1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Misi Pertama Uni Emirat Arab ke Mars  

12 Juni 2020

Misi luar angkasa Uni Emirat Arab pertama ke Mars, yang dilengkapi dengan pesawat penjelajah untuk mempelajari atmosfer planet merah dirancang untuk menginspirasi kaum muda di kawasan Teluk dan terobosan ilmiah. 

https://p.dw.com/p/3dgFC
VAE Dubai Mohammed Bin Rashid Space Centre
Persiapan misi luar angkasa UEA makin matangFoto: AFP/K. Sahib

Pesawat luar angkasa tak berawak Al Amal – yang artinya adalah „harapan“- akan diluncurkan dari pusat ruang angkasa Jepang pada  tanggal 15 Juli. Proyek akbar itu kini memasuki tahap persiapan akhir. 

 

Misi ini adalah langkah raksasa berikutnya bagi Uni Emirat Arab (UEA), negara yang gedung pencakar langit dan megaproyek kolosalnya telah menempatkan kawasan itu di peta dunia. 

UEA mengirim astronot pertamanya ke luar angkasa tahun lalu dan juga berencana untuk membangun "Kota Sains" untuk mereplikasi kondisi di Mars, di mana mereka berharap untuk membangun pemukiman manusia pada tahun 2117. 

Omran Sharaf, manajer proyek misi mengatakan, terlepas dari tujuan ilmiah yang ambisius, misi itu dirancang untuk mengingatkan kembali ke zaman keemasan pencapaian budaya dan ilmu pengetahuan di kawasan Arab. 

Hidup berdampingan 

"UEA ingin mengirim pesan kuat kepada para pemuda Arab dan untuk mengingatkan mereka tentang masa lalu, bahwa kita dulunya adalah generator ilmu pengetahuan," katanya kepada AFP. 

"Orang-orang dari berbagai latar belakang dan agama hidup berdampingan dan berbagi identitas yang sama," katanya tentang dunia Arab, di mana  saat ini banyak negara dilanda konflik sektarian dan krisis ekonomi. 

"Kesampingkan perbedaanmu, fokus membangun daerah, kamu memiliki sejarah yang kaya dan kamu bisa melakukan lebih banyak hal lagi," seru Sharaf. 

Dampak ilmiah 

Sarah al-Amiri, wakil manajer proyek misi itu, mengatakan sangat penting bahwa proyek tersebut memiliki dampak ilmiah jangka panjang. 

"Ini bukan misi yang berumur pendek, melainkan misi yang berkelanjutan selama bertahun-tahun dan menghasilkan temuan ilmiah yang berharga – baik yang dilakukan oleh para peneliti di UEA atau secara global," katanya kepada AFP. 

Dia mengatakan bahwa misi ini akan memberikan gambaran yang komprehensif tentang dinamika cuaca di atmosfer Mars dengan menggunakan tiga instrumen ilmiah. Yang pertama adalah penggunaan spektrometer inframerah untuk mengukur atmosfer dekat permukaan planet merah itu dan menganalisis struktur suhunya. 

Yang kedua, memanfaatkan pembuat citra resolusi tinggi yang akan memberikan informasi tentang ozon; dan yang ketiga, penggunaan spektrometer ultraviolet untuk mengukur kadar oksigen dan hidrogen dari jarak hingga 43.000 kilometer dari permukaan. 

Tiga alat ini akan memungkinkan para peneliti untuk mengamati Planet Merah "setiap saat dan sepanjang hari dan mengamati semua yang terjadi di Mars dalam waktu-waktu waktu yang berbeda", tambah Amiri. 

"Sesuatu yang ingin kita pahami dengan lebih baik, dan itu penting bagi dinamika planet secara keseluruhan, adalah  penyebab hilangnya atmosfer dan bagaimana sistem cuaca di Mars berdampak pada hilangnya hidrogen dan oksigen," kata wakil manajer proyek itu, merujuk pada dua komponen yang membentuk air. 

Harapan akan kelancaran misi  

Sharaf mengatakan bahwa peluncuran proyek bergengsi ini akan dilaksanakan beberapa minggu ke depan dari Tanegashima Space Center Jepang dan akan kembali ke Bumi pada bulan Februari 2021, tergantung pada banyaknya variabel, termasuk cuaca. 

"Jika kita kehilangan peluang peluncuran, yaitu antara pertengahan Juli dan awal Agustus, maka kita harus menunggu dua tahun lagi," kata Sharaf. Mereka menaruh harapan  besar bahwa misi akan berlangsung sesuai jadwal, dan tidak akan terganggu oleh pandemi corona. 

Sebagai penanda baru hubungan yang selama ini panas antara Israel dan negara-negara Teluk, Israel berharap UEA berhasil dengan misi luar angkasanya. Kami "berharap langkah ini akan berkontribusi pada kerja sama yang lebih dalam antara semua negara di kawasan ini," tulis akun Twitter kementerian luar negeri Israel dalam bahasa Arab. 

 

ap/as(afp)