1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Yunani Masih Belum Keluar dari Krisis

11 Mei 2011

Mogok massal di Yunani, Rabu (11/05), menyebabkan terhentinya semua layanan publik, termasuk di bidang transportasi. Protes besar ini menentang langkah penghematan pemerintah untuk menghindari bangkrut.

https://p.dw.com/p/11Dev
Gambar simbol krisis keuangan YunanaiFoto: DW/AP

"Kami memrotes keras kebijakan tidak adil yang mendorong pengangguran dan menginjak-injak hak buruh," begitu seruan wakil serikat buruh pada aksi unjuk rasa. Mogok massal ke-dua yang digelar tahun 2011 ini kembali melumpuhkan aktifitas ekonomi di Yunani selama sehari. Aksinya digelar seiring berkumpulnya para pakar Uni Eropa, Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Sentral Eropa ECB di ibukota Athena. Para ekonom ini tengah meng-audit reformasi dan situasi keuangan Yunani guna memastikan terpenuhinya persyaratan bagi negara itu untuk bisa menerima bantuan selanjutnya dari paket penyelamatan yang disepakati tahun lalu.

Nyatanya, capaian pemerintah Perdana Menteri Yunani Giorgios Papandreou tidak kecil, dalam 12 bulan terakhir. Rangkaian paket penghematannya berhasil merampingkan jumlah pegawai negeri dan mengurangi defisit negara sebanyak 5%. (dari 15,4 turun menjadi 10,5%). Penghematan berhasil dilakukan oleh pemerintah Sosial Demokrat Yunani meskipun ditentang dengan aksi-aksi protes selama berbulan-bulan.

Bahwa langkah tersebut bakal mengurangi popularitas partai dalam pemilu mendatang, ditanggapi tegas oleh Perdana Menteri Papandreou, "Kami ingin agar Yunani betul-betul berubah, tanpa memikirkan harga politik yang kami hadapi."

Namun langkah pemerintah Papandreou ini bagai pisau bersisi dua. Potongan tajam pada anggaran belanja negara mengakibatkan berkurangnya pemasukan pajak. Pasalnya, bertambahnya pengangguran juga berarti seretnya kemampuan finansial rakyat dan menyebabkan mereka untuk mengurangi pengeluaran. Alhasil, ekonomi negara pun menyusut. Tahun 2010 lalu produk brutto nasional turun 4,5 %. Yunani dilanda resesi.

Sejumlah pengamat menilai, untuk keluar dari resesi Yunani membutuhkan investasi asing. Ini dapat membantu menumbuhkan ekonomi dan meningkatkan pemasukan pajak. Jurnalis ekonomi Kostis Papadimitriou di Athena menjelaskan, "Reformasi baru akan membuahkan hasil, bila dilakukan pada saat ekonomi menanjak. Bukan sekarang, saat ekonomi menyusut. Dalam situasi ini pemerintah tidak bisa menambah pemasukan pajak. Bila ekonomi kembali bangkit, pemasukan pajak bisa dengan cepat meningkat lagi."

Namun ekonomi Yunani tahun 2011 diperkirakan akan menyusut sedikitnya 3 persen. Penghematan lebih lanjut tampaknya akan sulit dilakukan. Hal yang bisa meringankan adalah bila Yunani mendapat waktu lebih lama untuk mengembalikan kredit bantuan internasional yang mencapai 110 milyar Euro, atau bila sukubunga untuk kredit itu diturunkan. Dan bila kedua langkah itu masih belum cukup, maka opsi pemotongan utang bisa dipertimbangkan kembali. Tapi masalahnya, pemotongan utang Yunani bisa berdampak di dalam maupun di luar negeri.

Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk