1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiJerman

Olaf Scholz di Davos: Rusia Harus Gagal agar Perang Berakhir

Mark Hallam
19 Januari 2023

Kanselir Jerman Olaf Scholz jadi satu-satunya pemimpin G7 yang berpidato di gelaran WEF tahun ini. Dalam kesempatan itu, ia mengatakan invasi Rusia ke Ukraina telah mengacaukan sebagian besar tatanan dunia.

https://p.dw.com/p/4MPFS
Kanselir Jerman Olaf Schols berpidato menggunakan bahasa Inggris di Forum Ekonomi Dunia (WEF) tahun ini, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Foto: Arnd Wiegmann/REUTERS

Saat berpidato di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos pada Rabu (18/01), Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 telah membuat dunia kacau balau.

Pidato itu disampaikan Scholz dalam bahasa Inggris, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.

"Di awal 2022, banyak orang mengharapkan lonjakan (ekonomi) atau setidaknya dorongan substansial untuk transisi ekonomi kita menuju netralitas iklim, tapi kemudian muncul 24 Februari,” kata Scholz merujuk pada tanggal dimulainya invasi Rusia ke Ukraina.

Menurut Sholz, perang tersebut "berdampak pada semua”, terutama bagi Ukraina. Ia menyinggung tentang kematian menteri dalam negeri Ukraina dalam sebuah kecelakaan helikopter pada Rabu (18/01), seraya menyampaikan belasungkawanya.

Scholz menjadi satu-satunya pemimpin G7 yang berpidato di WEF tahun ini.

Meski relevansi pertemuan puncak yang utamanya hanya menyatukan orang super kaya dunia itu semakin dipertanyakan, ikatan Berlin dengan acara tersebut secara tradisional sangat kuat.

Pendiri forum tersebut adalah seorang ekonom Jerman, Klaus Schwab.

"Rusia harus gagal”

Scholz melanjutkan pidatonya dengan menyebut bahwa "Rusia telah gagal total dalam mencapai tujuan imperialisnya.”

"Ukraina membela dirinya dengan keberanian yang mengesankan,” tambahnya.

Scholz juga mengatakan bahwa "Rusia harus gagal” agar konflik di Eropa Timur berakhir. "Itulah sebabnya kami terus menyuplai sistem senjata ke Ukraina, bersama dengan mitra kami,” ujarnya.

Scholz merinci beberapa senjata yang telah dikirimkan Jerman ke Ukraina sejauh ini, termasuk di antaranya rudal IRIS-T, salah satu rudal termutakhir yang lebih canggih dan kendaraan lapis baja Marders (musang dalam bahasa Indonesia). Jerman menamai sebagian besar kendaraan militernya dengan nama hewan.

Dorongan dari beberapa sekutu NATO terkait pengiriman tank Leopard 2 dari Jerman untuk Ukraina tidak disinggung oleh Scholz. Meski begitu, topik tersebut kemungkinan besar akan dibahas secara tertutup dalam pertemuan para menteri pertahanan NATO yang dijadwalkan pada Jumat (20/01) di Pangkalan Udara Ramstein AS di Jerman.

Di saat yang sama, Scholz juga mengungkap bahwa Jerman telah menyediakan "lebih dari €12 miliar” untuk Ukraina dan memastikan akan terus mendukung negara itu "selama diperlukan.”

Dia juga menyerukan agar sektor swasta memainkan "peran kunci” dalam sebuah rencana baru bernama "Rencana Marshall untuk Ukraina.” Rencana tersebut sebelumnya direkomendasikan oleh Scholz dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Oktober lalu.

Jerman kini "sepenuhnya independen” dari energi Rusia

"Dalam beberapa bulan, Jerman telah membuat dirinya benar-benar independen dari gas Rusia, minyak Rusia, dan batu bara Rusia,” lanjut Scholz dalam pidatonya.

Ia menyinggung tentang beberapa terminal penyimpanan gas alam cair (LNG) baru yang saat ini sudah beroperasi atau yang tengah direncanakan di Jerman.

Kabar baik ini adalah "untuk keamanan energi kita, dan tetangga kita di Eropa,” katanya.

"Saya dapat memastikan bahwa pasokan energi kita untuk musim dingin kali ini aman,” tambahnya.

Scholz juga mencatat ada perlambatan bertahap dari tingkat inflasi yang masih tinggi, seraya memuji "langkah tegas” bank sentral dalam memperlambat inflasi.

Banyak berbicara tentang iklim

Meski menyinggung tentang perang Rusia di Ukraina, pidato Scholz di WEF tahun ini lebih banyak berbicara tentang perubahan iklim, energi hijau dan transisi industri, serta tujuan Jerman mencapai netralitas iklim pada tahun 2045.

Menurut Scholz, dengan melonjaknya harga energi akibat invasi Rusia ditambah semakin banyaknya bencana alam di seluruh dunia, menjadi jelas bahwa "masa depan hanya milik energi terbarukan.”

Ia juga mencoba berargumen bahwa Jerman saat ini sedang berusaha melepaskan reputasinya sebagai negara yang terlalu birokratis, dengan mengatakan bahwa tahun 2022 telah menunjukkan "Jerman bisa fleksibel … dan bisa menjadi lebih cepat.”

"Kami akan menyediakan tidak kurang dari 2% dari negara kami untuk tenaga angin dengan birokrasi minimum,” katanya.

Meskipun Jerman menjadi salah satu pemimpin dunia dalam hal pangsa listrik dari energi terbarukan, kemajuannya dalam hal ini mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian disebabkan adanya penolakan politik dan publik terkait pembangunan turbin angin darat.

Menurut Scholz, transisi hijau seharusnya tidak menjadi akhir dari kekuatan industri, tetapi menjadi awal yang baru.

(gtp/ha)