni 2020. Ekonomi global mengalami kontraksi minus 5,2% pada Juni berdasarkan data IMF dan kontraksinya diproyeksi mereda menjadi minus 4,4% tahun ini.

"Ini artinya beberapa daerah, utamanya negara advance ada pemulihan cepat di kuartal III. Pada bulan lalu kontraksi di semua negara mengalami kontraksi yang sangat dalam," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual APBN KiTA, Senin (19/10).

Lembaga internasional lainnya, OECD juga memproyeksi ekonomi global minus 4,5% tahun ini. Sedangkan berdasarkan data OECD, pada Juni terjadi kontraksi hingga minus 7,6%.

Sri Mulyani melanjutkan, ekonomi dunia tahun depan diperkirakan tumbuh di kisaran 4,2-5,2% berdasarkan proyeksi dari IMF, OECD, dan World Bank. IMF memproyeksi ekonomi global tumbuh 5,2%, OECD 5%, dan World Bank 4,2%.

"Risiko utama tetap sama apakah COVID bisa dikelola, terutama ancaman second wave dan apakah kesediaan vaksin berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Meski banyak pandangan soal vaksin ini, tapi outlook-nya sudah ada penyediaan vaksin," tuturnya. (Ed: rap/pkp)

 

Baca selengkapnya di: DetikNews

Ekonomi RI Disebut Mulai Pulih, Ini Buktinya

Sri Mulyani Ungkap Angin Segar Ekonomi Dunia, Apa Itu?