1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialYunani

Yunani Akui Kegagalan Puluhan Tahun dalam Sistem Kereta Api

3 Maret 2023

Menurut pemerintah Yunani, manajer stasiun kereta api telah ditangkap dan mengaku bertanggung jawab. Korban tewas terus bertambah usai tragedi kereta api terburuk di negara itu.

https://p.dw.com/p/4OC4l
Tim penyelamat beroperasi di lokasi kecelakaan, di mana dua kereta bertabrakan, di dekat Kota Larissa, Yunani
Tabrakan terjadi di dekat Kota Larissa, di jalur kereta api antara dua kota terbesar Yunani, Athena dan ThessalonikiFoto: Kostas Mantziaris/REUTERS

Pemerintah Yunani pada Kamis (02/03) mengakui kegagalan dalam sistem perkeretaapian negara karena jumlah korban tewas meningkat menjadi 46 jiwa setelah dua kereta bertabrakan dalam tragedi kereta api terburuk di Yunani.

Juru bicara Dinas Pemadam Kebakaran Yiannis Artopios mengatakan, prosedur pemulihan yang suram sedang berlangsung "sentimeter demi sentimeter" sementara Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis mengatakan bahwa "sayangnya, semuanya menunjukkan bahwa drama itu disebabkan oleh kesalahan manusia yang tragis."

Menteri Perhubungan Kostas Karamanlis telah mengundurkan diri setelah kecelakaan itu dan terjadi protes kemarahan.

Penundaan kronis dalam pelaksanaan pekerjaan perkeretaapian

Penyelidikan atas tragedi tersebut akan berfokus pada "penundaan kronis dalam pelaksanaan pekerjaan kereta api, penundaan yang disebabkan oleh ketidakberesan kronis sektor publik, dan kegagalan publik puluhan tahun," kata juru bicara pemerintah Yiannis Economou kepada wartawan di Athena.

"Saya percaya tanggung jawab kelalaian, kesalahan telah diakui oleh kepala stasiun," kata Economou.

Manajer stasiun yang berusia 59 tahun telah ditangkap setelah tragedi di mana dua gerbong hancur dan sebuah gerbong restoran terbakar, menjebak para korban di dalamnya.

Kecelakaan fatal memicu protes

Pada Rabu (01/03) malam, pengunjuk rasa melemparkan batu ke kantor perusahaan kereta api di Athena, sebelum dibubarkan oleh polisi anti huru-hara menggunakan gas air mata. Kemarahan juga tumpah ke jalan-jalan Thessaloniki, kota terbesar kedua di Yunani dan menjadi tujuan salah satu kereta api yang terlibat dalam tabrakan tersebut, sementara kereta lainnya adalah kereta barang.

Pada hari Kamis (02/03), kereta dihentikan dalam satu hari pemogokan terhadap apa yang diklaim oleh serikat pekerja sebagai penolakan pemerintah berturut-turut untuk mendengarkan tuntutan soal meningkatkan keselamatan berkali-kali.

Kereta api pemerintah telah diperingatkan tentang potensi kecelakaan

Perusahaan kereta api pemerintah Yunani, OSE, telah banyak dikritik setelah kecelakaan itu. Menurut laporan media, anggota serikat pekerja kereta api telah lama memperingatkan kemungkinan kecelakaan karena sistem kontrol elektronik di jalur Athena-Thessaloniki tidak berfungsi dengan baik.

Menurut surat kabar Naftemporiki, peringatan terbaru datang sekitar tiga minggu lalu yang melaporkan bahwa telah terjadi kecelakaan kecil berulang kali atau nyaris terjadi di sepanjang rute di antara kedua kota tersebut.

"Selama tidak ada tindakan perlindungan yang diambil untuk tempat kerja dan operasi serta lalu linta kereta api yang aman kecelakaan tidak akan berhenti," kata surat serikat pekerja, tertanggal 7 Februari.

Komunikasi tersebut menunjukkan situasi berbahaya tidak bisa lagi ditoleransi. "Tunggu apalagi untuk campur tangan? Apalagi yang harus terjadi?"

Surat lain yang dikirim oleh Asosiasi Pengemudi Kereta Api ke Kementerian Perhubungan pada November lalu juga menyoroti hal yang kurang memuaskan.

Tragedi kereta api terburuk di Yunani

Tabrakan itu terjadi sekitar pukul 23:30 waktu setempat pada Selasa (29/02) di dekat Larissa di Lembah Tempe Thessaly, sekitar 2380 kilometer di utara Athena, di jalur kereta api utama antara ibu kota dan Thessaloniki.

Kereta penumpang dengan 342 penumpang dan 10 pegawai kereta api di dalamnya menabrak kereta barang yang menuju ke arah berlawanan di jalur yang sama, kata para pejabat berwenang. Kesepuluh pegawai kereta api diyakini tewas dalam tragedi itu.

yas/ha (AFP, AP, Reuters, dpa)